31 January 2006

Dulu Dan Sekarang

Tadi malam sewaktu melihat foto-foto lama sewaktu saya masih duduk di bangku SMP dan SMA dulu, saya jadi mempunyai ide untuk menampilkan foto teman saya beberapa tahun yang lalu dan foto mereka kini secara berdampingan. Dan saya semakin menyadari, manusia memang berubah. Entah karena waktu atau memang sudah seharusnya berubah.

1. Arum Juniardi a.k.a Didi

Image hosting by PhotobucketImage hosting by Photobucket

Didi adalah teman saya di bangku SMA. Dia juga junior saya di Gerakan Siswa Pencinta Alam SMA Negeri 3 Palembang. Jangan pernah tertipu dengan tampang gantengnya dan tanpa dosa yang di milikinya. Karena waktu SMA dulu Didi adalah siswa yang sangat badung. Seorang teman menjulukinya setan berwajah tampan. Sekarang ?? Didi tetap ganteng tapi tampaknya sudah menghilangkan sifat-sifat nakal dalam dirinya.

2. Lia Balkis a.k.a Iqbal

Image hosting by PhotobucketImage hosting by Photobucket

Iqbal ini rekan satu angkatan di SMA dan juga di Gersipala Ganesha. kami pernah sama-sama melakukan pendakian di Gunung Dempo. Iqbal ini adalah laki-laki yang terjebak dalam tubuh wanita. Ngga ada sisi feminim yang tampak dalam dirinya. Kecuali rok yang dia pakai saat sekolah. Sekarang ?? Kota Bandung telah merubahnya menjadi seorang wanita sesungguhnya. Bertutur kata lemah lembut, berdandan, dan sudah tidak sudi di panggil Iqbal. Katanya : panggil aku Lia...

3. Zaliansyah Fitriadi

Image hosting by PhotobucketImage hosting by Photobucket

Kak Jali, begitu saya memanggilnya dari dulu hingga sekarang. Kak jali ini adalah kakak kelas saya yang juga merupakan mantan siswa nomor wahid alias ketua OSIS di SMA Negeri 3 Palembang. Kak Jali yang saya kenal dulu adalah sosok yang rendah hati, alim, dewasa dan berbudi pekerti luhur. Sekarang ??? Masih sama seperti yang saya kenal dulu dan semakin matang tentunya.

4. Luvi Warsanti a.k.a Lupis

Image hosting by PhotobucketImage hosting by Photobucket

Lupis ini adalah teman sekelas saya di SMP Xaverius Maria. Kami waktu itu sama-sama duduk di kelas IF persis di sebelah WC cowo. Lupis yang saya kenal dulu adalah sosok cewe cerewet tapi tidak pelit. Saya ingat dia pernah memberika saya contekan waktu ulangan umum. Sayangnya sejak lulus SMP, kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Dan kami di pertemukan lagi oleh friendster. Dan Lupis sekarang ?? Tambah cantik tentunya...

5. Tony Ardiansyah

Image hosting by PhotobucketImage hosting by Photobucket

Tony ini adalah teman saya sejak duduk di bangku SMP sampai sekarang. Sejak SMP badannya yang tinggi besar itu sangat mendukung hoby nya berolahraga basket. Sewaktu SMA banyak sekali kegilaan yang pernah kami lakukan bersama. Salah satunya mengajak alm.kakek saya nonton bokep. Sekarang ?? Tony masih semangat bermain basket, dan bisa memanfaatkan hoby nya untuk mencari uang. Tetep tinggi besar hanya harus di tambah satu kata lagi gendut. Jadi lengkap tinggi,besar dan gendut.

6. Nyimas Hikmah Susanty a.k.a Cimenk

Image hosting by PhotobucketImage hosting by Photobucket

Namanya sangat bagus. Hanya karena nama Nyimas itu adalah nama keturunan kerajaan Palembang yang artinya banyak orang yg memakainya sedangkan nama panggilannya Santy juga nama pasaran. Akhirnya spontanitas saya memangilnya Nyimeng dan seiring berjalannya waktu saya memanggilnya Cimenk. Rupanya nama panggilan saya itu kini menjadi nick namenya sampai sekarang. Cimenk itu adalah junior saya di Gersipala Ganesha SMAN 3. Cimenk saya kenal dulu itu adalah sosok yang gendut, rambutnya kribo dan manja sekali pada saya. Sekarang ?? Lagi-lagi kota Bandung telah menyulap warga Palembang menjadi kurus, pinter dandan dan.... Ouchhh kemana rambut kribomu Menk ???

7. Ikrom a.k.a Jirom

Image hosting by PhotobucketImage hosting by Photobucket

Jirom ini sebenarnya adalah sahabat abang saya di bangku SMA Negeri 6 Palembang. Tetapi karena seringnya main kerumah, kami sekeluarga menganggapnya sebagai bagian dari anggota keluarga kami. Bahkan saat liburan ke Jakarta dan Bandung, Jirom pun di ajak serta. Jirom itu mukanya petak, sampai sepupu saya Doni memanggilnya Spion. Hehehe. Tapi dia ini baik hati dan sering menjadi penengah jika saya dan abang sedang kumat pengen baku hantam. Setelah tamat SMA, dia pun menghilang entah kemana dan baru menunjukkan penampakannya di rumah Lebaran kemaren bersama calon istrinya. Jirom yang sekarang ?? Mash seperti dulu, Jaim kalo di depan pacarnya, ketawa khasnya pun masih terdengar di telinga saya. Hanya saja dia lebih dewasa di bandingkan dulu dan pipi serta perutnya sudah berisi lemak. Gyahahaha...

8. Sri Merkurini a.k.a Rini

Image hosting by PhotobucketImage hosting by Photobucket

Rini ini selain teman satu angkatan di SMAN 3, juga teman satu organisasi Gersipala Ganesha. Dari dulu rumahnya Rini selalu di jadikan base camp oleh anak-anak. Kebiasaan yang masih berlanjut hingga sekarang. Rini yang dulu saya kenal adalah sosok berkulit gelap yang tomboy. Beberapa teman memanggilnya Rini Tomboy. Sekarang ?? Sudah lebih feminim meskipun sifat machonya masih kerap keluar.

9. Tommy Juniardi

Image hosting by PhotobucketImage hosting by Photobucket

Kak Tom, begitu saya memanggilnya. Kakak kelas saya sewaktu SMA dulu yang juga merangkap ketua organisasi PMR. Kak Tomy yang saya kenal dulu adalah sosok pendiam dan cerdas. Pernah mendapatkan beasiswa, bahkan kalo tidak salah juga lulus di Perguruan Tinggi Negeri tanpa tes. Ckckckc... Kami bertemu kembali saat menjadi panitia Reuni Akbar SMAN 3 bulan November lalu. Kesan sekarang ?? Saya sedikit pangling. Sejak bekerja di PT. Pupuk Sriwijaya, Kak tom ini jadi ikut-ikutan subur. Lihat saja kumis dan brewok nya yang keren itu. Hehehehe. Tapi sifat baik hatinya tetap tidak berubah hingga sekarang.

10. Pier Wyn Yose

Image hosting by PhotobucketImage hosting by Photobucket

Pier ini adalah teman saya di kelas I F SMP Xaverius Maria Palembang. Pier it cerewet. Beberapa teman memaggilnya Bebek. Hoby nya menggambar. Bukunya selalu penuh dengan corat-coret tangannya. Setelah lulus SMP saya tidak pernah bertemu lagi dengannya hingga lagi-lagi media yang bernama friendster mempertemukan kami. Sekarang berkat hoby corat-coretnya Pier telah menjadi seorang desainer.

24 January 2006

2 Tahun Sudah...

Image hosting by Photobucket

Dua tahun yang lalu, seorang manusia yang berwujud adik bernama Fei sukses meracuni saya untuk membat blog. Saya tergoda karena memang dari dulu pengen banget tulisan-tulisan saya yang tidak jelas ini di baca orang lain. Maka lahirlah untuk pertama kalinya blog saya http://gwe-banget.blogspot.com. Dan lebih kurang setahun silam, saya memutuskan untuk mengganti nama blognya menjadi nama yang sekarang kalian kenal ini. Dua tahun, jika di ibaratkan dengan umur manusia maka kita dapat kita kataka blog ini sedang lucu-lucunya dan sedang aktif-aktifnya. Faktanya memang demikian, dua tahun ini tiada bulan yang terlewati tanpa berbagi cerita dengan teman-teman blogger. Mulai dari cerita bahagia, cerita sedih, kemarahan dan sebagainya. Banyak sekali yang saya dapatkan dengan menjadi seorang blogger. Mendapatkan teman-teman baru yang tadinya hanya kita kenal melalui tulisan-tulisan di blog mereka masing-masing, mendapatkan pengalaman-pengalaman serta cerita-cerita unik para blogger lainnya, merangsang kita untuk membuat tulisan yang enak di baca teman-teman blogger lain, dan banyak hal lainnya. Dan terakhir hidup Blog Indonesia !!!

20 January 2006

Kekerasan Anak

Kekerasan pada anak sebenarnya bukan cerita baru di republik ini. Kita tentu belum lupa pada cerita Ari Hanggara yang pernah booming di tahun 80 an ?? Sebenarnya setelah era Ari Hanggara, banyak lagi kasus-kasus serupa yang terjadi. Puncaknya kini di awal tahun 2006 kita menyaksikan sendiri anak-anak tak berdosa menjadi korban ketidakdewasaan orang tua mereka. Betapa perihnya menyaksikan anak-anak teresebut di pukul, di bakar, disundut rokok, atau disetrika. Dan terkadang dengan entengnya mereka menggunakan kata mendidik sebagai pembenaran atas penyiksaan yang mereka lakukan. Dan membuat kita bertanya-tanya dengan geram, dimana sih otak orang tua mereka ?? Anak-anak itu bukan sansak untuk berlatih tinju, bukan pula kayu untuk memasak, bukan pula asbak apalagi pakaian. Mereka manusia yang memang sedang aktif-aktifnya. Yang sangat wajar bila dikatakan sedang nakal-nakalnya. Kitapun tentunya pernah melalui tahapan itu.

Anak itu adalah titipan Allah, bukan hak milik orang tuanya. Saya memang belum berkeluarga, belum tahu rasanya punya anak. Tapi saya menghimbau kepada siapapun :

1. Jika anda merasa bukan orang yang cinta pada anak-anak, lebih baik tidak usah memikirkan untuk punya anak.
2. Jika anda merasa bahwa karir anda adalah segalanya dan punya anak hanya akan membebani pekerjaan serta waktu anda, lebih baik jangan sekali-kali berpikir untuk merencanakan punya anak.
3. Jika anda merasa bahwa anda hanya cinta pada anak kandung anda sendiri, jangan pernah berpikir untuk menikah dengan janda atau duda yang telah punya anak.
4. Lebih baik tidak usah mengadopsi anak sebagai pancingan, jika anda sendiri ragu apakah anda masih bisa menyayanginya atau memperlakukannya sama seperti anak kandung anda sendiri jika ternyata anda benar-benar di karuniai seorang anak.
5. Dan yang terpenting, anak bukanlah pelampiasan masalah yang di hadapi orang tuanya.

Saya pikir mencegah akan lebih baik daripada anda menyesalinya di dalam bui !!!

17 January 2006

Goiq Si Tukang Kompor

Hmmm...mo cerita apa yah hari ini ?? Apa ?? Cerita Kodaran Hari Sabtu kemarin ?? Itu sih maunya Shofa... Hehehe. Ceritanya hari Sabtu kemaren gw di paksa sama Shofa buat ikutan kopdar di Platinum Plaza Semanggi jam 11 siang. Sebagai seorang turis di ibukota, saya mah ga tegaan untuk menolak ajakan itu *di tampol Shofa*. Maka jadilah saya bersiap-siap sepagi mungkin supaya tidak terlambat sampai di tujuan. Sesampainya di sana, ternyata saya baru menjumpai Rafid seorang. maka sembari menunggu yang lain tiba, kami berdua memutuskan untuk berkeliling di Plangi yang membingungkan itu. Hingga tak lama berselang, Bagus menunjukkan tanda-tanda penampakannya di bumi Plangi. Maka berkumpullah tiga anak ayam remaja tanggung ini menanti datangnya para blogger lain. Bosan menunggu, kami pun memutuskan untuk memesan tempat di Platinum. Tidak lupa mengingatkan Shofa bahwa hari ini ada kopdaran di Plangi secara dia adalah sang empunya hajatan.

Image hosted by Photobucket.com
Goiq - Rafid - Rere - Prazz

Image hosted by Photobucket.com
Puch - Ifa - Shofa - Intan

Dan akhirnya Shofa pun datang bersama Rere (gw ga ketawa kan Shof saat itu), Puch dan Ifa. Rupanya sedari tadi Puch dan Ifa juga telah tiba di Plangi. Rupanya selidik punya selidik ternyata Shofa lah yang datang tepat waktu pukul 11 Waktu Indonesia Plaza Semanggi. Sementara saya dan yang lain datang lebih cepat dari waktu yang telah di tentukan. Jadi ngga enak sama Shofa nich... *di tampol Shofa bolak balik*. Tak lama setelah duduk, muncul seorang pemuda tampan lainnya. Dan sosok yang sangat tidak asing di mata saya. Dalam hitungan 216 kbps, otak saya langsung mendefinisikan sosok tersebut adalah Prazz. Maka kami pun langsung pesen makanan, bersenda gurau bersama serta membuat kegaduhan di Platinum *hiperbola mode on*.

Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.com
Makan-Makan

Kelar makan-makan rupanya Bagus mesti cabut. Katanya mo kondangan... Huehuehuehe. Maka Bagus pun pergi meninggalkan kita-kita. Dan sebagai gantinya datanglah seorang blogger lagi, yang memperkenalkan dirinya sebagai Salsa...eh Intan, Hehehehe... Topik kopdaran siang itu tampaknya lebih terpusat pada Rere dan Shofa. Goiq yang mencium ketidakberesan pada mereka berdua mulai melakukan manuver-manuver berbahaya yang langsung di sambar dengan gesit oleh Puch, Prazz dan Ifa. Sementara Rafid tampak terpukau menyaksikan bagaimana kami mengintimidasi Rere dan Shofa.

Image hosted by Photobucket.com
Sebelum Bagus (baju merah) pergi

Image hosted by Photobucket.com
Piring siapa yang paling bersih ???

Tapi ternyata komporan itu memang tidak sia-sia. Buktinya di postingan terbarunya, Shofa telah mengakui Rere sebaga pacar barunya. Hahahaha.. *toss sama Puch, Ifa n Prazz*. Jangan-jangan memang sudah jadian sebelum ke Plangi, pantes aja datengnya super duper ngaret. Mestinya kemaren itu kita semua di traktir sebagai PJ kalian *lirik-lirik Shofa dan Rere*. Setelah itu kita membubarkan diri. Selesai ?? Ngga juga. Walaupun di Plangi kita bubaran sama Ifa, Puch n Prazz yang memutuskan pulang kembali ke peraduan, tetapi tidak menyurutkan langkah Rafid, Goiq, Intan, dan pasangan penganten baru untuk melanjutkan jalan-jalan ke Citos. Hanya sayangnya, berhubung saya sudah janjian untuk gathering keluarga di Wing Dome, maka sesampainya di Citos saya pun memutuskan untuk berpisah. Tapi terima kasih untuk hari Sabtu yang menyenangkan... Lain kali kita ketemuan lagi yah...

12 January 2006

Jakarta, Jalan-Jalan dan Kopdar

Sebenernya banyak banget cerita yang pengen di posting, tapi entah kenapa akhir-akhir sedang tidak terlalu bersemangat untuk ngeblog. Jadi ceritanya secara singkat saja yah... Saya sudah sampe Jakarta hari Jumat tanggal 5 Januari 2006 pukul 22.00. Perjalanan Palembang-Jakarta kami tempuh dengan menggunakan mobil sendiri selama 16 jam.

Selebihnya ?? Ke citos ?? Sudah... Ke Mangga Dua ?? Sudah... Ke Dufan ?? Sudah.. PIM 2 ?? Sudah... Plangi ?? Sudah... Rencana-rencana menyegarkan otak dan sedikit berbisnis juga sudah tercapai. Kopdar ???

Semalem saya janjian sama Sam, Mamat dan Bagus ketemuan di Plaza Semanggi. Untungnya saya bisa membujuk ayah dan bunda untuk berbelanja kesana, sehingga saya bisa menghemat ongkos jalan... Hehehehe. Karena ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di bumi Plangi, maka sempet pake acara nyasar dulu sebelum akhirnya masuk kesana. Pertama kali ketemu sama Bagus di musholla. Trus baru ketemu Sam n Mamat di Chicken Story. Ngobrol ?? Puas banget, hampir ga ada jeda malah. Makan pun masih berkicau. Lalu di lanjutkan dengan jalan-jalan keliling Plangi. Dan pestanya bubar setelah waktu menunjukkan pukul 21.00. Makasih banget yah Sam, Mamat n Bagus atas pertemuan yang menyenangkan semalam.

Buat Shofa : Sabtu jadi kan ???

04 January 2006

Berkemas

Baju terakhir sudah saya paksakan masuk ke dalam ransel yang sudah penuh sesak itu. Artinya tidak ada tambahan pakaian lagi yang akan masuk di dalamnya. Hanya tinggal parfum dan deodorant yang masih akan saya pakai hari ini dan besok. Batre untuk walkman juga sudah saya siapkan. CD Writer, Flash Disk, Infra Red, beberapa kaset serta beberapa CD juga sudah saya masukkan dalam ransel khusus. Sepatu sudah di masukkan dalam kotak. Untungnya punya dua charger handphone, sehingga salah satunya bisa langsung di masukkan ke dalam tas. Beberapa buku bacaan juga sudah saya masukkan dalam laci mobil tadi pagi. Hmmm... apalagi yah yang belum di bawa ?? Tampaknya semua sudah rapi.

Lalu saya memandang ke arah tumpukan buku-buku di atas meja komputer. Haruskah saya membawa mereka serta ?? Perang batin terjadi. Di satu sisi saya benar-benar ingin pergi dengan nyaman tanpa terbebani dengan urusan skripsi. Tapi di sisi lain ada dorongan kuat untuk membawa serta buku-buku dan bahan-bahan skripsi. Siapa tahu mendadak muncul ide-ide segar yang akan mewarnai skripsi saya nantinya. Padahal beberapa hari ini saya sudah mati-matian mengerjakan skripsi saya supaya bisa di serahkan pada dosen pembimbing sebelum saya pergi. Dan pergulatan batin itu selesai ketika buku-buku perkuliahan serta bahan-bahan skripsi yang ada di meja komputer saya masukkan ke dalam ransel.

Berkemas selesai dan kini bisa bernafas lega. Selamat tinggal Palembang dan semua masalah yang sedang terjadi disini. Untuk seseorang, maafkan saya karena harus pergi dengan cara seperti ini. Mudah-mudahan semua akan berbeda setelah saya kembali nanti.

Jakarta... saya datang.

02 January 2006

Wakil Rakyat Yang Tidak Merakyat

Mungkin teman-teman yang tinggal di Jakarta sudah tahu kalau saat ini di halaman gedung MPR/DPR tengah di bangun sebuah pagar besar yang konon kabarnya bernilai 3 milyar rupiah. Sebuah nominal yang sangat besar dan menurut hemat saya hanya merupakan sebuah pemborosan belaka. Pagar itu di bangun dengan ketinggian yang cukup lumayan dan di maksudkan untuk mencegah aksi para demonstran untuk masuk ke gedung rakyat itu. Mau tahu bahasa simpelnya ??? Para wakil rakyat membangun sebuah jarak / dinding pemisah yang membedakan mereka dari para rakyat kebanyakan.

Mereka mengaku sebagai wakil rakyat, tetapi enggan hidup merakyat. Mereka bangga dengan sebutan wakil rakyat, tapi menghadapi para demonstran yang notabene juga rakyat mereka takut. Mereka hidup dari uang rakyat, tetapi lebih memikirkan kesejahteraan sendiri daripada kesejahteraan rakyat yang sudah memilih mereka untuk duduk di gedung rakyat.

Memang tidak adil menyamaratakan semua wakil rakyat seperti itu. Tetapi saya yakin yang benar-benar konsisten memikirkan soal rakyat jumlahnya sangat kecil sekali. Selebihnya benar-benar memanfaatkan status wakil rakyatnya untuk kesejahteraannya sendiri. Di pagarinya gedung rakyat menurut saya menunjukkan memudarnya demokrasi di Indonesia. Gedung rakyat yang seharusnya tempat dimana rakyat beraspirasi dan menjadi milik rakyat kini semakin terasa bahwa gedung itu memang hanya milik orang-orang yang berada di dalamnya. Hapus saja slogan dari rakyat untuk rakyat ke rakyat dan kita ganti dengan slogan dari partai untuk ke kader ke partai !!!