03 April 2012

Review Film The Raid

Saya sengaja tidak menambahkan review pada judul postingan kali ini, karena sudah terlalu banyak orang yang mereview film fenomenal Indonesia ini. Saya hanya ingin bercerita seputar pengalaman saya sebelum dan sesudah menonton film The Raid.


Saya tahu film ini sangat dinanti oleh banyak orang di Indonesia. Bagaimana tidak, film The Raid sukses meraih banyak penghargaan di luar negeri bahkan film ini juga diputar di bioskop Amerika, Kanada, Perancis, Jerman dan Australia loh. Kejadian yang pastinya bisa dikatakan langka. Ketika awal ditayangkan dan melihat tingginya animo orang-orang untuk menonton, saya cendrung menjadi malas untuk ikut serta dalam barisan antrian para pengantri tiket. Saya membayangkan betapa berisiknya menonton film yang semua kursi di studionya terisi penuh. Maka sayapun memutuskan untuk menunggu beberapa saat sampai tidak terlalu banyak lagi orang yang menonton film ini. Hanya saja berdasarkan pengalaman dengan beberapa film laris sebelumnya, kalau saya sudah meniatkan menunggu antrian tidak terlalu ramai lagi biasanya saya pasti akan melewatkan film tersebut. Hahahahaha...

Hingga pada akhirnya seorang rekan dikantor akhirnya ngotot memaksa saya untuk menonton film ini. Bahkan dia sampai memberikan uang untuk saya membeli tiket. Berhubung saya suka sekali dengan yang namanya gratisan, maka saya terimalah tawaran tersebut. Rezeki tidak boleh ditolak bukan ? Maka jadilah tanggal 26 Maret sepulang dari kantor saya menonton film The Raid di Pejaten Village XXI. Ketika saya hendak memesan film dengan jam pertunjukan 19.15, ternyata semua kursi telah terisi penuh. Sementara jam pertunjukan selanjutnya adalah 21.15. Sudah terlalu malam untuk menonton mengingat esok harinya saya akan sangat sibuk dikantor. Belum sempat saya bilang tidak jadi, tiba-tiba salah satu kursi yang semuanya telah berwarna merah tanda sudah ada pemiliknya, berubah warna menjadi hijau kembali. Nah loh... Kok sepertinya kursi itu benar-benar diperuntukkan untuk saya yah. Tanpa basa-basi saya langsung ambil kursi tersebut. Kebruntungan sedang menaungi saya hari itu, Jadilah saya menonton film The Raid malam itu.

Nb : Gambar poster diambil dari website Hai-online
Saya tercengang melihat adegan demi adegan selama menonton film ini. Walaupun menurut saya jalan ceritanya biasa saja, tapi adegan actionnya benar-benar keren. Jadi film ini hanya bercerita tentang penyerbuan yang dilakukan oleh aparat terhadap sebuah apartemen yang merupakan sarang narkoba. Lokasi syutingnya sebagian besar berlangsung di apartemen tersebut. Film ini diperankan oleh Iko Uwais, Donny Alamsyah, Joe Taslim, Ray Sahetapy, Pierre Gruno, Yayan Ruhuan dan lain-lain. Dari semua nama tersebut, akting Ray Sahetapy bolehlah saya beri dua jempol. Pengalamannya bertahun-tahun memainkan banyak karakter di industri film dalam negeri benar-benar ditunjukkan beliau dalam film The Raid ini. Sayangnya harapan saya menyaksikan pertarungan yang alot antara tokoh Tama yang diperankan Ray Sahetapy dengan para aparat tidak menjadi nyata. Tapi kekecewaan saya cukup terhibur dengan adegan pencak silat luar biasa yang ditampilkan oleh Iko Uwais, Yayan Ruhian dan Donny Alamsyah. Film ini saya beri skor 9/10.

Kepopuleran Film The Raid melambungkan sejumlah nama yang mungkin awalnya belum dikenal. Bagaimana sekarang Iko Uwais, dan kawan-kawan menjadi idola Indonesia. Efeknya membuat mereka kebanjiran tawaran iklan bahkan film-film baru lainnya. Salah satunya adalah Joe Taslim yang di film The Raid memerankan tokoh Sersan jaka. Joe akan bermain dalam film terbaru produksi Falcon Pictures tempat saya bekerja. Nanti akan saya ulas tersendiri tentang film tersebut. Kemarin Joe Taslim dan beberapa pemain film tersebut sedang melakukan proses reading. Kesempatan itu langsung kami manfaatkan untuk ambil foto bersama. Buat yang ngefans sama Joe Taslim jangan iri yaaah...