29 July 2011

Marhaban Ya Ramadhan



Dalam beberapa hari kedepan, seluruh umat muslim didunia akan menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh... Karena itu sebelum memasuki bulan suci yang penuh dengan berkah dan nikmat ini, izinkan saya menghaturkan maaf atas segala khilaf yang pernah saya perbuat... Mari kita masuki Ramadhan dengan hati yang senang dan jiwa yang bersih. Selamat menunaikan ibadah Shaum Ramadhan...

24 July 2011

Dear Diary

Ketika saya berkesempatan pulang kampung ke Palembang pertengahan Juli kemarin, saya sempat membongkar isi gudang sekedar mencari cari kenangan akan masa lalu yang mungkin masih tersimpan di gudang ini.Saya membongkar kotak besar berisi buku-buku pelajaran sewaktu SMA dan terselip sebuah buku kecil yang pernah menjadi bagian dari hari-hari saya selama 3 tahun duduk di bangku SMA. Yup catatan harian saya... Buku ini sendiri saya dapat sewaktu tukeran kado saat perpisahan kelas 3 SMP, dan saya berjanji akan menulis banyak kisah atau apapun yang menjadi curahan hati saya di buku ini. Satu hal yang mungkin tanpa saya sadari menjadi cikal bakal dalam perjalanan hidup saya di kemudian hari, termasuk cikal-bakal dari blog ini...



Dn mulailah saya membuka lembar demi lembar sejarah dalam hidup saya yang pernah tertuang dalam buku ini... Lembar pertama yang bikin saya ketawa ngakak adalah daftar pelajaran dan susunan kepengurusan kelas 1.11 yang kemudian dilanjutkan dengan gambar muka teman-teman sekelas yang tentu saja sama sekali tidak mirip. Lalu ada juga kode etik pecinta alam yang merupakan organisasi kesiswaan yang saya ikuti di bangku SMA. Juga berbagai gambar ga jelas yang sepertinya mewakili sebuah keadaan, seperti gambar kepala seorang guru yang sedang marah-marah. Hahahahaha..






Lembar demi lembar yang saya buka semua membuat saya tersenyum sembari mengingat kejadian yang pernah terjadi sebelum saya menuliskan di catatan harian ini. Salah satu yang sempat trend di zaman saya SMA dulu adalah plat nama. Rasanya hampir satu SMA pernah membuat sticker atau gantungan kunci berbentuk plat kendaraan yang merupakan ejaan dari nama masing-masing.



Selain cerita dan gambar-gambar mengenai keseharian hidup saya, beberapa catatan penting termasuk kejadian-kejadian yang berskala lokal, nasional maupun internasional pun sempat menghiasi catatan harian saya..






Yang sempat membuat saya tercengang karena sama sekali tidak saya ingat adalah beberapa halaman yang berisikan lagu-lagu favorit menyerupai playlist tertulis, dimana setiap awal bulan saya membuat susunan lagu terfavorit versi saya. Dan mendadak saya ingat bahwa inspirasi saya menyusun deretan lagu terfavorit versi saya itu adalah acara Clear Top Ten yang saat itu ngehits banget dibawain oleh Dewi Sandra dan Bertrand Antolin. Entah ini sebuah pertanda atau bukan, 10 tahun kemudian setelah saya menulis deretan lagu terfavorit di catatan harian ini, saya benar-benar menjadi seorang Music Director Radio yang bertugas menyusun playlist lagu-lagu yang harus di putar setiap hari dan diakhir minggu saya harus menyusun chart tangga lagu.



Masa SMA adalah masa penuh dengan kebahagiaan dan juga penuh cinta. Cinta dari sahabat dan juga cinta dari pacar plus lika liku perjuangan untuk mendapatkan sang pujaan hati. Dan saya pun juga merasakan hal itu..





Ada perjumpaan dan ada juga perpisahan, catatan harian SMA saya berakhir ketika saya lulus dan entah kenapa catatan harian ini tidak pernah terbawa lagi dalam kehidupan saya hingga akhirnya saya menemukannya lagi di gudang beberapa hari yang lalu... Yang jelas senang rasanya bisa mengenang hal-hal yang pernah terjadi dan mungkin telah terlupakan dari kehidupan saya. Memori masa SMA, yang kata Paramita Rusady dalam lagu Nostalgia SMA adalah masa paling indah

21 July 2011

Akhirnya Ke Bali

Salah satu Resolusi saya di tahun 2011 ini adalah mengunjungi berbagai tempat yang belom pernah saya datangi. Dan di akhir Mei kemarin dalam sebuah kisah dramatis, saya diminta menggantikan bos saya dinas ke Bali. Apa istimewa nya ??? Karena sepanjang karir perjalanan saya ke banyak tempat di Indonesia, bahkan sempat menginjakkan kaki di Singapura tahun 2010 lalu. Belum pernah satu kalipun saya menginjakkan kaki di pulau Dewata yang menjadi tempat impian untuk dikunjungi oleh orang-orang dari belahan dunia manapun.

Sebenarnya sudah beberapa kali saya merencanakan untuk pergi ke Bali, tetapi perjalanan yang sudah direncanakan tersebut entah kenapa akhirnya selalu kandas. Dan memasuki usia 31 tahun di bulan April lalu saya mendeklarasikan diri saya sebagai tukang jalan-jalan yang belum pernah ke Bali. Ironis nya , seorang rekan di kantor saya yang bernama Okto justru setiap bulan selalu berdinas ke Bali. Saking seringnya bolak balik ke Bali sampai disindir rekan yang lain udah kaya bolak-balik ke toilet. Hahahahaha. Kalau ditanya seberapa kuat motivasi ke Bali, saya cuma bisa menjawab pengen tapi ga kepengen pengen banget. Artinya, kalo ada kesempatan kesana saya bersyukur, tapi kalo ngga yah udah... Ga usah dijadiin beban pikiran yang berkepanjangan.

Dan kesempatan itupun akhirnya datang juga. Bos saya yang tadinya berencana pergi ke Bali bersama Okto dan The Fly Band dalam rangka promo off air disana, mendadak membatalkan rencana karena anaknya sakit sementara tiket sudah di issued. Dan beliaupun langsung meminta saya menggantikan dirinya berangkat ke Bali. Itupun diberitahunya hanya beberapa jam sebelum keberangkatan. Cuma satu yang ada di otak saya saat itu. Ga nyangka bisa ke Bali meskipun dengan cara seperti ini. hahahahaha.. Biasanya setiap mau bepergian, minimal saya sudah googling tempat-tempat yang akan jadi tujuan saya plesiran. Tapi berhubung ini dalam rangka dinas, sayapun pasrah saja dengan rundown yang pastinya sudah disusun oleh panitia penyelenggara... Yang penting saya ke Baliiiiii....









20 July 2011

Prihatin

Rasanya kata ini bukan kalimat yang asing kita dengar belakangan. Kita mesti prihatin !! *sambil angkat telunjuk dan pasang muka bertekuk duabelas* . Dalam kehidupan keluarga sayapun pernah merasakan situasi prihatin. Ketika usaha ayah saya tidak berjalan dengan baik, maka ayah menyerukan kami sekeluarga untuk mengencangkan ikat pinggang. Uang saku bulanan harus di turunkan dari nominal biasanya, hobi belanja dan membeli keperluan harus di minimalisir sebanyak mungkin. Tetapi kami tidak mengeluh, karena kata prihatin ini benar-benar dirasakan dan dijalankan oleh semua anggota keluarga tanpa terkecuali.

Sungguh berbeda dengan kalimat prihatin yang di serukan oleh pemimpin negeri ini. Prihatin yang sepertinya hanya ditujukan oleh rakyat jelata saja, sementara para elit sama sekali tetap dengan aktifitas mereka menghambur hamburkan uang negara. Lihatlah betapa para pejabat negara masih dengan pede nya jalan-jalan keluar negeri dengan dalih studi banding, atau pemborosan uang negara dalam banyak hal lainnya. Korupsi tetap merajalela dimana-mana. Inikah sebuah bentuk keprihatinan ?? Dijalan raya tanah air, pejabat-pejabat dengan angkuhnya menggunakan pengawalan untuk melintasi kemacetan yang tengah terjadi. Tentu saja dengan dalih dikejar deadline meeting dengan atasannya. Bagaimana mungkin kita bisa percaya bahwa bangsa ini sedang dilanda keprihatinan...

Jika kita memang ingin prihatin nasional, maka para pemimpin harus mencontohkan dari diri mereka sendiri bagaimana prihatin yang sebenarnya. Turunkan gaji para pejabat, hapus tunjangan-tunjangan pejabat yang sama sekali sungguh tidak masuk akal jumlahnya, hapus fasilitas-fasilitas tidak penting lainnya yang melekat dalam tubuh para petinggi negeri ini. Membaurlah dengan rakyat dalam sebuah keprihatinan nasional. Maka rakyat tidak akan mengeluh dengan keprihatinan ini karena kita merasakannya bersama-sama.. Seperti prihatin yang pernah saya rasakan bersama dalam keluarga...

05 July 2011

9 Tahun Sriwijaya FM

Tanpa terasa sudah setahun saya meninggalkan kota Palembang untuk mencari nafkah di ibu kota. Mungkin karena sudah pernah merasakan meninggalkan kota itu saat saya lulus SMA dan melanjutkan kuliah di Jakarta, perasaan kehilangan itu tidak sedahsyat yang lalu. Pertama karena demi kelangsungan hidup yang lebih baik dan kedua karena Jakarta bukan lagi kota asing seperti saat saya pertama kali tinggal disini tahun 1998 lalu. Kalaupun ada hal-hal yang membuat saya kangen, sudah pasti itu adalah tentang keluarga, teman-teman terdekat dan Sriwijaya FM.

Yup, Sriwijaya FM adalah salah satu tempat yang sangat berkesan buat saya. Belum tentu saya bisa berada di Jakarta seperti sekarang bila saya tidak pernah berada disana. Sebuah keisengan di akhir periode kuliah di FE Unsri, yang mana akhirnya kuliah itu tidak pernah terselesaikan dan saya lebih memilih memfokuskan diri dengan kehidupan saya bersama rekan-rekan di Sriwijaya FM. Saya ingin menjawab keraguan orang tua dan teman-teman saya tentang masa depan seorang penyiar radio.



Mereka adalah rekan-rekan seangkatan saya ketika pertama kali dinyatakan lulus seleksi menjadi penyiar Sriwijaya FM di akhir tahun 2006. Aal yang bergelar Mang Juki, Diana yang hanya sampai akhir training 2 minggu, Siera yang bergelar Cek Sum, saya yang bergelar Mang Ied dan Ferditya yang bergelar Mang Jang. Hingga periode masa percobaan 3 bulan kami selesai, Aal memutuskan untuk hengkang sehingga menyisakan saya, Cek Sum dan Mang Jang diangkatan kami. Kami semua di posisikan sebagai reporter yang setiap hari harus keluar radio untuk meliput berita yang akan disiarkan di radio dan beberapa program liputan langsung. Hingga akhirnya saya di promosikan menjadi Music Director di akhir tahun 2007, lalu Cek Sum menjadi Script Writer dan Mang Jang memutuskan untuk penjadi penyiar freelance.



Tidak hanya bersama rekan-rekan seangkatan, kehidupan saya bersama semua crew Sriwijaya FM pun sangat menyenangkan, walaupun tak jarang juga kita mengalami cekcok. Dan seperti halnya keluarga, tentu kami sangat menginginkan untuk selalu bersama. Hanya saja kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita mau... Kami harus merelakan satu persatu saudara kami pergi mencari kehidupan yang lebih baik. Dan ada yang pergi pasti juga ada yang datang. Kami pun menemukan orang-orang baru yang menjadi bagian dalam keluarga kedua kami...






Hingga satu tahun yang lalu, tiba giliran saya untuk berpamitan dengan mereka semua yang sudah menjadi bagian dalam hidup saya. Merasakan apa yang pernah dirasakan oleh teman-teman saya yang sudah terlebih dahulu pamit meninggalkan Sriwijaya FM. Dan kalau biasanya kita kehilangan teman-teman yang jadi bagian dalam hidup, maka sekarang saya yakin teman-teman semua yang masih berada di Sriwijaya FM juga akan merasakan kehilangan, yang jujur sayapun masih merasakannya... Tahun ini menjelang ulang tahunnya yang ke 9, Sriwijaya FM resmi pindah ke kantor baru di kawasan Seduduk Putih. Di satu sisi pastinya menyenangkan pindah ke rumah baru yang jauh lebih baik.. Tetapi disisi lain pasti sangat menyedihkan meninggalkan kenangan yang pernah terjadi di Kasnariansyah 66. Tetapi inilah hidup yang harus kita lalui... Sama seperti saya yang tahun lalu memutuskan untuk hengkang demi masa depan saya, Sriwijaya FM pun juga pasti punya asa baru di tempat yang baru... Rompok Anyar, semangat anyar, makin berkibar... Selamat ulang tahun Sriwijaya FM. Ingat satu hal, orang lain boleh berlalu lalang datang dan pergi... Tapi sahabat sejati selalu dihati :). Begitupun kalian semua, sampai detik ini selalu ada di hati saya...

03 July 2011

Trip KUL - SIN (Part 2)

Setelah puas bernarsis ria di Kuala Lumpur, malam harinya saya dan Okto melanjutkan perjalanan ke Singapura dengan menggunakan bus. Bukan bus sembarang bus, karena bus nya bagus sekali dengan harga yang sangat masuk akal... Maka berangkatlah kami menuju Singapura pukul 23.00 dengan perkiraan jarak tempuh lebih kurang 5 jam.




2. Singapura

Kami masuk di keimigrasian Malaysia lebih kurang pukul 03.00 dini hari dan dilanjutkan dengan memasuki keimigrasian Singapura 30 menit kemudian. Sungguh sama sekali tidak menyangka kalau saya dan Okto akan mendapatkan "kejutan selamat datang" di negara ini. Karena masih dalam kondisi mengantuk, saya sempat masuk di jalur yang salah yang diperuntukkan untuk warga negara Malaysia. Akhirnya saya pindah dan masuk ke barisan yang benar. Karena saya belum mengisi form keimigrasian, maka saya diminta untuk keluar dari antrian untuk mengisi form tersebut. Karena tiket bus dipegang oleh Okto, saya sempat menunggu agak lama untuk bisa mengisi data nomor bus yang saya tumpangi. Saya pikir tidak ada masalah setelahnya, ternyata saya salah.. Paspor saya ditahan dan saya diminta untuk melapor ke kantor keimigrasian Singapura. Didalam ruangan tersebut ada beberapa orang yang satu bus dengan kami yang ternyata bermasalah dengan minuman beralkohol yang dibawanya. Okto pun juga harus masuk ke kantor karena bermasalah dengan rokok yang berada di tasnya yang dibawa dari Indonesia.

Jujur saya sama sekali tidak tahu apa salah saya hingga paspor saya harus ditahan. Saya sempat ditanya oleh petugas berbaju imigrasi, lalu diambil sidik jari saya dan dipersilahkan duduk kembali. Sementara Okto harus berurusan dengan pajak karena dianggap tidak melaporkan rokok yang dibawanya. Tidak lama, seorang petugas yang tidak berpakaian seragam menghampiri saya dan membawa saya kedalam sebuah ruangan. Di ruangan tersebut seluruh isi tas saya harus di keluarkan tanpa terkecuali. Semua kertas dokumen kantor yang saya bawa di cek dan ditanyakan. Dia bilang penampilan saya sama sekali tidak mirip dengan orang yang akan berwisata. Hahahaha... Saya pengen ketawa sebenernya, tapi jujur ngga berani. Saya langsung mengambil kesimpulan bahwa petugas ini pasti sedang menganggap kalau saya ini imigran gelap atau mungkin juga teroris. Dia meminta saya membuka laptop dan menunjukkan isi file. Dan inilah kunci kemenangan saya. Saya menunjukkan foto-foto di banyak tempat yang pernah saya datangi. Dan dia langsung meminta saya membenahi semua barang bawaan saya. Tak lama kemudian paspor yang sudah di cap di serahkan kembali kepada saya, dan Okto pun juga berhasil menyelesaikan urusannya.. Sungguh pengalaman baru buat saya dan Okto. Apapun itu yang penting buat saya dan Okto adalah kami berhasil masuk Singapura dan siap melanjutkan liburan kami...

Masalah belum kelar karena ternyata bus yang kami tumpangi sudah meninggalkan kantor imigrasi. Atau dengan kata lain kami sudah ditinggal. Lantas kamipun minta dicarikan solusi apa yang harus kita lakukan. Petugas imigrasi memberi 2 opsi, apakah kami diantar dengan menggunakan mobil keimigrasian atau menggunakan taksi. Saya dan Okto lebih memilih opsi kedua. Kami pikir cukuplah berurusan dengan keimigrasian ini. Hahahahaha. Petugas imigrasi menelpon taksi dan mengantar ketempat taksi tersebut menunggu. Tujuan selanjutnya adalah mencari hotel murah yang sesuai dengan budget dan melepas lelah sejenak sebelum menuju ke tempat tujuan kami. Kami memilih untuk mengambil hotel di seputar Ferrel Park dengan sistem short time mengingat kami check in sudah pukul 5 pagi.

Jam 9.30 pagi kami check out dari hotel dan langsung menuju ke Universal Studios Singapore. Berbekal peta rute MRT dan pengalaman saya ke Singapura tahun lalu, kami pun melangkahkan kaki. Meskipun sempet nyasar sedikit, akhirnya saya dan Okto berhasil menginjakkan kaki di Universal Studios. Kali kedua untuk saya dan pertama buat Okto...






Setelah puas berkeliling Universal Studios, sorenya saya dan Okto memutuskan untuk menjelajah Sentosa Island. Mulai dari Merlion hingga Siloso Beach






Malamnya kami memutuskan menginap di The Mitraa, sebuah backpacker hostel di kawasan Ferrel Park seharga $28 perorang/malam. Hostel ini adalah tempat menginap yang sama ketika berkunjung ke Singapura tahun lalu bersama rekan-rekan saya. Kami sekamar berempat dengan rekan backpacker dari Israel dan Afrika. Menambah teman dari luar negeri sekaligus memperlancar bahasa Inggris saya yang kacau balau.. hahahaha




Keesokan harinya kami cuma punya satu planning di Singapura, yaitu mencari tiket bus kembali ke Kuala Lumpur mengingat penerbangan pulang kami kembali ke Jakarta via Kuala Lumpur. Setelah beberapa kali googling, akhirnya kami memutuskan untuk memesan tiket bus AeroLine yang berada di Harbour Front. Harga tiketnya jauh lebih mahal daripada tiket dari Kuala Lumpur, yakni sebesar $50. Tetapi fasilitas yang didapat memang jauh lebih baik dibandingkan dengan bus dari Kuala Lumpur. Kami mendapat makan malam yang lezat, buah dan minuman seperti kopi, teh atau coklat panas, dan bisa mendengarkan musik dengan headset atau menonton film via LCD TV.

Sebenarnya dengan kejadian yang kami alami di kantor imigrasi Singapura hari sebelumnya, sempat membuat kami trauma juga ketika akan memasuki kembali kantor imigrasi. Tetapi alhamdulillah kami tidak menemui hambatan apapun selama di perjalanan maupun di kantor imigrasi Singapura dan Malaysia. Dan trip Malaysia dan Singapura pun harus kami akhiri....






01 July 2011

Trip KUL - SIN (Part 1)

Sejak jaman dahulu kala saya orang yang sangat suka berkeliling dan selalu antusias mendatang banyak tempat terutama yang belum pernah saya kunjungi. Dalam sebuah kesempatan ketika kantor saya memberi bonus tahunan yang jumlahnya cukup waah.. Saya dan seorang rekan sekantor bernama Okto pun memutuskan untuk plesiran ke luar negeri. Tadinya saya ingin pergi ke Manila atau Bangkok, tetapi karena Okto sangat ingin pergi Universal Studio maka kamipun memilih mengunjungi 2 negara sekaligus yaitu Malaysia dan Singapura.

Malaysia



Negara pertama yang kami datangi pertama adalah Malaysia. Dengan menumpang pesawat Air Asia, saya dan Okto pun terbang menuju negri Jiran, tempat saudara-saudara kita mengadu nasib mencari sesuap nasi disana. Tiba di LCCT Airport Kuala Lumpur sudah masuk tengah malam, kami dijemput teman Okto bernama Abot yang banyak membantu kami selama berada disana. Malam itu juga Abot dan tunangannya Shanim mengajak kami mengunjungi beberapa tempat seperti ICT Development dan bernarsis ria di seputar wilayah tersebut.





Pagi harinya saya dan Okto menjelajah kawasan Bukit Bintang. Foto sana foto sini seperti turis saja.. Hahahahaha..




Dan siangnya kami diajak Abot dan Shanim ke KLCC untuk nonton Pirates Of The Caribbean di TGV Cinema yang di lanjutkan dengan berfoto-foto dengan background Petronas Tower





Setelahnya Abot mengantar kami mencari tiket bus menuju Singapura pada malam harinya... (bersambung)