12 March 2012

Kakak Egois Dan Adik Kurang Ajar

Saya adalah anak kedua dari empat bersaudara. Jarak usia antara kami berempat hanya terpaut satu sampai dengan dua tahun. Ibu saya benar-benar produktif sekali memproduksi kami berempat hanya dalam kurun waktu 6 tahun saja. Hahahahaha... Jarak usia yang berdekatan satu dengan yang lain menurut saya banyak suka duka tersendiri



Sebagai kakak dari dua orang adik, saya berusaha untuk menjalankan peran saya sebaik mungkin terhadap adik-adik saya. Saya mengayomi mereka sekaligus menjadi sahabat bagi adik-adik saya. Masalahnya sebagai adik dari kakak saya, sayapun ingin mendapatkan hak untuk diayomi dan diperlakukan demikian oleh kakak. Tapi rupanya kakak saya terlalu slenge'an untuk menjadi kakak yang berperilaku demikian. Maka tidak heran kalau saya dan kakak melewati masa kecil kami dengan keributan demi keributan. Masalah kecil selalu menjadi besar diantara kami. Kakak saya menuding kalau saya adik yang kurang ajar, sementara saya menudingnya kakak yang tidak dewasa, egois dan mau berkuasa sendirian mentang-mentang dia anak pertama...


Keributan demi keributan terus terjadi sampai kami memasuki usia remaja. Meskipun keributan saat remaja sudah lebih elegan dibandingkan masa kanak-kanak, tapi tetap saja tudingan adik kurang ajar dan tudingan kakak yang egois tetap terlempar dari mulut kami berdua. Padahal saat itu kami sudah mulai memiliki sahabat bersama. Usia kami yang hanya terpaut 1,5 tahun dan jenjang pendidikan yang hanya beda satu level membuat saya dan kakak sering membawa teman-teman sekolah kami kerumah. Maka tidak heran kalau teman-teman kakak saya menjadi akrab dengan saya, demikian pula sebaliknya.


Hingga tiba akhirnya kakak saya lulus SMA dan harus melanjutkan kuliah di kota Jakarta. Tadinya saya berpikir kalau masa-masa tenang akan tiba juga dalam kehidupan saya setelah perantauan kakak di ibukota. Awalnya memang demikian adanya, tapi akhirnya saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri. Saya kehilangan partner berantem saya. Saya kesepian tanpa kakak saya. Ternyata apa yang saya rasakan sepertinya juga dirasakan oleh kakak. Saat liburan semester dan kakak pulang ke Palembang, perlakuannya kepada saya sudah jauh lebih baik. Tidak jarang kami pergi bersama yang kemudian disambut senyum oleh ibu saya. Dan setelah itulah saya benar-benar merasakan seperti apa punya kakak. Dia semakin dewasa, atau tepatnya kami semakin dewasa...


Bulan Februari tahun 2007, kakak saya menikah dengan gadis pujaannya. Dihari pernikahannya saya menangis untuknya. Air mata bahagia seorang adik yang akan melepas kakaknya menempuh hidup baru bersama pasangan hidupnya. Teringat kembali masa kecil kami yang penuh pertengkaran... Saya ingin mengatakan padanya bahwa saya kangen ingin berantem dengannya lagi. Tapi faktor usia membuat saya mengurungkan niat itu. Bagi saya melihatnya bahagia bersama kakak ipar dan putri kecilnya saat ini adalah kebahagiaan terbesar juga untuk saya adiknya. Semoga bahagia selalu kakak egoisku... Upss.. Kakak tersayangku...


Tulisan ini diikutkan pada GIVEAWAY : Aku Sayang Saudaraku yang diselenggarakan oleh Susindra