28 September 2011

Review Kuliner : Holycow Steak

Saya suka makan, itu fakta yang tidak terbantahkan. Untuk seseorang yang suka makan seperti saya, rasa makanan itu hanya 2 saja yaitu enak atau enak sekali. Pada dasarnya saya tidak pernah memilih-milih tempat makan, asalkan saya mau pasti saya akan datang ke tempat itu sesering saya bisa. Dan salah satu tempat makan wajib yang minimal sebulan sekali harus saya datangi adalah Holycow Steak. Dari sekian banyak tempat makan steak yang pernah saya coba, lidah saya sepertinya benar-benar tertambat oleh rasa lezat steak yang disajikan di Holycow Steak.



Pertama kali saya tahu tempat ini dari linimasa di Twitter saya. Dan sama seperti pengguna twitter lainnya, saya pun akhirnya tergoda untuk menikmati berbagai macam menu yang tersedia disana. Menu andalan di Holycow adalah wagyu steak, meskipun juga tersedia berbagai macam steak dari jenis daging lainnya. Menu favorit yang selalu saya pesan disana adalah Sirloin Wagyu dengan tingkat kematangan medium. Untuk sauce nya ada 3 jenis sauce yang dapat dipilih, yakni BBQ sauce, mushroom sauce dan buddy sauce. Dari ketiga sauce tersebut, jagoan saya tentu saja mushroom sauce. Dan jika sedang makan di TKP Radio Dalam, ada satu add ons yang wajib saya pesan yaitu Saute Mushroom.


Wagyu Sirloin


Wagyu Tenderloin


Wagyu Rump

Saat ini Holycow Steak mempunyai dua TKP (Tempat karnivor Pesta) yang berada diwilayah Jakarta Selatan, yakni TKP Senopati dan TKP Radio Dalam. Masing-masing TKP memiliki beberapa menu tambahan yang berbeda. Kalau di TKP Senopati lebih dikenal dengan menu Buddy's Special nya, di TKP Radio Dalam ada add ons yang bisa dipilih seperti Buddy's Spinach, Saute Mushroom dan grilled beef bacons. Dan bulan November nanti, Holycow akan go internasional dengan membuka TKP Orchard Road di Lucky Plaza Singapore.




Dan Holycow Steak sendiri sepertinya memahami benar selera gratisan orang Indonesia kebanyakan. Maka dibuatlah banyak promo gratisan, salah satunya adalah free tiramisu atau cupcakes setiap kita mention @holycowsteak di twitter.



Dan yang paling menyenangkan adalah setiap hari ulang tahun kita, Holycow memberikan wagyu steak gratisan. Cuma nunjukin KTP, lalu pake topi/bando ulang tahun yang.. errrr agak malu-maluin buat makenya. Tapi demi steak gratis maka pasrah saja. Hahahaha. Dan bulan April kemarin saya cukup beruntung bisa merasakan steak gratisan dan tentu saja memilih tenderloin wagyu yang harganya paling mahal. Hahahahaha

Strategi Holycow Steak menggaet pengguna social media ini saya rasa patut diacungi jempol. Dulu saya tergoda untuk datang ke Holycow setelah melihat timeline teman-teman saya, dan sekarang beberapa kali teman-teman saya yang dari luar kota minta ditemani makan di Holycow Steak karena ngences liat tweet saya sebelumnya. Dan entah kenapa, setiap makan di Holycow saya seperti terhipnotis untuk memposting gambar steak yang akan saya santap. Dan kalau mungkin teman-teman adalah satu korban yang ngences ngeliat foto-foto di blog saya ini, silahkan saja datang di dua TKP Holycow yaitu :

1. TKP Radio Dalam
Jl.Radio dalam raya No.15 Jakarta Selatan

2. TKP Senopati
Jl.Bakti No.15 Telp. 021-5270673

27 September 2011

Trip ke Banjarmasin

Minggu ini saya mendapat tugas kenegaraan dari kantor saya menuju Banjarmasin. Salah satu trip bersejarah, karena salah satu resolusi saya di tahun 2011 ini bisa tercapai, yaitu menginjakkan kaki di tanah Borneo untuk kali pertama. Dan perjalanan kali ini mendampingi salah satu artis saya, yaitu Samantha Band.



Perjalanan Minggu pagi itu diawali dengan rutinitas kurang tidur karena takut kebablasan yang dapat mengakibatkan ketinggalan pesawat. Jadilah seperti pada trip sebelumnya, saya tiba di Soekarno Hatta Airport dalam kondisi mengantuk berat. Untungnya hari itu dewi fortuna seolah sedang memeluk saya dengan erat. Pesawat Lion Air yang oleh beberapa rekan diubah dengan semena-mena namanya menjadi Delay Air saking seringnya terlambat, pagi itu melakukan sebuah keajaiban besar. Flight kami yang tertera adalah pukul 09.00 pagi dan pukul 08.30 seluruh penumpang sudah dipanggil untuk masuk pesawat. Biasanya cuma Garuda saja yang bisa menerapkannya.



Sempat bernarsis ria dulu sembari menunggu antrian masuki pesawat. Lalu segera tertidur pulas begitu duduk dibangku pesawat. saya terbangun beberapa menit sebelum mendarat di Airport Syamsudin Noor Banjarmasin.



Karena ini adalah kali pertama bagi saya menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan, maka sebbanyak mungkin saya harus mengabadikan moment-moment bersejarah ini. Dan wajib hukumnya untuk berfoto di depan tulisan bandara ini supaya saya tidak dikira mendayung sampan ke Kalimantan. Hahahahaha



Kesan pertama ketika menginjakkan kaki di Banjarmasin adalah panas. Sebenernya saya sudah terbiasa dengan cuaca panas mengingat saya sendiri berasal dari Palembang yang terkenal dengan cuaca panasnya. Tapi tidak tahu kenapa, cuaca di Banjarmasin ini terasa lebih menyengat dibandingkan dengan cuaca di Palembang. Bisa dibilang Banjarmasin dan Palembang merupakan dua kota dengan tipikal yang kurang lebih sama. Banyak sungai yang membelah beberapa wilayah lengkap dengan rawa-rawa dibeberapa tempat dan aktifitas masyarakat pinggir sungai nya juga kurang lebih sama satu dengan yang lainnya. Intinya saya sangat menikmati tempat demi tempat yang saya singgahi dikota ini. Hanya saja karena waktu kunjungan yang sangat singkat mengingat saya juga harus mendampingi anak-anak Samantha yang jadwalnya cukup padat, tidak terlalu banyak tempat yang bisa saya datangi.




Malam itu Samantha band perform di Jorong Cafe Banjarmasin. Dan setelahnya kami sempat mencicipi lontong orari yang katanya paling terkenal di Banjarmasin. Lontong yang rasanya lezat dengan porsi yang cukup besar dan lauk-pauk yang melimpah. Dan katanya lontong ini juga buka 24 jam.



Keeseokan harinya jadwal saya sebelum pulang adalah mengunjungi beberapa radio di Banjarmasin untuk bersilaturrahmi. Dan tidak lupa singgah ke jembatan Barito yang terkenal itu. Tadinya saya pikir Jembatan barito berada ditengah kota seperti Jembatan Ampera, ternyata saya salah. Untuk menuju ke Jembatan Barito, harus menempuh kurang lebih 30 menit perjalanan dari kota Banjarmasin.




Dan tentu saja tidak lengkap rasanya jika ke Banjarmasin tanpa mencicipi Soto Banjar yang sudah terkenal seantero Indonesia ini. Atas rekomendasi sahabat saya, maka saya memilih Depot Bang Amat yang berlokasi di pinggir sungai Martapura. Karena menurut teman saya porsi soto yang disajikan cukup banyak, maka sayapun memilih untuk memesan setengah porsi saja. Rasa sotonya lezat dan gurih sekali. Soto Banjar disajikan dengan lontong, perkedel,bihun, suwiran ayam dan telur bebek. Untuk teman makan soto, saya juga memesan setengah porsi sate ayam. Saya pikir yang namanya sate pasti sama saja satu dengan yang lainnya. Tapi ternyata sate di Banjarmasin untuk kuah kacangnya menggunakan kacang mede. Jadi tambah lagi nih pengetahuan kuliner saya.

Selesai makan siang waktu sudah menunjukkan pukul 15.30, maka sayapun memutuskan untuk mengakhiri perjalanan di Banjarmasin dan menuju airport Syamsudin Noor mengingat penerbangan saya kembali ke Jakarta pukul 16.30 WITA. Mengingat masih banyak tempat di Banjarmasin yang belum saya singgahi, saya bertekad akan kembali lagi suatu saat nanti. Terima kasih untuk Vian dan Fefey yang sudah menemani jalan-jalan pertama saya di tanah Borneo.

21 September 2011

Wisata Sejarah di Bengkulu

Hari Sabtu yang lalu saya menginjakkan kaki kembali dikota Bengkulu, setelah beberapa bulan sebelumnya pernah berkunjung meskipun hanya sekedar transit karena tujuan utama tempo hari adalah Curup yang berjarak lebih kurang 3 jam dari kota Bengkulu. Kunjungan kali ini bersama grup band Blackout yang akan menghibur masyarakat kota Bengkulu.



Bukan Goiq namanya kalau dalam perjalanan dinas saya tidak menyempatkan untuk jalan-jalan sejenak untuk sekedar mengenal lebih dalam kota yang saya kunjungi. Dan di Bengkulu ini pun saya kembali melakukannya. Dan berikut beberapa tempat yang saya kunjungi bersama sahabat saya Rado, sesama peserta 45 besar IT Travelers GO! 2011.

1. Rumah Ibu Fatmawati



Ini adalah rumah Ibu Fatmawati yang saat ini menjadi salah satu objek wisata sejarah di Bengkulu. Rumah ini berbentuk rumah panggung dan didalamnya masih menyimpan perabotan-perabotan dan foto-foto tempo dulu..

2. Rumah Pengasingan Bung Karno




Rumah ini dihuni oleh Bung Karno semasa diasingkan oleh penjajah Belanda pada tahun 1938 - 1942. Konon kabarnya, rumah ini tadinya milik orang Tionghoa. Dan aksen rumah Tionghoa itu bahkan masih dapat dilihat hingga saat ini. Didalam rumah ini masih tersimpan beberapa koleksi Bung Karno seperti buku-buku, sepeda dan foto-foto bersama Ibu Fatmawati. Sedikit informasi, pada saat pengasingan di Bengkulu inilah, Bung Karno bertemu Ibu Fatmawati yang kemudian menjadi istrinya dan menjadi ibu dari putra putrinya yang salah satunya kemudian mengikuti jejak sang ayah menjadi Presiden Republik Indonesia.

3. Tugu Thomas Parr



Sebelum datang ke Bengkulu, saya sama sekali tidak pernah tahu menahu soal Tugu Thomas Parr. Setelah datangpun saya tidak menemukan sama sekali petunjuk mengapa tugu ini begitu istimewa dan menjadi Cagar Budaya yang dilindungi oleh Undang Undang. Saya baru mengetahui tentang seluk beluk Tugu Thomas Parr ini setelah googling di laptop. Ternyata Tugu ini dibangun oleh pemerintah Inggris pada tahun 1808 untuk mengenang Residen Thomas Parr yang tewas dibunuh oleh rakyat Bengkulu. Dan bagi masyarakat Bengkulu sendiri, tugu ini merupakan simbol perlawanan masyarakat Bengkulu terhadap penjajahan Inggris.

4. Benteng Marlborough





Dan tujuan wisata sejarah selanjutnya dikota Bengkulu adalah Benteng Marlborough. Menurut Wikipedia, benteng ini dibangun pada tahun 1713 - 1719 pada era penjajahan Inggris. Benteng ini berdiri diatas bukit buatan menghadap kota Bengkulu dan membelakangi Samudera Hindia. Banyak sekali benda-benda peninggalan yang masih bisa dilihat di benteng ini seperti meriam yang bisa dilihat di beberapa sudut benteng ini.

5. Pantai Panjang




Setelah puas mengunjungi tempat-tempat bersejarah, tujuan saya selanjutnya adalah Pantai Panjang. Saya beruntung karena hotel tempat saya menginap berada dipesisir pantai panjang. Tinggal menyebrang jalan, maka langsung bertemu dengan pantai yang masih alami ini. Kata orang, belum sah datang ke Bengkulu kalau belum menginjakkan kaki di pantainya. maka selama saya berada di Bengkulu, sayapun berkali-kali datang ke pantai. Biar bener-bener sah. Hahahahaha... kalau sore, pantai ini banyak dikunjungi orang-orang untuk sekedar menikmati sunset atau jogging dihamparan pasir putihnya. Terlihat juga beberapa orang yang asyik bermain bola di pinggir pantai. Ahh.. suasana pantai berombak besar yang langsung menghadap ke Samudera Hindia ini membuat saya sangat betah berada di Bengkulu. Sayang saya hanya 2 hari saja berada di Bengkulu. Tetapi saya pasti akan kembali lagi untuk menikmati lagi semua keindahan ini...

15 September 2011

Review Kuliner : Pancake Durian Palembang

Meskipun lahir di Jakarta, tetapi saya menghabiskan lebih dari 3/4 hidup saya sampai saat ini di kota Palembang. Maka sudah pasti saya menyukai hampir semua kuliner Palembang, termasuk apapun yang banyak di temui di kota Palembang. Salah satunya adalah buah durian. Waktu masih kecil sampe remaja, saya bisa menghabiskan 2 buah durian ukuran besar sekaligus. Hanya saja setelah lebih dewasa saya mulai membatasi makan durian dalam jumlah besar karena alasan kesehatan. Di Palembang sendiri saking banyaknya buah berduri dan berbau tajam ini, banyak sekali produk turunan yang berbahan dasar durian. Diantaranya adalah seraweh durian yang merupakan durian yang dimasak dengan gula merah dan dimakan dengan ketan.. Ibu saya sering sekali membuat seraweh durian ini, karena merupakan salah satu makanan kesukaan ayah saya. Selain itu ada juga tempoyak yang merupakan fermentasi durian yang kalau sudah menjelma menjadi pepes tempoyak atau sambel tempoyak maka akan menjadi salah satu makanan lezat yang disukai seluruh anggota keluarga saya. Lalu ada juga lempok durian dan wajik durian.

Ketika pertama kali menginjak Medan tahun 2010 lalu, saya baru tahu kalau di Medan buah durian selalu ada sepanjang tahun. Dan tentu saja saya juga menemukan kuliner berbahan dasar durian yang belum pernah saya coba sebelumnya. Satu yang saya suka adalah Pancake Durian di Resto Nelayan yang berlokasi di Merdeka Walk dan Sun Plaza. Warna hijau yang imut-imut membuat saya gemas untuk memakannya. Sejak saat itu pancake durian jadi salah satu kuliner wajib yang harus saya makan setiap berkunjung ke Medan.

Dengan asumsi bahwa kota Palembang juga merupakan kota penghasil buah durian, meskipun durian tidak selalu ada di palembang alias hanya pada musim tertentu saja, saya berpikir mestinya palembang juga penganan lezat seperti pancake durian yang ada di Medan. Rupanya asumsi saya tidak salah, dari sebuah ReTweet di akun twitter @SputarPalembang ,saya jadi tahu bahwa di Palembang ada yang menjual Pancake Durian dan berbagai varian pancake lainnya. Dan mereka menggunakan label Bilik Manis Pancake. Dan uniknya mereka menjual Pancake Durian ini dengan menggunakan mobil dan nongkrong di depan GOR Kampus Palembang.



Harga pancake yang dijual di Bilik Manis Pancake ini Rp.3.000,- untuk pancake durian dan Rp.2.500,- untuk varian pancake lainnya. Adapun varian pancake lain yang ditawarkan Bilik Manis pancake adalah pancake jagung, pisang, alpukat, fla dan cocktail. Pastinya sangat menggemaskan untuk disantap. Dan yang jelas semua pancake dijual dalam keadaan fresh karena Bilik manis tidak menjual Pancake yang yang sudah lebih dari sehari. Pancake yang dibuat hari ini untuk dijual hari ini juga. Hasil obrol-obrol saya dengan Dimas dan Ayu yang merupakan owner dari Bilik Manis Pancake, awal mula mereka memutuskan untuk membuat usaha ini karena kesukaan mereka berdua pada buah durian sementara di Palembang belum ada varian baru dari kuliner berbahan dasar durian. Dengan sedikit improve dari pancake durian yang sudah terkenal di Medan, maka terciptalah pancake durian ala Bilik Manis ditambah dengan varian pancake lainnya.




Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, di Palembang buah durian adalah buah musiman. Karena itu untuk mengantisipasi hal ini, Dimas dan Ayu mendatangkan buah durian dari Medan yang selalu ada setiap saat. Dan alhamdulillah selama 4 bulan berjualan, Bilik Manis Pancake berhasil menjual 10.000 pcs pancake setiap bulannya. Hal ini bisa dimaklumi karena hampir semua orang Palembang suka durian dan juga suka akan sesuatu yang baru. Sejauh ini konsumen Bilik Manis Pancake mencakup semua kalangan mengingat harga perbuahnya yang sangat murah. Melihat respon yang sangat baik ini, Dimas dan Ayu berencana untuk membuat tempat permanen untuk Bilik Manis Pancake ke depannya, selain supaya lebih tenang berjualan rupanya selama ini mereka ngga jarang kejar-kejaran dengan Pol PP.



Apapun itu, saya salut dengan semangat dua anak muda Palembang ini membangun usaha mereka. Buat saya itu sesuatu banget *Syahrini style*. Yang jelas kehadiran Bilik Manis Pancake menambah daftar kuliner berbahan dasar durian yang harus di coba kalau ke Palembang. Buat teman-teman yang ingin mencoba kelezatan pancake durian dan varian pancake lainnya khas Bilik Manis, silahkan datang ke depan GOR Kampus Palembang atau follow akun twitter @BILIKMANISpncke untuk info seputar produk-produk mereka atau mungkin lokasi berjualan mereka. Dan bisa juga hubungi :

04 September 2011

Review Hotel : Aston Palembang

Sebelumnya saya mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H, mohon maaf lahir dan batin bila banyak khilaf selama ini. Alhamdulillah tahun ini masih diberi kesempatan untuk mudik ke Palembang dan merayakan lebaran bersama keluarga meskipun tidak dalam formasi lengkap karena adik saya memilih berlebaran di Jakarta bersama keluarganya.

Ketika baru tiba di Palembang dan dalam perjalanan menuju rumah, saya melihat sebuah hotel baru telah dibuka. Hotel itu bernama Aston Palembang.Saat menjelang PON tahun 2004, Hotel Aston sempat membuka cabangnya di Palembang. Namun entah kenapa beberapa tahun kemudian mereka menarik diri dan kemudian hotel itu berpindah management menjadi The Aryaduta Hotel yang sampai saat ini masih eksis. Dan setelah melihat penampakan Hotel Aston Palembang yang baru buka bulan Juli lalu, saya langsung berpikir untuk memanfaatkan waktu semalam atau dua malam untuk menginap di hotel ini.

Beruntung saya bisa mendapatkan corporate rates dari seorang teman. Maka beberapa hari setelah lebaran saya pun menginaplah di hotel ini. Berikut foto-foto penampakan hotel dan sedikit review dari saya :


Inilah Hotel Aston Palembang, saya sangat menyukai bentuknya yang unik tapi jujur tidak menyukai warna putih yang membalut dinding tembok secara keseluruhan karena menurut saya warna putih identik dengan cepat kotor. Tapi mudah-mudahan saya salah soal ini...


Lobby nya sangat luas. Hanya saja kalau pagi beberapa sudut lobby terasa sangat panas dan silau karena cahaya matahari yang menembus masuk. Selain itu saya juga kurang suka dengan beberapa sofa berwarna orange yang menurut saya terasa kurang waah untuk ukuran hotel berbintang dan beberapa bagian lantai di sekitar lobby yang kurang kinclong.

Resepsionis sangat ramah dan menyenangkan, dan saya juga sangat menyukai kain songket yang dipasang sebagai latar di belakang meja resepsionis berikut keterangan motif kain songket tersebut.

Kolam renang, fitness center dan tempat spa berada dalam satu lantai dan masuk dari satu pintu yang sama sehingga sangat memudahkan. Sayangnya saya tidak sempat menjajal fitness center nya karena memang lagi malas berolahraga.




Kolam renangnya berukuran sedang dan berbentuk segitiga dengan beberapa sudut terbuat dari kaca. Ketika pagi hari saya duduk di pinggir kolam renang, suasananya sangat menyenangkan dengan angin yang berhembus semilir.

Lorong menuju kamar sangat bersih dan nyaman



Kamarnya juga sangat menyenangkan. Saya suka tempat tidurnya yang empuk, saluran tv nya lengkap dan gambarnya semuanya bersih, mini bar nya komplit, shower kit juga lengkap. Hanya sayang ketika memesan makanan di menu, belum semua makanan yang ada di daftar tersedia. Tapi karena hotelnya masih baru saya pun maklum. Ketika sarapan di Belido Resto pagi harinya, saya benar-benar menikmati semua menu yang disajikan. Egg stationnya pun lumayan komplit karena pagi itu tersedia Omelette dan pancake.

Mudah-mudahan semua kekurangan bisa disempurnakan sebelum grand opening hotel ini dilakukan. Tapi yang jelas hotel ini sudah sangat siap menyambut para tamu yang akan datang di SEA Games bulan November nanti. Dan buat teman-teman yang akan berkunjung ke Palembang dan mungkin ingin menginap di hotel ini, silahkan datang ke :

Aston Palembang Hotel & Conference Center
Jl. Basuki Rahmat No. 189
Palembang 30126, Indonesia
t: +62 711 388 999