31 October 2011

Untuk Seorang Sahabat

Dear sahabatku,

Hampir 3 tahun saya menjadi sahabatmu, mulai dari kita sama-sama bekerja di profesi yang sama hingga kemudian tidak lagi satu profesi, tapi kita tetap bersahabat. Saya selalu memantau kabarmu meskipun hanya lewat status-status mu di social media. Berbeda kota tidak menjadikan persahabatan kita menjadi garing. Malah semakin akrab dan penuh warna. Beberapa kali saya singgah ke kotamu baik dalam rangka pekerjaan maupun sekedar liburan. Kamu mengajak saya menjamah kotamu yang sama sekali belum pernah saya pijak. Saya selalu bercerita, mengeluh atau berbagi apapun yang bisa saya bagi dengan kamu. Karena kamu sahabat saya...

Hingga akhirnya hari ini, saya bertanya kepadamu tentang sebuah kabar tanpa bermaksud apapun dibalik pertanyaan saya. Sekedar kepedulian seorang sahabat. Dan kamu begitu emosi karenanya. Meskipun kamu mengatakan kamu tidak marah, tapi kalimat-kalimatmu via BBM menggambarkan kemarahan itu. Saya mencoba menjelaskan kenapa saya bertanya, tapi emosimu tampaknya begitu memenuhi setiap rongga syarafmu. Hingga akhirnya kamu mengatakan bahwa persahabatan diantara kita cukup sekian saja.

Rasa bersalah saya karena hal ini membuat saya menerimanya. Jika hanya dengan mengakhiri persahabatan bisa membuat kamu dapat memaafkan saya, maka saya terima. Tapi kamu harus tahu, bahwa tidak ada sedikitpun niat saya untuk membuat kamu marah. Meskipun kamu merasa tidak lagi bersahabat dengan saya, tapi sampai kapanpun kamu akan selalu menjadi sahabat saya. Sekali lagi saya mohon maaf untuk sebuah pertanyaan ini.


Regards


Sahabatmu

27 October 2011

Selamat Hari Blogger Nasional

Tujuh tahun lalu ketika saya memutuskan kembali ke kampung halaman saya Palembang,setelah hampir 5 tahun menempuh study perguruan tinggi di Jakarta, saya dipaksa untuk ngeblog supaya bisa selalu update cerita dengan adik angkat saya. Tujuh tahun berlalu saya masih bertahan untuk terus menulis disini, meskipun sudah tidak lagi dalam tahap paksaan tentunya. Semua saya lakukan dengan senang hati... Proses itu tentu saja saya lalui dengan tidak mudah. Sempat beberapa kali HIATUS cukup lama dari dunia perbloggeran. Hingga akhirnya bisa kembali rajin menulis dengan semangat yg sama seperti tahun-tahun awal ngeblog dulu. Saya menulis dari hati tanpa memikirkan berapa banyak yang akan mengomentari tulisan saya, berapa banyak jumlah pengunjung blog saya bulan ini, atau berapa rating blog saya. Saya juga bukan blogger gaul dan blog ini pun tidak pernah memberikan saya keuntungan secara finansial maupun memenangkan lomba ini dan itu yang berhadiah jalan-jalan kesini dan kesitu seperti blog teman-teman saya yang lain. Tapi saya tidak pernah merasa menjadi seorang yang merugi. Karena dari blog ini saya punya teman-teman yang selalu care dengan saya. Selalu menyemangati saya untuk tetap menulis. Menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya temui, dan apa yang ingin saya bagi. Karena saya blogger, dan ini blog saya !!! Selamat Hari Blogger

25 October 2011

Pesona Belitung

Dalam sebuah kebuntuan ide beberapa bulan yang lalu, saya dan seorang rekan seprofesi tapi berbeda kantor memutuskan untuk mencari suasana baru. Beberapa tempat seperti Lombok, Balikpapan dan Jogja tadinya sempat masuk daftar tempat yang akan menjadi tujuan kami. Tetapi ternyata harga tiket pesawat ke tempat-tempat tersebut terasa mencekik leher. Hingga angin apa yang tiba-tiba membuat saya mencari tahu harga tiket ke Pulau Belitung. Dan ternyata harganya masuk akal. Tanpa banyak kata, saya dan teman saya memutuskan membeli tiket ke Belitung beberapa hari kemudian. Setelah tiket dibeli, langkah selanjutnya adalah mencari informasi sebanyak banyaknya mengenai tempat-tempat yang harus saya kunjungi selama kami berada di Negeri Laskar Pelangi ini. Saya sengaja melewatkan beberapa tempat lokasi syuting Laskar Pelangi dan Tambang PT.Timah dari list tempat yang akan sayang kunjungi.


Kami sengaja memilih penerbangan pertama menuju Belitung supaya bisa mengunjungi banyak tempat hari itu juga, mengingat perjalanan kali ini hanya berlangsung satu hari satu malam saja. Ketika menginjakkan kaki pertama kali di Bandara H.AS Hanadjoeddin,kesan pertama saya bandara ini jauh lebih baik daripada beberapa bandara di ibu kota propinsi yang pernah saya singgahi. Padahal Belitung sendiri adalah salah satu kabupaten dari Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kesan pertama yang tentu saja sangat menyenangkan. Dan setelahnya mulailah kami mengunjungi pantai-pantai eksotis yang tersebar di Belitung.

1. Pantai Bukit Berahu



Pantai pertama yang saya singgahi bernama pantai Bukit Berahu. Untuk mencapai pantainya, kita harus menuruni deretan tangga tangga dan beberapa resort yang disewakan. Ketika saya datang kesana, tidak ada orang lain selain saya dan teman saya. Pantainya juga dalam keadaan kotor oleh batang-batang kayu dan rumput-rumput laut yang terbawa ombak.

2. Pantai Kelayang




Pantai selanjutnya yang saya datang adalah Pantai Kelayang, saya suka melihat bebatuan besar yang terdapat di pantai ini. Pasirnya juga lembut, bahkan sempat terbersit niat untuk membuat istana pasir. Tapi mengingat masih banyak tempat yang harus kami singgahi, sayapun mengurungkan niat itu.

3. Pantai Tanjung Tinggi



4. Pulau Lengkuas






Dan salah satu tempat yang menurut saya terbaik dari semua tempat yang saya datangi adalah Pulau Lengkuas. Untuk mencapai pulau ini, ada banyak tempat yang menyediakan kapal motor yang disewakan. Hal menarik pertama yang saya rasakan ketika menginjak pulau ini adalah mercu suar tua yang kabarnya masih berfungsi hingga saat ini. Para turis pun diperbolehkan untuk naik keatas mercu suar dan melihat pemandangan disekitar pulau Lengkuas dari atas. Hanya saja karena terlalu lelah, saya memutuskan untuk tidak naik keatas dan cukup menikmati Pulau Lengkuas dari bawah saja. Hal kedua yang membuat pulau ini istimewa adalah deretan batu-batu besar yang tersusun. Saya langsung birahi tinggi untuk mengabadikan diri di deretan batu-batu besar nan eksotis ini.


Yang membuat saya senang, sepanjang perjalanan menuju Pulau Lengkuas, mata kita akan disajikan hamparan batu-batu besar ditengah laut sekalipun. Sebenarnya ada beberapa pulau yang direkomendasikan untuk didatangi seperti Pulau Burung dan Pulau babi. Hanya saja karena keterbatasan waktu, saya hanya memilih pulau Lengkuas saja.

6.Danau Kaolin


Sebelum kembali ke Jakarta, saya menyempatkan diri singgah di danau tambang kaolin. Kaolin atau Clay adalah bahan untuk membuat cat dan kosmetik. Disatu sisi danau kaolin dengan airnya yang berwarna kebiruan ini sangat indah untuk dipandang, tetapi disisi lain, penambangan kaolin ini jelas telah merusak alam Pulau Belitung sendiri. Sungguh sebuah dilema.

Walaupun hanya sehari semalam saja liburan saya di Pulau Belitung, tapi meninggalkan banyak kesan yang sangat menyenangkan. Saya sangat suka keindahan pantai-pantai nya. Hanya saja sangat disayangkan pengelolaan pariwisata di Pulau Belitung ini terasa belum maksimal. Padahal dengan panorama begitu indah ini, mestinya Belitung bisa menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi bagi para pecinta pantai. Mudah-mudahan kedepannya pengelolaan pariwisata di Belitung ini akan lebih baik daripada sekarang dan Belitung akan menjadi surga baru bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara.

22 October 2011

Review Kuliner : Waroeng Lovina

Kemarin siang, saya dan rekan-rekan sekantor sedang memikirkan rencana untuk makan siang. Karena sudah diatas tanggal 20 dimana kondisi keuangan sudah mulai memaksa untuk berhemat, kami pun memutar otak mencari tempat makan murah meriah tapi bisa memuaskan birahi para cacing diperut. Hingga akhirnya kang Butong mengusulkan untuk makan di Waroeng Lovina yang berada jalan Ampera. Maka meluncurlah saya, kang Butong, Ryna, Dina dan Mbak Nisa ketempat yang dimaksud. Mendengar namanya saya sudah berpikir bahwa warung ini pastinya menyediakan menu khas Bali. Ternyata dugaan saya benar, begitu sampai disana, nuansa khas Bali begitu terasa di warung yang sebenarnya sangat sederhana ini. Dan yang membuat kami ternganga adalah harga menu yang disajikan semuanya sangat murah. Maka mulailah kami memesan makanan.



Saya memesan Ikan kakap Bakar dan minumnya es teh manis. Rasanya sangat lezat, apalagi ketika ikan dicocol dengan sambal matah. Kami sampai nambah sambelnya loh karena sambel yang disajikan porsinya tidak terlalu banyak. Dalam beberapa menit piring saya hanya tersisa tulang belulang ikan yang berserakan.



Setelah selesai makan, piring-piring dan ulekan sambel diangkat dari meja kami. lalu kami mendapat hidangan penutup sebuah kue dadar gulung. Dadar gulung yang disajikan berisi parutan kelapa dan pisang dan rasanya sangat lezat. Dan yang sangat menyenangkan adalah ketika membayar dikasir, pesanan kami berlima cuma seharga Rp.157.000,- saja. Murah bukan ??? Kalau tertarik pengen makan disana, langsung saja datang ke :

Waroeng Lovina
Jl. Ampera Raya No.15
Cilandak, Jakarta Selatan
Telp: 081808564928

16 October 2011

Goiq Dan Komunitas Blogger Wongkito



Saya sudah ngeblog sejak tahun 2004, artinya sudah 7 tahun lebih saya mengekspresikan diri saya di media ini. Asal muasal saya ngeblog cuma sekedar iseng, karena saya suka menulis walaupun bukan tulisan berbau sastra. Hingga beberapa tahun lalu saya mengenal komunitas blogger Wongkito. Hanya saja untuk masuk menjadi member, saya merasa belom pede. Saya sempat mengikuti beberapa acara yang diadakan oleh anak-anak Wongkito, melihat serunya bergaul bersama mereka dan kebersamaan yang terjalin diantara para member membuat saya memberanikan diri mengikuti ritual Pecah Telok pada tanggal 27 Oktober 2008 tepat di hari blogger. Dan inilah video yang saya pakai untuk mengikuti proses Pecah Telok yang mana saya diterima menjadi anggota kurang dari 24 jam saja...



Setelah resmi bergabung dalam komunitas blogger wongkito, maka dimulailah kebersamaan saya yang indah bersama teman-teman blogger wongkito. Mulai dari berbagai macam kopdar intern mulai dari kopdar bandrek, Celimpungan sampai kopdar buku...





Urusan eksis mah anak-anak blogger Wongkito memang jagonya.. Masih inget dong waktu kita ikutan kuis RT RW yang tayang di Pal TV. Lumayan kita waktu itu dapet duit Rp.750.000 yang langsung ludes di resto ayam bakar Solo Berseri.. Heboooh...


Urusan bikin acara, ternyata anak-anak blogger Wongkito selalu punya ide... Kita pernah bikin acara pelatihan blogger bertajuk Wongkito Goes To School (WKGTS)dan Wongkito Sehari Di panti Asuhan (WSDPA. Juga menggelar Road To Pesta Blogger 2009 dan acara-acara lainnya...





Anak-anak blogger Wongkito juga sangat terbuka menyambut kedatangan teman-teman blogger dari luar kota mauoun dari luar negeri yang datang ke Palembang. Ngga percaya ?? Tanya saya sama Dimas Novriandi, Nona Dita, Chika, Ichanx, Anthony Blanco, Yudhist Tukang Kopi, dll yang pernah datang ke Palembang..





Jangan pernah jaim kalau kopdar dengan anak-anak blogger Wongkito. Lepaskan diri kalian dan berposelah seheboh mungkin didepan kamera seperti diperagakan para model dibawah ini...





Demikianlah sekilas cerita saya dan teman-teman saya di Komunitas Blogger Wongkito. Postingan ini saya tulis dalam rangka memeriahkan ulang tahun ke-4 komunitas yang sudah 3 tahun ini saya ikuti. Banyak sekali yang saya dapatkan semenjak bergabung disini. Saya punya banyak sahabat yang luar biasa yang memiliki banyak aktifitas positif yang mewarnai kehidupan saya. Dan sebagai kado, saya berikan sebuah video aktifitas anak wongkito yang sedang menggila.Selamat menikmati..

15 October 2011

Wejangan



Ketika saya mulai memasuki usia remaja dan mulai mengenal istilah bergaul, ayah saya banyak selali memberikan wejangan-wejangan seputar dunia persahabatan. Biasanya saya selalu terima wejangan itu bulat-bulat kalau memang itu masuk diakal saya atau memang berguna untuk kehidupan saya. Tapi diantara banyak wejangan tersebut, ada 2 wejangan yang selalu saya bantah.

1. Musuh terbesarmu bisa jadi adalah orang yang merangkul pundakmu dan menyebut diri mereka sebagai sahabat.

2. Tidak ada sahabat sejati didunia ini, yang ada hanya kepentingan abadi.


Saya selalu membantah dua wejangan itu. Karena saya mengenal sahabat-sahabat saya. Mereka berteman dengan saya karena saya, dan bukan karena anak siapa saya. Bukan karena rumah saya yang besar, bukan karena fasilitas yang diberikan oleh orang tua saya. Selama 30 tahun hidup saya, sahabat-sahabat saya selalu ada disisi saya seburuk apapun kondisi saya. Dan ketika tahun lalu saya mulai bekerja di Jakarta, bergaul dengan dunia yang sama sekali berbeda dengan pergaulan saya di Palembang. Saya baru mulai menyadari bahwa dua wejangan ayah yang selalu saya bantah ternyata ada benarnya, meskipun tidak semuanya benar. Saya bertemu dengan beberapa orang yang bangga merangkul saya sebagai sahabat, tetapi dibelakang saya dia menjelek-jelekkan saya atau kantor tempat saya bekerja. Ada pula musuh dalam selimut yang selalu memasang wajah polos tanpa dosa tapi ternyata adalah seorang penjilat nomor wahid. Ada pula yang memanfaatkan kebaikan saya untuk mengumpulkan informasi seputar pekerjaan yang saya geluti saat ini.

Mata saya akhirnya terbuka, bahwa tidak semua orang bisa saya jadikan sahabat dan tidak semua orang pantas menyebut diri mereka sebagai sahabat. Terima kasih ayah, karena selalu memberi saya wejangan yang berguna untuk kehidupan saya.

14 October 2011

Review Film : Abduction

Hari Jumat dipertengahan bulan Oktober tekanan pekerjaan terasa sangat berat dan mengakibatkan otak saya terasa penuh sesak. Menunggu jam 5 sore berasa nunggu berhari-hari. Cuma satu rencana saya sepulang kantor, shopping di Pejaten Village. Entah kenapa belakangan ini kegiatan belanja membuat pikiran saya sedikit lebih rileks. Mudah-mudahan hobi baru ini cuma dampak dari overload nya otak saya. Singkat cerita saya tiba di Pejaten Village dan bergegas menuju lift. Tujuan awal mau melihat-lihat buku baru buat bahan bacaan kalau lagi senggang atau saat sedang travelling. Padahal dirumah ada beberapa buku baru yang sudah saya beli yang plastiknya belum saya buka. Hahahahaha.. Entah karena terlalu bersemangat atau karena lamunan, saya ternyata salah pencet tombol lantai di Lift. Saya keluar dilantai paling atas tempat XXI berada. Kadung sudah keluar lift, sayapun memutuskan masuk ke bioskop melihat-lihat film apa yang sedang tayang maupun yang akan tayang. Dan tiba-tiba saya melihat poster film Abduction yang diperankan oleh Taylor Lautner yang terkenal karena perannya di Film Twilight, New Moon dan Eclipse sebagai Jacob Black. Tahu-tahu saya sudah beli tiket dan langsung duduk di kursi B10 studio 2 Pejaten Village XXI.



Dalam film ini Taylor berperan sebagai Nathan Harper, seoarang remaja sekolahan dari keluarga yang sangat harmonis. Naksir diam-diam dengan tetangganya yang juga teman sekelasnya di sekolah yang bernama Karen yang diperankan oleh Lily Collins yang merupakan putri musisi ternama Phil Collins. Hingga kemudian dalam sebuah tugas pelajaran sosiologi, Nathan dan Karen menjadi satu team untuk mengerjakan sebuah tugas. Dan entah kenapa mereka akhirnya membicarakan website yang membahas tentang orang-orang hilang. Dan mereka menemukan sebuah foto bocah lelaki yang mirip sekali dengan Nathan. Bahkan untuk meyakinkan ini, Nathan sampai melakukan rekayasa digital untuk mengetahui seperti apa muka si bocah ketika dewasa. Dan ternyata wajah Nathan lah yang terpampang disitu. Hingga akhirnya rahasia besar tentang jati diri Nathan terungkap satu demi satu hingga akhir film.

Sebenarnya ketika saya memutuskan untuk membeli tiket film ini, karena saya tertarik dengan poster nya. Kalau melihat poster diatas pastinya kita langsung membayangkan adegan action yang akan tersaji di sepanjang film ini. Cuma sayang, adegan action yang ada justru sama sekali tidak mendebarkan. Film ini seperti hanya ingin menjual pesona Taylor Lautner untuk mengeruk penonton. Dan hasilnya ?? Buruk menurut saya !!! Dengan body kekar dan perawakan macho, Lautner berakting terlalu manis. Lawan mainnya Lily Collins justru berakting lebih baik daripada Taylor. Sebenernya film ini bisa berpotensi jadi tontonan yang menarik kalau saja adegan-adegan actionnya lebih maksimal. Hanya saja, sutradara sepertinya lebih suka menonjolkan benih-benih cinta yang tumbuh antara Nathan dan Karen. Sehngga banyak sekali adegan gak masuk akal yang terjadi. Coba bayangkan, dalam kondisi nyawa terancam karena lagi dikejar-kejar musuh bersenjata dengan peralatan canggih, kok si Nathan dan Karen ini masih sempet-sempetnya asyik mahsyuk diatas kereta. halaaah... Benar-benar merusak suasana kalau menurut saya. Trus bukti kalau film ini cuma menjual pesona Taylor Lautner adalah wajah Nathan yang tetap bersih tanpa luka dan lebam dari awal sampai akhir cerita. Padahal diatas kereta sudah tonjok-tonjokan loh. Karen aja masih ada adegan muka bengep karena abis ditonjok.

Tapi terlepas dari banyaknya cacat di film ini, saya tetap yakin pesona Taylor Lautner masih mampu mendatangkan penonton meskipun saya yakin juga angkanya akan jauh dibawah film-film Taylor Lautner sebelumnya. Dan setelah menonton sampai tuntas ,saya kasih nilai 5/10 untuk Film Abduction...

11 October 2011

Review Film : Smurf

Bicara soal Smurf, saya langsung teringat dengan sosok makhluk kecil lucu berwarna biru yang pernah saya baca dikomik ketika saya kecil. Nama-nama tokohnya menyesuaikan dengan karakter si tokoh. Dan beberapa masih saya hapal hingga kini seperti Papa Smurf sang pemimpin, Smurfin yang merupakan satu-satunya Smurf berjenis kelamin perempuan, Smurf Kacamata yang sok tau dan terlihat menyebalkan, Smurf Gerutu yang hoby nya menggerutu tiada habisnya, lalu ada Smurf genit yang tidak bisa dipisahkan dari cermin, Smurf Ceroboh yang karena kecerobohan terkadang suka menyusahkan orang lain, Smurf Gembul yang suka sekali makan, dan masih banyak karakter Smurf lainnya. Mereka bicara dengan bahasa smurf, yang selalu menggunakan kata smurf untuk menjelaskan sesuatu. Para Smurf ini tinggal di Desa Smurf dan mereka selalu bekerjasama satu dengan yang lainnya. Musuh abadi mereka adalah Gargamel dan kucingnya Azrael.




Saking sukanya sama komik ini, saya nyaris mengkoleksi semua judul Komik Smurf. Hanya sayang, koleksi komik ini sekarang sudah lenyap tak berbekas. Dulu juga saya sempet berhayal bakal liat tokoh Smurf di filmkan, baik itu dalam bentuk serial kartun maupun film layar lebar. Dan saya berjanji akan bela-belain nonton dibioskop kalau sampai Smurf di bikin versi film layar lebar. Sayang sampai saya dewasa, harapan itu menguap entah kemana. Smurf hanya tinggal sejarah masa kecil saya.





Hingga akhirnya ketika saya jalan-jalan ke Kuala Lumpur bulan Juni lalu, saya sempat menonton Film disana dan melihat trailer film The Smurfs. Saya langsung membulatkan tekad untuk menonton film ini ketika diputar dibioskop Indonesia. Dan malam ini sepulang dari kantor saya menyempatkan diri mampir ke Pejaten Village XXI buat nonton film ini dan mewujudkan salah satu mimpi terbesar saya sejak suka pada pandangan pertama dengan Smurf.




Pada intinya saya suka film The Smurfs ini. Meskipun sebelumnya saya sempat membaca beberapa review kalau film ini jelek, tidak membuat saya bergeming untuk datang ke bioskop dan menonton langsung. Dan setelah menontonpun menurut saya film ini bagus, meskipun tidak seperti yang saya bayangkan dan harapkan. Kalau saya pribadi sih maunya film ini tidak usah buru-buru ngambil setting di New York, saya lebih suka kalau keadaan di Desa Smurf yang masih tersimpan dengan baik di memori saya dari komik yang pernah saya baca dulu lebih ditonjolkan. Kalaupun ada hal-hal yang tidak ada dalam komik yang ingin ditampilkan mungkin lebih ke arah asal muasal Smurf dan kenapa Gargamel begitu bernafsu untuk memburu mereka. Tapi kembali lagi, itu cuma harapan saya pribadi loh. Hahahaha..

Kalau teman-teman yang dulu pernah menjadi fans berat Smurf, pernah mengkoleksi komik-komiknya, atau seperti saya yang pernah berharap bisa memelihara salah satu dari mereka dikamar. Saya rasa ngga ada salahnya untuk memasukkan film ini kedalam daftar film yang harus ditonton. Karena seperti pengalaman saya malam ini, penonton film ini lebih didominasi oleh orang-orang kantoran yang sudah berusia dewasa yang saya yakin niat mereka menonton tidak jauh berbeda dengan saya, yaitu untuk mengenang kembali masa lalu. Dan pastinya akan bertambah seru bila kita mengenang masa lalu sambil menularkan apa yang pernah kita suka kepada anggota keluarga kita yang mungkin belum pernah tahu akan kisah makhluk berwarna biru setinggi 3 buah apel bernama Smurf.

09 October 2011

Review Hotel : Turi Beach Resort Batam

Mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa saya belakangan ini hobi sekali mereview hotel di blog ini. Jawabannya singkat jelas dan padat. Buat saya prbadi, hotel bukan sekedar tempat untuk meletakkan barang-barang ketika berkunjung kesuatu tempat, bukan juga tempat untuk sekedar tidur setelah melakukan aktifitas seharian dikota yang saya singgahi. Buat saya hotel memiliki makna lebih dari itu. Saya bisa menemukan suasana yang berbeda diluar kamar yang biasa saya tiduri, dan itu menimbulkan sensasi tersendiri bagi saya. Karena itu sesingkat apapun keberadaan saya disuatu hotel, saya selalu menyempatkan diri untuk menjelajah setiap sudutnya dan menemukan sisi-sisi yang menarik yang bisa saya bagi.



Salah satu hotel yang membuat saya terkesan dan ingin sekali untuk kembali kesana adalah Turi Beach Resort Batam. Sebenarnya namanya sudah Resort, tapi kok saya agak canggung kalo terlalu sering menyebutnya demikian. Jadi saya mohon dimaklumi untuk menyebutnya tetap dengan sebutan hotel. Hotel ini berjarak sekitar 30 menit dari pusat kota Batam, dan kita harus melalui jalan yang turun naik untuk mencapai hotel ini. Dikiri kanan sepanjang jalan menuju hotel ini masih sangat sepi, agak heran juga ketika tahu-tahu ketika menemukan hotel sebagus ini setelah perjalanan cukup panjang yang harus kita tempuh. Kesan pertama ketika memasuki lobby hotel ini adalah eksotis. Berasa ada di Bali (padahal waktu itu saya sama sekali belum pernah ke Bali). Dari lobby hotel kita bisa melihat pantai dan laut. Sangat menyenangkan..



Hotel ini memiliki dua sisi. Satu sisi berbentuk pondok-pondok yang bernuansa tradisional dan sisi lainnya berupa bangunan modern. Dan saya sangat beruntung karena bisa mencoba kedua-duanya. Teman saya kebetulan mendapat kamar dibangunan yang modern sedangkan saya mendapat kamar dipondokan yang bernuansa tradisional. Saya kebetulan mendapat kamar yang berada dibagian atas bukit, dan untuk mencapainya harus melewati jalan yang menanjak. Sebenarnya pihak hotel menyediakan mobil untuk para tamu yang malas berjalan kaki atau membawa banyak barang. Tetapi bagi saya yang suka jalan, inilah kesematan untuk menjamah semua sisi hotel ini. Dan sepanjang jalan menanjak menuju kamar, saya menemukan banyak sekali binatang-binatang liar seperti monyet yang hidup bebas disekitar hotel.





Satu pondokan terbagi menjadi dua kamar yang terpisah. Kamarnya tidak terlalu luas, tapi nuansa romantisnya sangat saya suka. Kamar dengan nuansa serba kayu dengan atap rumbia ini membuat tidur saya malam itu sangat nyenyak. Apalagi suara-suara binatang malam cukup terdengar dari dalam kamar.




Untuk menuju tempat sarapan pagi, saya harus kembali berjalan kaki menuruni bukit karena tempat sarapan pagi berada di dekat lobby. Sangat menyenangkan berjalan menyusuri pondok-pondok dengan udara yang sangat segar. Membuat nafsu makan saya ketika sarapan melonjak drastis (padahal emang rakus dari sononya). Menu sarapan yang tersaji pun bervariasi dan rasanya juga sangat lezat.





Selesai sarapan, saya langsung berjalan-jalan mengitari sudut hotel yang belum sempat saya jamah ketika saya tiba. Tujuan pertama adalah kolam renang yang berada di dekat restoran tempat saya sarapan pagi. Betapa inginnya saya menceburkan diri di airnya yang dingin itu. Tapi ketika saya sadar kalau saya tidak bisa berenang, maka sayapun langsung mengurungkan niat itu. Lalu saya beralih ke pantai yang berada tidak jauh dari kolam renang. Gatal sekali kalau melihat pantai tanpa mencelupkan kaki ini ke airnya,maka tanpa ragu-ragu sayapun bermain air sejenak. Setelah puas, lalu saya melangkahkan kaki saya ke dermaga kecil. Dari dermaga ini, kita bisa melihat Singapura dikejauhan.




Buat yang suka snorkeling, hotel ini juga menyediakan perlengkapan dan kapalnya sekaligus. Kita akan dibawa ke lautan antara Batam dan Singapura. Dari tempat kita snorkeling ini gedung-gedung pencakar langit di Singapura semakin terlihat dengan jelas. Hanya sayang, apa yang ingin dilihat dibawah laut malah tidak terlihat jelas. Hahahaha..

Intinya saya sangat kecewa menginap di Turi Beach Resort. Kecewa karena cuma bisa menginap satu malam saja. Padahal rasanya masih banyak sudut hotel yang belum sempat saya jamah. Jika ada waktu untuk berlibur lagi, rasanya saya ingin menginap disana untuk beberapa malam tanpa keluar dari lingkungan hotel. Apalagi jika berdua sama pasangan.. Ihiiiy.. Kalau ada rencana ke Batam dan ingin menginap di hotel ini, langsung saja datang ke :

Turi Beach Resort
Jl. Hang Lekiu, Nongsa
Batam - 29465, Indonesia
Tel +62-778 761 080