20 August 2017

Negeri Dongeng : Perjalanan Menjelajahi Puncak-Puncak Tertinggi Indonesia

Ada yang suka naik gunung bersama teman-temannya ? Saya pribadi waktu SMA sempat bergabung dalam organisasi pencinta alam dan sempat menjelajah beberapa gunung. Kegiatan mendaki gunung belakangan ini semakin disukai oleh banyak anak-anak muda. Bergabung atau tidak bergabung di organisasi pencinta alam, tidak menyurutkan minat untuk naik gunung. Tapi sayang, karena banyak yang naik gunung tanpa pembekalan yang cukup, akibatnya ada oknum-oknum yang merusak alam seperti meninggalkan sampah di gunung dan merusak alam. Ngomong-ngomong soal gunung, tanggal 17 Agustus lalu saya diundang special screening film Negeri Dongeng. Mau tahu seperti apa film nya ? Simak yuk dalam Catatan Si Goiq kali ini.

Film Negeri Dongeng adalah sebuah film dokumentar yang menceritakan perjalanan Anggi Frisca dan rekan-rekannya mendaki 7 puncak tertingggi yang tersebar di pulau-pulau besar Indonesia. Dimulai dari Gunung Kerinci yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Sumatera, lalu berlanjut ke Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa, lalu Gunung Rinjani yang mrupakan gunung tertinggi di kepulauan Bali dan Nusa Tenggara, mereka juga singgah di Gunung Bukit Raya Kalimantan, lalu ke Gunung Rante Mario di Sulawesi, terus mendaki Gunung Latimojong di Sulawesi, Gunung Binaiya di Maluku dan Puncak Cartenz di Papua. Misi mereka tidak hanya menaklukkan puncak-puncak tertinggi di Indonesia semata, tapi juga melakukan interaksi dengan penduduk setempat.

Film Negeri Dongeng sendiri pengambilan gambarnya dilakukan secara natural saat proses pendakian berlangsung selama kurun waktu 2 tahun, dimulai dari bulan November 2014 hingga bulan April 2016. Film ini juga menghadirkan beberapa nama yang sudah familiar dengan kegiatan alam bebas seperti Nadine Chandrawinata, Medina Kamil, Darius Sinatria dan Mathew Tandioputra yang merupakan pendaki termuda yang sudah mendaki banyak gunung di Indonesia. Selain itu film ini juga melibatkan 32.000 pendukung melalui kegiatan bootcamps selama pendakian berlangsung. Film ini memperlihatkan bagaimana sulitnya medan yang harus ditempuh seorang pendaki ketika mendaki gunung. Juga kesulitan-kesulitan yang bisa saja ditemui seperti mata air yang kering, rekan yang sakit, belum lagi kabar duka yang diterima anggota team yang memaksanya harus kembali di tengah ekspedisi. 

Kendala-kendala yang ditemui saat mendaki gunung yang dihadirkan dalam film Negeri Dongeng ini seharusnya dapat menjadi sebuah pelajaran bagi teman-teman yang ingin mendaki gunung, bahwa mendaki gunung itu tidak cukup dengan modal semangat saja. Butuh sebuah persiapan yang sangat matang, seperti latihan fisik dan alat-alat pendakian standar seperti sleeping bag, matras, jaket, sepatu, dan sebagainya. Juga persiapan bagaimana bila kita menemui kendala-kendala yang bisa saja terjadi seperti mata air kering. Tentunya kita harus punya beberapa rencana untuk menghadapi situasi-situasi semacam itu. Dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita bisa menjaga alam dengan tidak berkontribusi untuk meninggalkan sampah di gunung. 

Di luar kendala-kendala yang mungkin kita temukan, Negeri Dongeng juga mengingatkan saya bahwa sebuah perjalanan mendaki gunung meninggalkan banyak cerita indah yang pasti akan menjadi kenang-kenangan seumur hidup. Bahwa teman-teman mendaki itu akan menjadi saudara-saudara terbaik yang kita punya. Kita mungkin tidak menikah atau pacaran, tapi kita bisa tidur bersama bahkan bisa jadi hampir mati bersama. Saya pikir film Negeri Dongeng ini dapat menjadi sebuah pembelajaran yang sangat baik bagi teman-teman yang punya rencana untuk mendaki gunung dalam waktu dekat. Nantikan kehadiran film Negeri Dongeng mulai bulan September 2017 di bioskop-bioskop kesayangan kamu.

18 August 2017

Drama Ojek Online


Sudah beberapa tahun ini saya setia sekali menggunakan jasa ojek online untuk mengantarkan saya ke berbagai tempat di seluruh Jakarta. Mulai dari mengantarkan saya pergi pulang kantor, sampai mengantarkan saya untuk berbagai aktifitas lainnya. Dan belakangan ini saya menemukan beberapa drama yang sering saya jadikan bahan pelipur lara di beberapa akun social media yang saya miliki. Nah, hari ini saya akan bercerita beberapa drama ojek online yang lumayan sering saya alami belakangan ini. Simak yuk dalam Catatan Si Goiq kali ini. 

1. Diminta Cancel

Saya memang jarang melakukan pembayaran ojek online dengan metode bayar tunai. Saya selalu mengisi saldo dalam akun aplikasi ojek online yang saya gunakan. Dan perusahaan yang menyediakan jasa aplikasi ojek online ini juga sepertinya berlomba memberikan harga diskon yang menggiurkan untuk pembayaran melalui metode ini. Tambah semangat kan saya untuk top up saldo saya sebanyak mungkin. Belum lagi kerjasama yang dilakukan dengan pihak ketiga yang membuat pembayaran jadi tambah mudah dan sarat dengan potongan harga. Memang menggiurkan dari sisi penumpang seperti saya, tapi ada kalanya kurang menyenangkan bagi sang driver. Tentunya mereka tetap butuh pembayaran tunai untuk operasional mereka sepeti BBM atau uang makan dan rokok. Awalnya hanya satu atau dua orang yang minta di cancel, belakangan hampir setiap hari saya menemukan drama minta cancel. Mana alasannya beragam banget setiap harinya. Mulai dari alasan sejuta umat seperti pecah ban sampai alasan yang bikin saya ngakak seperti kebelet pup sampai istri yang mules. Pada prinsipnya saya masih santai kok kalau driver memang tidak mau mengambil order saya. Tinggal di cancel saja yah selesai. Tapi belakangan ini saya naik darah karena mereka semua selalu minta saya yang cancel. Kan lucu, mereka yang ngga mau ambil order kok saya yang harus cancel. Ibarat orang pacaran, dia yang udah ngga cinta tapi kok maksa saya yang harus mutusin dia. Aneh ngga tuh ?? 

2. Parkir Di Rumah Tetangga

Saya selalu menuliskan dengan jelas alamat lengkap saya termasuk beberapa patokan yang memudahkan driver untuk menemukan rumah saya. Saya paham betul, tidak semua driver tentunya paham dengan wilayah rumah saya. Sudah menuliskan detail dengan jelas saja, kadang masih ada beberapa driver yang nyasar. Biasanya selain menuliskan alamat lengkap dan nomor rumah, saya juga menuliskan warna pagar rumah saya. Karena kebetulan tetangga kiri dan kanan warna pagarnya berbeda dengan warna pagar rumah, tentu akan lebih memudahkan para driver tersebut untuk menemukan rumah saya. Tapi beberapa kejadian, mereka dengan santai memarkirkan motornya di depan pagar rumah tetangga. Padahal kan sudah jelas warna pagarnya ngga sesuai keterangan. Kalau diumpamakan, dia nikahnya sama kita tapi tidurnya malah di rumah tetangga. Kan malesin !

3. Buta Arah

Tipikal yang satu ini selalu bikin saya gemas setengah mati. Saya mengerti, tidak semua orang hapal jalan. Saya juga paham betul, manusia itu bukan peta berjalan. Tapi masa sih ngga tau Kuningan, Gatot Subroto, Jalan Sudirman, atau Grogol yang notabene jalan besar di kota Jakarta ? Kalau ngga tahu jalan-jalan alternatif atau jalan-jalan tikus sih saya masih maklum. Saya yang ngga punya kendaraan saja masih berusaha untuk tahu jalan-jalan utama di Jakarta. Itu seperti sudah jadi standar wajib untuk saya pribadi. Lah, kalau driver ojek online yang cari uang dari mengantar orang ke berbagai tempat dan ngga tahu jalan-jalan utama di Jakarta itu kan bikin emosi jiwa. Kan bisa sebelum memulai jadi driver gojek online, belajar dulu jalur-jalur utama yang ada di Jakarta. Ibarat kata sih mau ngajakin nikah tapi ngga tahu nikah itu kaya gimana, minimal kan punya bayangan dulu lho.

4. Disorientasi Arah

Driver yang satu kadang sering satu paket dengan tipikal nomor 3. Beberapa driver yang disorientasi arah memang sering membuat kesal saat sedang dalam perjalanan. Kadang sudah ngga tahu jalan, kita kasih tahu belok kiri dia malah ke kanan. Kita minta ke kanan dia malah ke kiri. Mungkin beberapa orang berpikir saya mengada-ada, tapi saya beberapa kali lho mengalami kejadian semacam ini. Kalau kebetulan sudah terlanjur belok dan masuknya ke jalan kecil sih ngga terlalu masalah yah. Lah ini, tiba-tiba belok ke jalan yang buat muter baliknya jauh dan macet banget. Haduuuh.. Ini persis banget sama orang yang sering ngomong setia sama pasangan, tapi dia malah selingkuh dengan yang lain. Kan bikin emosi !

5. Belum Jalan Sudah di Complete

Kejadian seperti ini mungkin tidak sering terjadi. Apalagi sejak perusahaan penyedia layanan aplikasi ojek online semakin tegas terhadap segala bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh driver begitu mereka menerima aduan pelanggan. Tapi sekali dua kali, pernah juga lah saya mengalaminya. Jadi ketika order saya diterima oleh seorang driver, tiba-tiba order tersebut dinyatakan selesai. Padahal saya belum menelpon atau dihubungi oleh driver yang bersangkutan.Ibarat kata diajak nikah, belum juga akad nikah tiba-tiba sudah minta cerai. Ngga tahu lagi deh harus ngomong apa..

6. Tidak Ada Kabar

Tipikal ini mungkin salah satu yang paling bikin saya naik darah. Sudah ngambil order tapi tidak bisa dihubungi. Di telpon tidak diangkat, dikirim pesan tidak membalas. Begitu melihat GPS nya, ternyata driver yang bersangkutan malah berjalan menjauh dari lokasi tempat kita minta dijemput. Ini sih penolakan secara halus namanya. Kalau lagi baik hati, biasanya saya langsung cancel saja. Tapi kalau lagi jahat hati, biasanya saya biarkan saja dan memutuskan untuk pakai aplikasi ojek online yang lain. Sampai yang bersangkutan memilih untuk cancel sendiri. Hahahahaha... Kalau dalam hubungan percintaan, ini tipikal yang suka tebar-tebar rayuan maut. Begitu ada yang terjerat rayuan, eeeh dia malah menghilang...Periiih.

7. Susah Order Di Jam Pulang Kantor

Saya kan mikirnya perusahaan penyedia layanan aplikasi ojek online ini sudah ada beberapa dan drivernya juga banyak sekali. Malah selalu melakukan rekrutmen. Tapi saya cukup bingung kalau setiap jam pulang kantor saya selalu susah untuk mendapatkan ojek. Apalagi di hari terakhir bekerja seperti hari Jumat. Pernah aja tuh saya nunggu 1,5 jam sebelum akhirnya ada yang ambil pesanan saya. Padahal saya sudah coba beberapa aplikasi untuk mencari mana yang bisa cepat ambil order. Ternyata hasilnya tetap nihil. Ini sih ibarat nunggu jodoh, tapi kamu lagi di atas kapal kecil di tengah lautan. Siapa yang mau nyamber ???

8. Naik Motor Yang Salah

Beberapa teman cerita pernah naik motor yang salah saat pesan ojek online. Kalau saya ? Syukurnya sih saya belum pernah kejadian saat memesan. Tapi saya pernah kejadian salah naik motor saat di SPBU. Jadi ceritanya, ojek yang saya tumpangi harus isi BBM di SPBU. Karena antrian cukup panjang dan cuaca lumayan panas, saya memilih berteduh. Singkat kata, saya dihampiri oleh driver ojek online dan meminta saya naik. Yah saya naik dong. Baru jalan beberapa saat, hp saya berbunyi. Saya angkat dan ternyata itu driver ojek online yang sedang kebingungan mencari saya. Lah ternyata si abang yang ngangkut saya salah ngenalin penumpangnya. Saya yang diajak naik juga ngga pikir panjang pulak. Ini ceritanya kaya dua orang yang udah sepakat nikah, trus ditengah jalan calon pengantinnya ditikung sama yang lain. Duuuhhh...

9. Nanya Melulu

Kejadian ini saya alami beberapa kali saat mendapatkan driver ojek online yang tidak tahu jalan tapi juga rasa-rasa malas buat buka GPS. Jadilah dia minta saya pandu untuk menunjukkan jalan. Dalam satu jalan lurus yang panjang, saya bilang sama si abang untuk terus saja. Lah, setiap ketemu pertigaan atau perempatan dia nanya. Lurus mas ? Dan begitu terus setiap kami bertemu persimpangan. Padahal saya sudah bilang terus aja lho. Ini semacam orang yang baru jadian, trus ditanyain tiap menit : cinta ngga ? Sayang ngga ? Kangen ngga ? Kan males...

Itu dia beberapa cerita drama yang mewarnai hari-hari saya selama menjadi pelanggan setia ojek online. tulisan ini saya buat tidak untuk menjatuhkan profesi seorang driver ojek online lho. Faktanya saya tidak pernah melaporkan driver ojek online atau memberinya rating rendah kecuali mereka sudah dalam taraf merugikan saya seperti poin 5. Selebihnya saya masih menjadikan drama-drama itu sebagai warna dalam hidup saya. Ada yang sering drama juga bareng ojek online ? 

14 August 2017

Home Credit Indonesia Hadirkan Aplikasi Mobile My Home Credit


Tiba-tiba saya lagi mau membahas tentang teknologi nih. Nampaknya belakangan ini kita merasakan betul betapa teknologi sangat mempermudah hidup kita, terutama bermunculannya beragam aplikasi yang bisa dulu mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Misalnya perpustakaan digital, atau memantau rekening bank melalui aplikasi, kita juga bisa berkenalan dengan beragam orang dari belahan dunia hanya dengan mengunduh aplikasi di smartphone yang kita miliki. Bahkan kita bisa membaca kitab suci beserta terjemahannya dari aplikasi. Sesuatu banget kan ? Nah, kali ini saya mau memberi tahu pembaca Catatan Si Goiq mengenai sebuah aplikasi baru yang diluncurkan untuk kalian yang suka kredit barang-barang elektronik seperti gadget. Menarik kan ? Simak yuk.


Pagi itu saya sudah rapi jali mengenakan batik di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski untuk menghadiri undangan dari Home Credit Indonesia. Tahu dong Home Credit ? Atau mungkin sudah pernah jadi pelanggan ? Buat saya dan teman-teman yang cukup familiar dengan dunia cicil mencicil barang, harusnya sih sudah sangat familiar dengan brand Home Credit. Yup, karena Home Credit sendiri saat ini telah menjadi perusahaan pembiayaan dengan market share nomor 1 di Indonesia. Dan pagi itu saya menghadiri acara #LiveDigital Media Gathering yang juga dihadiri oleh cukup banyak teman-teman blogger. Jadi sekalian reuni kecil juga sih dengan mereka. Senangnya. Acara media gathering di dominasi dengan warna merah yang sudah jadi warna pakemnya Home Credit. Pas juga sih dengan suasana Agustus yang membara.


Acara dimulai dengan beberapa kata sambutan, diawali dengan ucapan selamat datang dari tuan rumah yang disampaikan oleh Miroslav Hlavac selaku Chief Marketing &Strategy Officer Home Credit Indonesia. lalu ada pula sambutan dari Ibu Roostiawati selaku Direktur Pengembangan Pasar Kerja Kementrian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, lalu ada Jakub Cerny perwakilan dari Kedutaan Ceko, dan Bapak Riswinandi dari OJK.

Acara berlanjut dengan speech dari Jaroslav Gaisler selaku CEO Home Credit Indonesia dan Andy Nahil Gultom selaku Chief External Affairs Home Credit Indonesia. Seperti yang saya katakan sebelumnya, Home Credit adalah sebuah perusahaan pembiayaan yang beroperasi di 11 negara. Home Credit sendiri berdiri sejak tahun 1997 dan fokus pada layananan jasa pinjaman dengan prosedur yang mudah dan ditujukan bagi orang-orang yang ingin memiliki barang tapi tidak punya kartu kredit. Kita juga bisa menyesuikan cicilan sesuai dengan kemampuan. Menarik bukan ?


Home Credit juga semakin memanjakan pelanggannya dengan menghadirkan layanan terbaru mereka, berupa aplikasi yang bernama My Home Credit. Aplikasi ini sudah dapat digunakan oleh para pengguna Android dan akan segara bisa dinikmati pula oleh pengguna iOS pada bulan Sepetmber yang akan datang. Walaupun belum lama diluncurkan, aplikasi ini sudah di download oleh lebih dari 180.000 user. Dengan adanya aplikasi ini, member Home Credit dapat mengakses informasi terbaru dari layanan Home Credit, termasuk memantau status cicilan, lokasi titik penjualan terdekat hingga berbagai promosi menarik untuk pelanggan. Asyik bukan ? Ngga cuma meluncurkan aplikasi, Home Credit juga menghadirkan layanan pembiayaan online, dimana kita bisa belanja online di sejumlah mitra Home Credit seperti Electronic Solution, Laku6, Sunda Motor, TokoPDA.com dan Arjuna Elektronik.

Home Credit bagi-bagi smartphone gratis!


Nah, buat teman-teman yang suka nulis dan ngeblog, say mau kasih tahu Lomba Blog #LiveDigital Home Credit nih . Caranya teman-teman cukup menuliskan sebuah artikel yang mengangkat tema seputar "Live Digital" atau "kemudahan hidup di era digital". Jangan lupa ulas juga mengenai aplikasi My Home Credit dan inovasi Home Credit Indonesia di era digital dengan panjang artikel minimal 500 kata. Hadiahnya ada smartphone keren Moto Z Play, Samsung galaxy A3 2017, Vivo V5 S dan hadiah hiburannya juga smartphone, lho. Ayo buruan ikutan lombanya, karena periode lomba hanya akan berlangsung hingga tanggal 31 Agustus 2017. Untuk info lengkapnya langsung klik di website Home Credit Indonesia yah.  Selamat menulis :)