29 September 2006

Kabut Asap

Photobucket - Video and Image Hosting
Kabut Asap Sore Hari

Photobucket - Video and Image Hosting
Kabut Asap Malam Hari

Tiga hari belakangan ini kabut asap yang sangat pekat melanda kota Palembang. Biasanya kabut asap ini muncul sore hari hingga pagi hari. Sebagai pengendara motor, dampak yang paling saya rasakan dari kabut asap ini adalah mata menjadi pedih dan nafas menjadi sesak. Tadinya saya pikir hanya pengendara motor seperti saya saja yang merasakan dampak seperti itu, tapi masyarakat yang bukan pengendara motor pun ternyata merasakannya. Terutama malam hari, dimana bau asap sampai masuk kedalam rumah. Hal ini tentu dapat menimbulkan penyakit infeksi pernafasan (Ispa).

Ketebalan kabut asap ini mengakibatkan jarak pandang hanya mencapai beberapa ratus meter saja. Untuk lalu lintas darat, jarak pandang demikian tentu belum terlalu menjadi persoalan berarti. Tetapi untuk lalu lintas diperairan Sungai Musi dan lalu lintas udara, hal ini tentunya sudah menjadi persoalan berarti. Beberapa maskapai meniadakan penerbangan malam dari dan menuju Palembang.

Kabut asap yang melanda kota Palembang ini sebenarnya merupakan dampak dari kebakaran sejumlah lahan di sekitar Palembang, baik yang di sengaja maupun yang tidak sengaja. Dalam perjalanan menuju kampus Unsri di Inderalaya beberapa hari yang lalu, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri lahan gambut yang terbakar. Dan parahnya hal tersebut tampaknya sengaja di biarkan. Menurut beberapa teman, api akan padam dengan sendirinya apabila semua lahan telah terbakar, atau masyarakat setempat baru akan melakukan tindakan apabila api mulai mendekati wilayah pemukiman mereka.

Kalau begini ceritanya, tampaknya cerita kabut asap ini akan jadi tradisi tahunan di kota Palembang. Sungguh menyedihkan.

Tips dari saya :

1.Usahakan jangan bepergian sore dan malam hari saat kabut asap mulai turun.
2.Gunakan masker saat akan bepergian atau ketika kabut asap sudah masuk ke dalam rumah
3.Hidupkan AC di dalam rumah jika ada.
4.Usahakan jangan membakar sampah atau membakar apapun pada sore, malam dan pagi hari.

22 September 2006

Sepenggal Cerita Pendakian

Photobucket - Video and Image Hosting
Kawah Dempo

Dan tak kala ku langkahkan kaki dipintu rimba Gunung Dempo, ku tersadar bahwa ragaku tak bersamamu. Langkah demi langkah yang ku tempuh tak satupun yang kulalui tanpa memikirkannmu. Yeah, meskipun ragaku sedang berbanjir peluh menaklukkan keangkuhan Dempo, tetapi jiwaku berkelana nun jauh disana menemanimu yang sedang gulana menantiku. Apakah kamu tahu itu ?? Aku sanksi... tetapi membayangkan bahwa kamu sedang memikirkan aku, bagiku itu sudah lebih dari cukup.

Rinai hujan membuyarkan lamunanku, memaksaku dan teman-teman untuk berhenti sejenak guna menghindari hal-hal yang tidak kami harapkan. Bivak pun berdiri dalam waktu singkat untuk melindungi tubuh kami dari serangan hujan dan hawa dingin yang merasuk tulang. Sembari mereguk segelas kopi panas, kembali ku lanjutkan petualangan imajinasiku untuk menemuimu di sana. Aku selalu ingat bahwa selama pendakian aku tidak boleh melamun, tetapi entah mengapa aku selalu berkilah di katakan melamun. Aku sedang tidak melamun !!! Jika dikatakan sedang melamun tentunya aku tidak akan mengingat langkah demi langkah yang telah kulewati bersama team ku sedari pintu rimba tadi. Bahkan aku juga bisa mengingat dengan pasti kata-kata dan gelak canda yang sedari tadi terlontar dari bibir rekan-rekan satu teamku itu. Aku memang sedang tidak melamun, hanya sekedar memikirkanmu meskipun aku melakukannya sepanjang langkahku.

Sejujurnya inilah pendakian terberat yang pernah aku rasakan diantara pendakian-pendakian ku sebelumnya. Selain punya misi khusus yang yang ku emban dalam pendakian kali ini, cuaca yang teramat sangat tidak bersahabat, terkadang gerimis disertai pekatnya kabut memaksa kami menghentikan langkah menuju puncak keangkuhan Dempo.. Hingga tiba di shelter 2, kami benar-benar tak mampu untuk meneruskan langkah. Hujan deras yang disertai angin kencang dan kabut sudah membuat kami kehilangan kemampuan navigasi. Kami sepakat bermalam di Shelter 2 sembari menunggu cuaca sedikit lebih bersahabat. Perbekalan pun mulai dibuka. Yeah... cuaca sedingin ini membuat cacing-cacing diperut kami be acapela ria. Aroma parafin yang tersulut api pun meyergap isi tenda doome tempat kami berteduh. Tak lama setelahnya terciumlah aroma ikan sardin dan mie rebus yang di lengkapi dengan bau hangat nasi pulen. Hmmm... Dan dalam sekejap pula, bertebaran piring-piring kotor disertai suara-suara kekenyangan dari rekan-rekan satu team ku. Sembari menunggu, beberapa rekan berinisiatif mencari kegiatan pengusir jenuh. Main kartu salah satunya. Sementara beberapa yang lainnya memutuskan untuk melepas kepenatan dengan menyambangi alam mimpi. Aku sendiri tidak tertarik untuk bergabung dalam keriuhan rekan-rekan yang sedang bermain maupun rekan-rekan yang mulai terlelap dalam alam bawah sadar.

Aku ingin bersamamu lagi... Meskipun itu hanyalah sekedar permainan imajinasiku. Bersamamu membuat dinginnya udara Dempo tak lagi kurasa. Setidaknya kamu menghangatkan nuansa hatiku. Sekejap mata anganku berkelana mencarimu. Menembus derasnya hujan dan pekatnya kabut Dempo. Tapi rupanya raga ini terlalu letih. Dan aku pun terbuai dalam alunan kidung gemercik hujan. Lelap.... Pukul 4 pagi itu, alam mulai bersahabat kepada kami. Hujan dan kabut tampaknya sudah lelah berkolaborasi untuk menghadang langkah kami. Meskipun hawa dingin benar-benar membangkitkan rasa malas untuk melanjutkan pendakian, tetapi kami sadar ini saat yang sangat tepat untuk bergerak. Langkah kami pun kembali beriring menyusuri jalur cadas. Jalan yang licin karena hujan semalaman tidak menyurutkan langkah kami yang terus meninggalkan jejak di atas tanahnya. Hingga akhirnya kami tiba di ketinggian 3159 meter di atas permukaan laut. Yeaaahh... Puncak pertama tlah kami lalui. Semua rasa lelah yang menyergap seakan menguap dari tubuh kami. Beberapa rekan mulai mengabadikan moment ini ke dalam kamera masing-masing. Sementara aku kembali memikirkanmu. Apa kau merasakan pikiranku yang berusaha menggapaimu sayang ??

Setelah puas mengabadikan moment di Puncak, kami pun turun menuju Lembah Dempo. Hamparan hutan kayu panjang umur menyambut kedatangan kami dengan kebisuannya. Kami pun kembali mendirikan tenda karena kami memang akan kembali bermalam dilembah. Setelahnya, kami pun bergegas menuju puncak merapi dimana Kawah Dempo berada. Melihat kawah yang berwarna hijau lumut, hatiku terasa sangat damai. Apalagi melihat rona kemerahan di ufuk timur. Hangatnya mentari pagi menghangatkan jiwaku yang beku. Seorang rekan dengan lantang melafazkan adzan. Ahhh... aku sudah setinggi ini. Berapa jauh lagi aku bisa menggapaimu ?? Bergetar bibirku memanggil namamu. Tidakkah kau melihat perjuanganku kembali ke Dempo untuk menaklukkan keangkuhan dan kebekuannya ?? Tahukah kau aku melakukan semua ini untukmu ?? Demi mewujudkan anganmu untuk mendaki Dempo bersamaku. Lihat aku sayang. Aku datang untukmu. Untuk memenuhi janji yang pernah kita buat sebelum kau pergi. Karena aku tahu kamu ada diatas sana. Turunlah dan temani aku disini. Aku ingin lebih dekat denganmu... Meskipun aku sadar sepenuhnya, kamu tetap tak akan pernah bisa kujamah....

Berhubung ramadhan tinggal menunggu hari, Goiq mo minta maaf terlebih dahulu sama teman-teman blogger semua kalo selama ini Goiq ada salah-salah kata dan perbuatan yang kurang berkenan di hati teman-teman semua. Mari kita Sambut ramadhan dengan hati yang riang dan jiwa yang bersih... Marhaban Ya Ramadhan

Ket : Foto Di ambil dari sini

19 September 2006

Shofa datang, Kabut Asap Menyerang Palembang...

Yeah sodara-sodara... Si Shofa dateng ke Palembang hari Jumat lalu. Dan celakanya lagi gara-gara kedatangan Shofa, kota Palembang mendadak terkena kabut asap. Ck.. ck..ck.. Sebagai teman yang baik hati, ramah serta tidak sombong, tanpa ditawari si Goiq langsung nyelonong maen ke hotelnya Shofa. Dengan tampang mupeng dan tidak tahu malu langsung nagih oleh-oleh sama Shofa. Gyahahahaha...

Photobucket - Video and Image Hosting
Kambang Iwak Bareng Shofa n Awie

Photobucket - Video and Image Hosting
Fany, Shofa n Goiq

Photobucket - Video and Image Hosting
Bujang Palembang Neh

Sedikit cerita nih ya, Shofa itu ternyata kaget berat waktu tahu di Palembang ada Carrefour, ada Hotel Aston, n Hotel Horison. Bener-bener kurang ajar !!! Dan dia lebih kaget lagi waktu tahu di Palembang ada Hotel yang bernama Shofa Marwah yang jadi tempat nginepnya. Gyahahaha... Yah pokoke si Shofa bener-bener kita service abis deh... bayangin aja 3 hari 2 malem ada di Palembang kita abisin buat jalan-jalan mulu. malem terakhir malahan kita pulang jam 1 pagi.. Gyahahaha... Shof, jangan jera yah dateng ke Palembang lagi... Kita-kita masih dengan senang hati menyambut kedatanganmu lagi..

Photobucket - Video and Image Hosting
Sedot teruusss

Photobucket - Video and Image Hosting
Goiq n Awie

Photobucket - Video and Image Hosting
Narsis di Jembatan Ampera

Photobucket - Video and Image Hosting
Di Airport Sebelum Pulang

Minggu sore saya mengantar Shofa ke Airport, malamnya saya kembali harus menjemput abang saya yang baru pulang dari Kuala Lumpur. Wiiiwwww.. Saya senang sekali malam itu, saya banyak dapet oleh-oleh nih. Dari abang, saya dapet jam tangan dan kaos. Dan saya juga dapet oleh-oleh dari Husein dan pacarnya Tiara... Makasih yah buat oleh-olehnya...

Photobucket - Video and Image Hosting
Oleh-Oleh Dari Kuala Lumpur

07 September 2006

Keceriaan Di malam Kamis

Akhir-akhir ini saya sedang sibuks-sibuknya, hingga blog saya ini sedikit terlantar. Karena itu daripada saya menulis tapi malah garing, lebih baik biarkan foto-foto ini yang bercerita tentang keceriaan saya dan keluarga di malam Kamis kemarin...

Photobucket - Video and Image Hosting
Niera n Oom Goiq

Photobucket - Video and Image Hosting
Buby n Lita Kucing

Photobucket - Video and Image Hosting
Goiq Paling Ganteng Dah...

Photobucket - Video and Image Hosting
To Be...Beer