20 March 2012

Wisata Kuliner Di Pekanbaru

Bus Makmur yang saya tumpangi berangkat dari Medan pukul 19.30 menuju Kota Pekanbaru. Menurut perkiraan bus ini akan tiba di Pekanbaru lebih kurang pukul 09.00 pagi. Saya duduk deretan nomor dua dari belakang. Dibandngkan tahun lalu saat saya menumpang bus yang sama, bus yang saya tumpangi kali ini memiliki jarak antara kursi yang lebih luas, sehingga kaki saya lebih leluasa untuk mengambil posisi terbaik. Malam itu saya putuskan untuk mematikan semua gadget yang saya bawa sebagai bentuk penghematan mengingat besok setibanya di Pekanbaru saya sudah dihadapkan dengan jadwal yang padat. Saya terbangun dari tidur ketika matahari sudah mulai naik, lebih kurang pukul 7 pagi. Hati semakin senang karena itu tandanya tidak beberapa lama lagi saya akan tiba di kota Pekanbaru. Lalu saya menghidupkan mp3 player yang saya pinjam dari rekan satu ruangan dikantor untuk membunuh waktu. Waktu terus berjalan hingga melewati pukul 9, lalu berjalan ke pukul 10 hingga masuk pukul 11. Tapi tidak ada tanda-tanda bus yang saya tumpangi akan memasuki kota Pekanbaru. Loh ada apa ini ? Apakah saya sudah kelewatan ? Lalu saya bertanya kepada teman-teman saya yang berada di Pekanbaru posisi saya saat ini berdasarkan alamat yang tertera di sebuah toko. Ternyata saya masih harus menunggu didalam bus lebih kurang 2 jam lagi sebelum tiba di Pekanbaru. Alamaaaak...


Saya baru tiba di Terminal Bandar Raya Payung Sekaki Pekanbaru ketika waktu telah menunjukkan pukul 12.30. Bangunan Terminal Bandar raya Payung Sekaki ini kental sekali nuansa Melayu nya, tapi tetap dengan desain yang modern dan elegan. Sayangnya saat bus tiba disana, kamera BB saya dalam kondisi mati sehingga saya terpaksa meminjam foto dari Riau Daily Photo ini. Sebenarnya tujuan pertama saya ketika tiba di Pekanbaru adalah mandi, tetapi karena undangan makan siang dari seorang rekan sudah menanti. Terpaksa urusan bebersih tubuh mengalah sejenak sama urusan perut. Padahal saya sudah merasa sangat lengket dan bau loh. Tapi saya yakin teman saya pasti mengerti kondisi yang saya hadapi saat ini. Hahahahaha...


Teman-teman saya merekomendasikan makan di Mie Pangsit Megaria yang terletak di Jl.Ir.H.Juanda Pekanbaru. Saya memesan mie pangsit ayam. Waaah ramai sekali taburannya yah. Sangat menggugah selera untuk dimakan secepatnya. Rasanya pun juga enak. Satu porsi kalau saya tidak salah seharga Rp.12.000,- . Cukup bikin perut kenyang...


Karena sewaktu ke Medan kemarin saya banyak makan kerang, maka saya memutuskan tidak ke Resto Nelayan untuk menyantap pancake durian favorit saya. Untungnya ketika di Pekanbaru saya bisa menemukan pancake durian ini. Jadilah saya beli 2 potong seharga Rp.15.000,- . Cukup mengobati kerinduan saya memakan pancake durian yang unyu-unyu ini... Di Pekanbaru sendiri, pancake durian sudah menjadi oleh-oleh yang bisa dibawa ke Jakarta. Dalam kunjungan saya ke Pekanbaru bulan November yang lalu, saya sempat membelikan teman-teman sekantor saya pancake durian beku. Sayangnya pancake durian ini tidak tahan lama dan harus segera dimakan begitu tiba.


Ada varian pancake lucu lagi yang saya jumpai di Pekanbaru. Saya lupa namanya, yang jelas pancake ini didalamnya diisi mayonaise dan diatasnya ditaburi abon. Pancake nya sendiri sangat lembut, dan sengaja dibuat tidak manis untuk menyesuaikan dengan isian dan taburannya. Rasanya enak walaupun saya butuh menghabiskan dua buah untuk menemukan cita rasa enaknya. Hahahahaha...


Nino mengajak saya sarapan pagi di Kedai Kopi Kim Teng yang berada di jalan Sinapelan Pekanbaru. Kedai ini ramai sekali dengan orang-orang yang sarapan. Bahkan menurut Nino, Gubernur Riau pun merupakan pelanggan tetap di kedai kopi ini. Di kedai kopi Kim Teng ini banyak sekali pilihan menu yang bisa kita pilih, mulai dari menu paling sederhana seperti roti bakar sampai makanan berat. Pagi itu Nino memilih mie keling sebagai sarapannya. Saya sempat mencicipi karena penasaran. Jadi mie keling ini adalah mie kuning basah dengan berbagai campuran didalamnya dan disiram dengan kuah kacang. Rasanya enaaaak... Harga seporsinya hanya Rp.12.000,- saja.



Sementara saya sendiri pagi itu memesan roti canai dengan kuah kari. Roti canainya lezat sekali. Satu porsi seharga Rp.15.000,- dan sangat mengenyangkan. Kuah karinya juga tidak terlalu tajam rasanya seperti yang pernah saya makan di Kuala Lumpur. Pas sekali untuk lidah saya. Sedangkan untuk minumnya, saya memesan secangkir teh susu panas. Teh susunya juga enak sekali. Hanya saja kita perlu mengaduknya cukup lama supaya susu kental manisnya teraduk dengan sempurna. Harga secangkir teh susu nikmat ini Rp.14.000,- . Cukup mahal juga, tapi sebanding dengan cita rasanya.


Jangan lupa juga untuk mampir ke Jalan Pattimura, karena disana ada ayam kecap Mas Edy yang enyaaak banget. Tempatnya sangat sederhana, tapi cukup ramai didatangi pengunjung. Kalau kita memesan ayam kecap, maka yang akan kita dapat adalah satu piring ayam kecap plus telur ayam rebus utuh, satu piring sayuran tumis dan sepiring nasi panas. Semuanya rasanya lezat. Karena saya ditraktir, saya tidak tahu berapa harga satu porsi ayam kecap Mas Edy ini.



Salah satu minuman segar yang saya suka di Pekanbaru adalah Kolding alias kolak dingin. Kolding ini banyak di jual dipinggiran jalan Cut Nyak Dien dibelakang kantor gubernur Riau dengan penjual yang menggunakan mobil yang disulap menjadi etalase. Ada banyak varian kolding yang bisa dipesan, tapi yang paling favorit adalah kolding durian. Harganya pun bervariasi sekitar Rp.7.000,- sampai Rp.8.000,- saja. Dan yang pasti kolding ini mampu mengusir sejenak rasa panas karena cuaca di Pekanbaru yang cukup menyengat.



Yang satu ini lagi naik daun di Pekanbaru. Sebuah minuman yang untuk membelinya harus antri sampai 30 menit. Namanya Cappucino Cincau atau anak-anak pekanbaru suka menyebutnya dengan sebutan kacau. Semua teman-teman saya mewajibkan saya untuk minum Kacau ini. Katanya belum jadi anak gaul Pekanbaru kalau belum minum Kacau. Harga satu gelas Kacau ini hanya Rp.5.000,-. Yang paling terkenal dan katanya paling asli adalah Cappucino Cincau Re Caffe. Saya dan teman-teman membeli Kacau ini di Re Caffe jl.Sisingamaraja. Rasanya menyegarkan karena ada cincau serut didalamnya. Waah kreatif sekali yah kuliner di Pekanbaru ini...


Puas sekali berwisata kuliner di Pekanbaru, sampai-sampai saya berani bertaruh kalau berat badan saya pasti akan naik sepulang dari perjalanan ini. Sayangnya perjalanan 2 hari satu malam di Pekanbaru harus saya akhiri karena saya harus menuju kota tujuan saya selanjutnya. Saya membeli tiket menuju Padang dengan biaya Rp.115.000,-. Travelnya menjemput saya dirumah Nino dan akan mengantarkan saya sampai tujuan di Padang. Perjalanan dari Pekanbaru ke Padang hanya memakan waktu sekitar 6-7 jam perjalanan. Artinya saya akan tiba di kota Padang sebelum adzan Subuh berkumandang disana. Terima kasih Pekanbaru untuk keramahan dan makanan lezat yang sudah masuk kedalam perut saya. Saya pasti akan kembali lagi...