11 February 2005

Kebahagiaan Abadi

Saya sering kali berpikir dan bertanya-tanya dalam hati. Apakah sebenarnya kebahagiaan itu ? Dulu saya berpikir, bahwa kebahagiaan itu akan di dapatkan bila segala yang saya inginkan terpenuhi. Tapi hati nurani saya tidak dapat memungkiri suatu hal, bahwa tidak semua yang kita inginkan dalam hidup ini akan terwujud. Salah satunya di karenakan sifat alamiah manusia yang tidak pernah puas. Tercapainya suatu keinginan adalah awal hadirnya keinginan yang lain.

Lantas sayapun kembali bertanya-tanya, apakah hakikat dan wujud konkrit dari kebahagiaan itu ? Dan sayapun kembali menemukan suatu kesimpulan sementara. Bahwa kebahagiaan akan saya dapatkan apabila saya dapat hidup dengan tenang dan damai di muka bumi ini. Tetapi kembali hati kecil saya membantahnya, hidup tenang tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Kita bisa saja berpura-pura menjalani hidup dengan tenang dan menyimpan rapat-rapat semua masalah dan beban yang ada. Tapi tetap saja tidak melulu ada kebahagiaan di dalamnya.

Dan sampai detik ini saya belum menemukan arti sebuah kebahagiaan. Saya hanya tahu bahwa saya akan bahagia apabila melihat orang lain bahagia. Khususnya kebahagiaan dua orang yang paling berarti di muka bumi ini, ayah dan ibu saya. Saya tidak akan pernah bahagia hidup di dunia ini, meskipun saya di karuniakan harta dan keluarga yang sakinah tapi ternyata saya tidak mampu untuk membahagiakan kedua orang tua saya. Kebahagiaan merekalah yang sesungguhnya adalah kebahagiaan saya yang abadi. Dan maafkanlah saya yang sampai detik ini belum mampu memberikan kebahagiaan kepada kalian berdua ayah dan ibu. Dua manusia yang menyebabkan saya terlahir kedunia ini. Walaupun terkadang saya tidak mengerti kalian atau sebaliknya kalian tidak mengerti keinginan-keinginan saya, hingga tak jarang kita cekcok, perang mulut, dan saling sindir.Tapi jauh di lubuk hati saya yang paling dalam, sayalah manusia yang paling mencintai kalian berdua. Cinta yang Insya Allah kekal sepanjang masa.

Gelang Pendidikan

Teman-teman yang sering main ke rumah saya pastilah sudah hapal bahwa sehari-harinya di rumah, saya lebih suka memakai boxer. Artinya mereka sudah hapal persis berapa jumlah bulu kaki saya yang tumbuhnya jarang-jarang itu, atau tanpa melihat pun mereka sudah tahu dimana letak luka-luka jahitan di kaki saya, mereka mungkin juga sudah muak melihat betapa seksy nya betis saya, dan tidak ketinggalan pula melihat sebuah benda yang melingkar di pergelangan kaki kanan saya, tepatnya sebuah gelang kaki yang saya ikat dengan menggunakan simpul nelayan. Tapi tidak banyak yang tahu makna yang terkandung di dalam gelang tersebut. Gelang ini sudah melingkar di pergelangan kaki saya sejak saya lulus SMU, artinya sampai saat ini gelang itu sudah menemani hari-hari saya selama 6 tahun.

Gelang kaki ini saya namakan gelang pendidikan. Dari pertama saya pasangkan di pergelangan kaki kanan belum pernah saya lepas sedetikpun. Artinya gelang ini selalu menemani saya saat mandi, tidur, buang air kecil maupun buang air besar dan semua kegiatan yang saya lakukan. Kenapa saya beri nama gelang pendidikan ?. Karena saya pernah bersumpah pada diri saya sendiri untuk tidak akan melepas gelang ini sampai saya memperoleh gelar S1. Gelang ini akan selalu menjadi motivasi saya untuk meraih gelar S1. Saya tidak pernah ambil pusing terhadap omongan orang tentang gelang di kaki saya ini. Kenapa saya pilih untuk memasang di kaki ? Karena setiap mandi pagi saya pasti selalu menyikat pergelangan kaki, dan dengan melihat gelang ini artinya setiap pagi saya akan termotivasi untuk meraih gelar S1. Selain itu ketika pertama kali saya memasangkan gelang ini, saya berpikir jika lulus jenjang D3 dan saya di terima bekerja, artinya saya harus melepas gelang ini. Sedangkan jika dipasang kaki, tentu tidak perlu harus di lepas-lepas karena gelang ini secara otomatis dapat tertutup oleh celana panjang dan kaos kaki. Dan ternyata pemikiran saya itu terbukti, sebelum saya lulus D3 saya di terima bekerja dan saya benar-benar tidak perlu melepas gelang ini meskipun saya bekerja.

Saya tahu akan tiba saatnya bagi saya untuk melepas gelang yang telah menemani saya selama 6 tahun terakhir ini. Tapi saya ingin bila saat itu tiba nanti, saya akan melepas nya dengan rasa bangga, karena gelang ini telah menjadi bagian dari perjuangan saya meraih gelar kesarjanaan ini. Siapa tahu setelah gelang pendidikan ini saya lepas, saya akan memasang gelang lainnya yang akan menjadi simbol motivasi saya dalam hal yang lain, jodoh misalnya. Dan saya juga berjanji untuk menyimpan gelang ini dimana kelak akan saya ceritakan pada anak-anak saya. Siapa tahu di antara mereka nanti ada yang terinspirasi untuk mengikuti jejak ayahnya. Insya Allah.

Laki-Laki Menangis ??Kenapa Tidak ??

Bagi kebanyakan laki-laki, menangis merupakan hal yang tabu untuk di lakukan. Saya tidak tahu persis sejak kapan hal tersebut mulai berlaku. Yang jelas saya masih sangat ingat ketika kecil dulu, ayah dan ibu selalu melarang anak laki-lakinya untuk menangis. Semakin kami besar larangan itu semakin gencar kami dengar. Ketika jatuh dari sepeda dan lutut saya berdarah karenanya, sayapun menangis karena tak kuasa menahan rasa sakit dari luka tersebut. Bukannya belaian lembut seorang ibu yang saya dapatkan ketika mengadu, malahan omelan yang lumayan pedas di telinga yang saya dapatkan. Ibu saya malah berkata,"luka begitu aja pake acara nangis segala, mau jadi bencong yah ?". Dan saya pun terpaksa berhenti menangis karena saya tidak mau di panggil bencong. Ayah dan ibu saya selalu menggunakan istilah bencong untuk menjuluki anak laki-laki yang cengeng. Dan menurut kami, julukan bencong itu adalah aib besar. Maka kami pun terpaksa berhenti menangis daripada mendapatkan julukan bencong.

Saat ini di usia saya yang tergolong dewasa, saya masih sering mendengar orang tua yang memarahi anak laki-lakinya yang menangis. Dan istilah bencong itu masih juga kerap terdengar untuk menjuluki anak laki-laki yang cengeng. Huhuhu... rupanya yang satu ini belum juga berubah dari zaman ke zaman. Bagaimana dengan saya sendiri ??? Jujur saja, saya masih suka menangis sampai sekarang. Tapi air mata saya itu bukan untuk konsumsi publik. Saya hanya menangis di dalam kamar dan tidak menjadikan menangis sebagai suatu kebutuhan pokok. Julukan bencong itupun sudah tidak mempan lagi untuk saya. Kenapa harus malu kalau menangis. Toh saya juga menangis sendirian, ngga ada yang tahu dan ngga ada yang lihat.Cuma saya dan Allah saja yang tahu. Toh Allah sampe detik ini ngga pernah menegur saya gara-gara saya suka menangis sendirian di kamar, apalagi ngatain saya bencong. Lagipula, saya merasa dengan menangis semua beban yang saya rasa di hati bisa hilang dalam sekejap. Dan saya juga punya prinsip, hanya boleh menangisi suatu masalah satu kali saja. Jadi tidak ada istilah bagi saya untuk menangisi masalah yang sama dua kali.

Menurut saya menangis itu jauh lebih baik daripada menyimpan semua beban di dalam hati. Bisa stress tuh.Saya sendiri setelah puas menangis semaleman, besoknya pikiran akan jauh lebih tenang untuk menghadapi masalah tersebut. Bukankah pikiran yang tenang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu masalah ? Tapi kalau saya pikir-pikir lagi, kasihan juga yah para bencong kalau mereka selalu di jadikan label atas kecengengan seorang laki-laki. Padahal saya pernah menyaksikan sebuah tayangan di televisi yang menampilkan kehidupan para waria, dimana salah seorang dari mereka mengeluarkan statement yang membantah bahwa mereka adalah kaum yang lemah dan cengeng serta lari dari kenyataan hidup. Waria itu bilang, kalau mereka cengeng dan hanya meratapi nasib, mereka tidak akan survive sampai detik ini. Dia juga berkata bahwa air mata tidak akan mengenyangkan perut mereka. Nah loh, apa masih pantes para waria atau bencong (begitu ibu saya menyebut mereka) menjadi simbol kecengengan seorang laki-laki ? Faktanya, saya pernah membaca sebuah buku yang menyatakan bahwa menangis akan membantu membuang kotoran-kotoran yang terdapat di mata. Jadi ?? Semua tergantung dari sudut mana anda memandang.