29 June 2012

Pertama Kali Naik Pesawat Propeller

Akhirnya perjalanan dinas saya ke 5 kota di Sumatera dan sekitarnya berakhir juga tadi malam. Sebenarnya ada niat untuk langsung posting blog saat berada di hotel yang saya inapi. Akan tetapi rasa lelah karena pekerjaan membuat saya cepat sekali terlelap saat tiba dikamar hotel. Maka tidak ada satupun postingan yang berhasil update selama dalam perjalanan. Banyak sekali cerita dan pengalaman baru yang saja jumpai dalam perjalanan dinas kali ini. Salah satunya adalah pertama kali saya naik pesawat propeller. 

Dari kecil saya suka naik pesawat, bahkan sempat bercita-cita ingin menjadi pilot atau crew airlines supaya saya bisa melihat pesawat setiap hari dari dekat. Sejak kecil pula, orang tua saya selalu mengajak kami  sekeluarga bepergian dengan menaiki pesawat terbang. Anehnya, walaupun saya suka pesawat dan sudah puluhan kali naik pesawat tapi saya tidak pernah benar-benar merasa nyaman terbang dengan pesawat. Hanya saja rasa suka dengan pesawat itu berhasil mengalahkan ketidaknyamanan saya bepergian melalui jalur udara. Buktinya ketika saya harus terbang ke Batam via Palembang dimana ada dua maskapai yang melayani penerbangan langsung dirute tersebut, saya memilih Wings Air yang notabene mengoperasikan pesawat  propeller dibandingkan dengan Batavia yang menggunakan pesawat Boeing. 

Bagi banyak orang, naik pesawat propeller itu mungkin menakutkan. Kalau ada pilihan lain dibandingkan naik pesawat propeller mungkin orang lain akan memilih pesawat jenis lainnya. Hal tersebut sebenarnya juga saya rasakan sendiri. Tapi sekali lagi, rasa cinta saya dengan pesawat terbang membuat saya menyingkirkan rasa takut itu. Ketika panggilan boarding berkumandang, saya sudah berada dibarisan paling depan. Saya ingin jeprat jepret pesawat sepuasnya dari kamera ponsel saya. Saking asyiknya foto, beberapa orang sudah mendahului saya masuk kedalam pesawat. Hahaha... Untuk pesawat ATR 72-500 yang dioperasikan oleh Wings Air ini, kita masuk kedalam pesawat hanya melalui pintu belakang. Konfigurasi tempat duduknya adalah dua kursi sebelah kiri dan dua kursi sebelah kanan. Tempat bagasi diatas tempat duduknya sangat sempit sehingga ransel saya harus dititipkan kepada pramugari dibelakang pesawat dan diambil dibawah tangga saat pesawat telah mendarat. 

Pada saat pesawat berjalan menuju landasan, saya merasa seperti tidak sedang naik pesawat terbang. Karena saya merasa pesawat ini sangat pendek sehingga lebih merasa sedang naik bus saja. Setelah terbang, barulah saya merasakan seperti sedang naik pesawat yang sesungguhnya. Pada saat penerbangan, saya nyaris tidak merasakan kalau sedang menaiki pesawat propeller. Rasanya beda tipis saja ketika saya menaiki pesawat Boeing. Saya juga baru tahu kalau dipesawat Wings Air ini menjual makanan berat. Penumpang disebelah saya membeli makanan yang dari baunya seperti ayam goreng di restoran siap saji. Dalam perjalanan dinas ke 5 kota ini, saya sempat dua kali menaiki pesawat propeller Wings Air ini. Pertama dari Palembang menuju Batam dan kedua dari Batam menuju Pekanbaru. Awalnya saya ingin sekali mencoba naik pesawat propeller Fokker 50 yang dioperasikan oleh maskapai Pasific Royale untuk rute Batam menuju Pekanbaru, sayangnya jadwal penerbangan Pasific Royale menuju Pekanbaru hanya ada di sore hari yang artinya tidak cocok dengan jadwal dinas saya. Mudah-mudahan lain kali saya punya kesempatan untuk mencobanya...



20 June 2012

Terpaksa Menjilat Ludah Sendiri

Dulu saya pernah bilang sama semua orang kalau saya tidak akan pernah menjadi pengguna Iphone. Mau katanya lebih gaya lah, lebih berkelas lah, atau punya banyak kelebihan dibandingkan blackberry lah, saya tetap tidak bergeming dari pendirian saya. Saya tidak akan pernah membeli benda bernama Iphone. Alasannya satu, karena saya tidak suka gadget touchscreen. Membayangkan layarnya akan dipenuhi minyak karena saya gunakan sembari makan atau membayangkan saya harus mengetik sms atau email dengan jari-jari saya yang berukuran besar sehingga akan sering terjadi typo sudah membuat saya berpikir sejuta kali untuk menggunakannya. Takutnya saya akan menjadi emosi karenanya dan benda itu akan dengan mudah saya banting karena kesal. Hahahahaha...

Akan tetapi segalanya menjadi berubah manakala saya memenangkan sebuah lomba berhadiah Iphone. Walaupun Iphone yang saya menangkan adalah Iphone 3GS yang notabene adalah keluaran lama, tapi kok saya merasa sayang untuk menjualnya kepada teman-teman saya yang mupeng dan langsung pasang harga untuk membeli Iphone tersebut. Lagipula saya bukan tipikal yang suka menjual hadiah-hadiah yang saya menangkan. Walaupun hadiahnya tidak berguna, saya lebih suka menyimpan hadiah-hadiah dari lomba yang saya ikuti. Maka sekali lagi, saya memutuskan untuk meneruskan tradisi saya sebelumnya sekaligus menjilat ludah saya sendiri yang tidak akan pernah menggunakan Iphone. Ternyata setelah lebih dari 3 minggu saya menggunakan Iphone, apa yang saya pikirkan sebelumnya tidak pernah terjadi. Memang awalnya sering sekali terjadi typo ketika akan mengetik sms, tapi itu hanya berlangsung dua hari saja. Setelahnya sudah jarang karena jari-jari saya semakin terbiasa. Yang ada sekarang, saya malah ketagihan menggunakan touchscreen termasuk pada blackberry saya yang tidak punya fasilitas touchscreen. Hahahahaha...

17 June 2012

Review Ibis Hotel Solo

Sebenarnya review kali ini bukan review pengalaman menginap yang terbaru di hotel. Kebetulan saya sedang membuka folder-folder lama di laptop saya. Dan ketika saya membuka folder liburan ke Semarang, Jogja dan Solo, ternyata saya baru menyadari kalau saya cukup lengkap mengambil gambar hotel Ibis Solo. Padahal waktu itu saya malah belum pernah membuat review hotel sama sekali di blog saya ini. Nah mumpung foto-fotonya cukup banyak, ngga salah kan kalau saya membuat review sekarang ? Hitung-hitung daripada fotonya mubazir. Hehehehehe...

Foto ini diambil dari sini
Ceritanya beberapa tahun lalu sewaktu saya masih tinggal dan bekerja di Palembang, saya diundang menghadiri sebuah acara di Semarang. Di kota Semarang itu ternyata saya mendapat uang saku yang lumayan banyak dari perusahaan yang mengundang saya. Dipikir-pikir kok sayang juga yah kalau langsung pulang ke Palembang, maka selesai acara saya memutuskan untuk melanjutkan acara jalan-jalan ke kota Jogja dan Solo. Setelah browsing sana sini akhirnya saya memutuskan untuk menginap di Hotel Ibis Solo yang belum terlalu lama dibuka dan kebetulan waktu itu saya mendapat harga kamar promo tanpa sarapan pagi. 

Saya check in di hotel ini sudah lumayan sore, kalau tidak salah sekitar jam empat sore. Sebelumnya saya cukup kalap memborong batik buat oleh-oleh semua anggota keluarga dirumah dan beberapa teman di Palembang. Itupun saya sampai bingung, belanjaan sudah banyak tapi kok duitnya ngga habis-habis. Hahahahaha... Tapi bagaimanapun saya harus menyelesaikan urusan shopping ini karena harus segera check in di hotel. Pelayanan para petugas hotel saat itu sangat baik dan cepat, saya tidak memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan kamar yang sudah saya reservasi sebelumnya. Suasana di lobby hotel juga sangat nyaman dengan sejumlah sofa berukuran besar dan langit-langit yang tinggi dengan lampu gantung yang menurut saya unik. 

Kamar hotelnya tidak berukuran besar, tapi tertata dengan sangat apik. AC nya sangat dingin, kasurnya empuk dan TV nya saat itu sudah menggunakan LCD TV dengan penerimaan channel yang sangat baik. Sangat membuat saya betah belama-lama didalam kamar. Hanya saja karena saya sedang berlibur terpaksa harus keluar juga dari kamar malam harinya. 

Mini bar di dalam kamar juga cukup lengkap. Beraneka pilihan minuman bisa kita dapatkan di kulkas. Begitupun dengan pemanas air untuk membuat teh dan kopi bekerja dengan baik. Karena waktu itu saya belum mempunyai modem sendiri, kebutuhan akan akses internet tentunya sangat tergantung dari ketersediaan akses di hotel. Untungnya di Ibis Hotel Solo ini saya bisa mengakses internet langsung dari kamar. Saya cukup meminjam kabel LAN kepada resepsionis dan langsung mendapatkan koneksi yang cukup baik sehingga saya bisa melakukan pekerjaan tanpa gangguan dari kamar hotel. 

Pemandangan dari luar jendela kamar saya juga sangat bagus. Saya bisa melihat sunset dan Solo Paragon dari kejauhan. Dan ada barisan pegunungan yang saya tidak tahu namanya. Sangat menyegarkan mata...

Kamar mandinya berukuran sedang dengan peralatan mandi yang tersedia cukup lengkap. Air yang mengalir dari shower juga sangat deras dan air panasnya berfungsi dengan baik. Urusan mandi aman sentosa lah... Hahahaha.

Karena saya mengambil pesawat pagi untuk menuju Jakarta, maka saya mengambil promo kamar hotel tanpa sarapan pagi. Sebagai gantinya sebelum saya meninggalkan kamar, saya memesan sarapan pagi berupa nasi goreng sea food untuk disantap dikamar. Nasi goreng sea food nya enak banget ditambah dengan sate dan kerupuk udang yang nendang banget. Sayangnya karena saya harus check out dari hotel pagi-pagi sekali, saya tidak sempat berkeliling untuk melihat kolam renangnya. Menurut info yang saya baca, kolam renang Hotel Ibis ini menjadi satu dengan kolam renang Novotel Solo yang berada dibelakangnya. Mungkin lain kali saya akan foto-foto kalau menginap disini lagi...

Demikianlah sedikit cerita saya ketika menginap di Ibis Hotel Solo 3 tahun yang lalu. Kalau sedang berkunjung ke Solo dan ingin mencari hotel yang cukup murah dan nyaman, Ibis Hotel Solo bolehlah dijadikan pilihan. Untuk reservasi silahkan hubungi :

Jalan Gajah Mada 23 Jawa Tengah
57131 - SOLO
INDONESIA
Tel.: (+62)271/724555
Fax.: (+62)271/724666

13 June 2012

Festival Palang Pintu

Akhir pekan lalu saya menyempatkan diri hadir disebuah perayaan tahunan yang bernama Festival Palang Pintu. Acara ini berlangsung selama dua hari mulai tanggal 9 hingga tanggal 10 Juni 2012. Sebelumnya saya sama sekali tidak pernah tahu kalau selama ini ada perayaan yang tahun ini bahkan sudah tujuh kali diadakan. Sebuah spanduk yang saya baca ketika sedang hunting makan siang diseputar Kemang yang isinya akan ada penutupan jalan di Kemang Raya dikarenakan adanya Festival Palang Pintu membuat saya langsung mencari tahu via google. Dan setelahnya saya langsung memutuskan untuk datang melihat sendiri  festival ini. Maka berangkatlah saya dengan semangat empat lima menuju Kemang Raya, tempat berlangsungnya Festival Palang Pintu VII yang bertajuk Jakarta Punye Gaye.


Jadi buat yang belum tahu, Festival Palang Pintu ini adalah sebuah festival yang diadakan dalam rangka peringatan ulang tahun kota Jakarta. Dalam festival ini diperlombakan kesenian palang pintu, yaitu sebuah tata cara dalam prosesi pernikahan adat Betawi. Dalam prosesi palang pintu, rombongan mempelai pria yang akan melamar mempelai wanita terlebih dahulu harus melewati palang pintu yang berasal dari pihak mempelai wanita. Untuk bisa masuk kedalam rumah mempelai wanita, rombongan mempelai pria harus mampu mengalahkan palang pintu dari pihak mempelai wanita. Tahapannya antara lain beradu pantun, pencak silat dan kemampuan mengaji. Setelah palang pintu dari pihak mempelai wanita berhasil dikalahkan, maka rombongan mempelai pria bisa masuk kedalam rumah mempelai wanita dan prosesi pernikahan akan dapat dilanjutkan. Nah dalam Festival Palang Pintu ini, kita bisa melihat proses ini diperlombakan oleh sanggar kesenian maupun kelompok masyarakat Betwai lainnya yang tersebar di Jakarta Raya. Saya sangat antusias menyaksikan kesenian palang pintu ini. Pertama karena kesenian semacam ini sudah jarang saya temui dan yang selanjutnya adalah karena saya bisa melihat sisi lain dari salah satu keragaman budaya di Indonesia.

Puas menyaksikan beberapa penampilan kesenian palang pintu, saya berjalan-jalan melihat keramaian di Festival Palang Pintu ini. Sepanjang jalan Kemang Raya mulai dari Seven Eleven sampai dengan Pizza Hut ditutup total. Sepanjang jalan yang ditutup ini, dibagian kiri dan kanannya didirikan tenda booth untuk berjualan. Berbagai macam jenis barang dijual disini mulai dari makanan, busana, CD, sampai mobil pun membuka lapaknya di booth yang disediakan disepanjang jalan. Tidak ada booth yang kosong alias semua terisi penuh. Pengunjungnya pun datang dari berbagai kalangan, bahkan warga negara asing yang banyak dijumpai disekitar Kemang pun sepertinya turut menikmati festival ini. Tidak sedikit dari mereka yang memboyong keluarganya untuk melihat festival ini. 

Diantara semua booth yang ada, saya tentu saja paling senang mendatangi booth yang menjual makanan. Saya bisa menjumpai banyak makanan yang mungkin baru saya jumpai atau pernah saya dengar tapi jarang saya temui. Mulai dari makanan tradisional Betawi seperti dodol Betawi, wajik, asinan Betawi,soto Betawi, bir pletok, dan tentu saja sang primadona yaitu kerak telor. Karena saya tahu perut saya sudah pasti tidak mungkin menampung semua makanan ini, maka beberapa diantaranya saya putuskan untuk dibungkus supaya bisa saya makan dirumah. Sementara beberapa makanan yang tidak mungkin untuk saya bawa pulang mau tidak mau harus saya makan sembari melihat-lihat keramaian. Selain menjual beraneka ragam makanan tradisional Betawi, dipameran ini ada beberapa booth yang menjual makanan modern seperti burger, hot dog, sushi dan twister chips. Saya memutuskan membeli satu twister chips karena belum pernah mencoba sebelumnya. Twister chips ini adalah kentang yang dipotong dengan mesin khusus sehingga berbentuk melingkar lalu ditusuk dengan lidi dan digoreng krispi. Lalu kita tinggal memilih mau diberi taburan bumbu apa. Untuk membeli twister chips ini saya harus antri karena cukup banyak juga peminatnya. 

Datang beramai-ramai ataupun sendirian menurut saya sih sama saja asyiknya. Saya pribadi lebih memilih untuk datang sendirian supaya bisa lebih santai menikmati festival dan makanan yang dijual disana. Saya juga lebih leluasa untuk jeprat jepret sana sini segala aktifitas orang-orang yang terjadi di Festival Palang Pintu ini. PR besar yang harus dipikirkan lebih matang untuk penyelenggaran tahun depan adalah masalah parkir kendaraan. Semua penduduk Jakarta pasti sudah hapal bagaimana padatnya arus lalu lintas diseputar wilayah Kemang. Tanpa ada penutupan jalan seperti inipun arus lalu lintas diseputar Kemang memang senantiasa padat, apalagi jika ada penutupan ruas jalan seperti ini. Saya yang menggunakan sepeda motor saja sempat beberapa kali terjebak padatnya kemacetan. Apalagi bila yang datang menggunakan mobil. Bisa dibayangkan berapa lama harus terjebak kemacetan dan repotnya untuk memarkirkan mobilnya. Harapan saya mudah-mudahan penyelenggaraan tahun depan akan jauh lebih baik dan pastinya lebih meriah daripada penyelenggaraan tahun ini.  

Nah demikianlah cerita saya ketika datang di Festival Palang Pintu akhir pekan kemarin. Buat yang belum tahu atau tahun ini berhalangan untuk hadir, mungkin tahun depan bisa datang dan mengunjungi festival tahunan ini. Kalau bukan kita yang perduli melestarikan budaya sendiri, siapa lagi ? Sampai berjumpa di Festival Palang Pintu tahun depan. 

05 June 2012

Makan Di Secret Recipe Pejaten Village

Malam ini sepulang kerja, perut saya menuntun ke Pejaten Village untuk menikmati makanan malam yang lezat. Kalau tanggal muda begini, keluar duit lebih banyak daripada biasanya untuk memanjakan selera rasanya tidak rugi-rugi amat. Lagipula percuma juga cari uang susah payah kalau sekedar memanjakan diri sendiri saja tidak bisa. Maka singkat cerita saya memilih Resto Secret Recipe untuk menuntaskan rasa lapar saya malam ini.

Di Pejaten Village, Secret Recipe ini berada dilantai dasar. Kita bisa memilih tempat duduk didalam gedung yang ber AC atau duduk dibagian selasar resto sebagai smoking area.Karena saya sudah tidak merokok, maka saya lebih memilih untuk duduk dibagian dalam yang ber AC. Hanya sayang karena bagian dalam sudah penuh, mau tidak mau saya terpaksa duduk dibagian luar. Sebenarnya saya kurang suka duduk dibagian selasar ini karena langsung berhadapan dengan jalan masuk menuju lobby mall. Artinya kita akan disuguhi pemandangan kendaraan berlalu lalang. Tapi karena perut sudah terlalu lapar, maka saya putuskan untuk tetap duduk dan mulai memesan menu.

Sebagai menu pembuka saya memesan Caesar Salad. Didalamnya tentu saja ada selada yang cukup banyak, tomat cherry, irisan daging asap, roti garlic kering dan telur rebus dengan dressing yang lezat. Porsinya cukup besar dan mengenyangkan. Kualitas bahan-bahannya sangat baik sehingga rasa segar benar-benar terasa dalam setiap kunyahan. Saya sangat suka caesar salad ini. 

Untuk menu selanjutnya yang saya pesan adalah Caribbean Seabass. Ini adalah fillet ikan yang  dipanggang dan disiram cream sauce. Rasa daging ikannya sangat lezat dan tidak amis ditambah sausnya yang membuat citarasa menjadi lengkap. Enak...

Untuk minumnya saya memilih Ice Mocha Latte. Rasanya tidak berbeda jauh dengan minuman sejenis yang pernah saya minum di tempat lain. Tapi satu gelas besar ini sudah lebih dari cukup untuk minuman saya selepas makan. 

Di Secret Recipe ini tidak hanya menjual makanan berat saja loh, disini juga menyediakan makanan ringan dan cake seperti brownies dan cheese cake slice. Jadi kalo kebetulan nongkrong diluar jam makan, mungkin kita bisa memilih cake sebagai menu untuk menemani obrolan bersama teman-teman. Langsung saja datang ke :

Secret Recipe
Pejaten Village Mall G No. 22
Jl. Warung Jati Barat No. 39, Pasar Minggu – Jakarta Selatan

02 June 2012

Menjajal Ngeblog Dari Iphone

Belakangan ini saya sedikit lebih sibuk daripada biasanya. Target membuat postingan 10 kali dalam sebulanpun akhirnya kandas dibulan Mei. Karena itulah saya mencoba mengakalinya dengan mengunduh aplikasi Blogger di IPhone saya. Mudah-mudahan setelah jari-jari saya lebih terbiasa menggunakan keypad touchscreen ini, saya bisa Ngeblog lebih panjang dari postingan ini...