13 June 2012

Festival Palang Pintu

Akhir pekan lalu saya menyempatkan diri hadir disebuah perayaan tahunan yang bernama Festival Palang Pintu. Acara ini berlangsung selama dua hari mulai tanggal 9 hingga tanggal 10 Juni 2012. Sebelumnya saya sama sekali tidak pernah tahu kalau selama ini ada perayaan yang tahun ini bahkan sudah tujuh kali diadakan. Sebuah spanduk yang saya baca ketika sedang hunting makan siang diseputar Kemang yang isinya akan ada penutupan jalan di Kemang Raya dikarenakan adanya Festival Palang Pintu membuat saya langsung mencari tahu via google. Dan setelahnya saya langsung memutuskan untuk datang melihat sendiri  festival ini. Maka berangkatlah saya dengan semangat empat lima menuju Kemang Raya, tempat berlangsungnya Festival Palang Pintu VII yang bertajuk Jakarta Punye Gaye.


Jadi buat yang belum tahu, Festival Palang Pintu ini adalah sebuah festival yang diadakan dalam rangka peringatan ulang tahun kota Jakarta. Dalam festival ini diperlombakan kesenian palang pintu, yaitu sebuah tata cara dalam prosesi pernikahan adat Betawi. Dalam prosesi palang pintu, rombongan mempelai pria yang akan melamar mempelai wanita terlebih dahulu harus melewati palang pintu yang berasal dari pihak mempelai wanita. Untuk bisa masuk kedalam rumah mempelai wanita, rombongan mempelai pria harus mampu mengalahkan palang pintu dari pihak mempelai wanita. Tahapannya antara lain beradu pantun, pencak silat dan kemampuan mengaji. Setelah palang pintu dari pihak mempelai wanita berhasil dikalahkan, maka rombongan mempelai pria bisa masuk kedalam rumah mempelai wanita dan prosesi pernikahan akan dapat dilanjutkan. Nah dalam Festival Palang Pintu ini, kita bisa melihat proses ini diperlombakan oleh sanggar kesenian maupun kelompok masyarakat Betwai lainnya yang tersebar di Jakarta Raya. Saya sangat antusias menyaksikan kesenian palang pintu ini. Pertama karena kesenian semacam ini sudah jarang saya temui dan yang selanjutnya adalah karena saya bisa melihat sisi lain dari salah satu keragaman budaya di Indonesia.

Puas menyaksikan beberapa penampilan kesenian palang pintu, saya berjalan-jalan melihat keramaian di Festival Palang Pintu ini. Sepanjang jalan Kemang Raya mulai dari Seven Eleven sampai dengan Pizza Hut ditutup total. Sepanjang jalan yang ditutup ini, dibagian kiri dan kanannya didirikan tenda booth untuk berjualan. Berbagai macam jenis barang dijual disini mulai dari makanan, busana, CD, sampai mobil pun membuka lapaknya di booth yang disediakan disepanjang jalan. Tidak ada booth yang kosong alias semua terisi penuh. Pengunjungnya pun datang dari berbagai kalangan, bahkan warga negara asing yang banyak dijumpai disekitar Kemang pun sepertinya turut menikmati festival ini. Tidak sedikit dari mereka yang memboyong keluarganya untuk melihat festival ini. 

Diantara semua booth yang ada, saya tentu saja paling senang mendatangi booth yang menjual makanan. Saya bisa menjumpai banyak makanan yang mungkin baru saya jumpai atau pernah saya dengar tapi jarang saya temui. Mulai dari makanan tradisional Betawi seperti dodol Betawi, wajik, asinan Betawi,soto Betawi, bir pletok, dan tentu saja sang primadona yaitu kerak telor. Karena saya tahu perut saya sudah pasti tidak mungkin menampung semua makanan ini, maka beberapa diantaranya saya putuskan untuk dibungkus supaya bisa saya makan dirumah. Sementara beberapa makanan yang tidak mungkin untuk saya bawa pulang mau tidak mau harus saya makan sembari melihat-lihat keramaian. Selain menjual beraneka ragam makanan tradisional Betawi, dipameran ini ada beberapa booth yang menjual makanan modern seperti burger, hot dog, sushi dan twister chips. Saya memutuskan membeli satu twister chips karena belum pernah mencoba sebelumnya. Twister chips ini adalah kentang yang dipotong dengan mesin khusus sehingga berbentuk melingkar lalu ditusuk dengan lidi dan digoreng krispi. Lalu kita tinggal memilih mau diberi taburan bumbu apa. Untuk membeli twister chips ini saya harus antri karena cukup banyak juga peminatnya. 

Datang beramai-ramai ataupun sendirian menurut saya sih sama saja asyiknya. Saya pribadi lebih memilih untuk datang sendirian supaya bisa lebih santai menikmati festival dan makanan yang dijual disana. Saya juga lebih leluasa untuk jeprat jepret sana sini segala aktifitas orang-orang yang terjadi di Festival Palang Pintu ini. PR besar yang harus dipikirkan lebih matang untuk penyelenggaran tahun depan adalah masalah parkir kendaraan. Semua penduduk Jakarta pasti sudah hapal bagaimana padatnya arus lalu lintas diseputar wilayah Kemang. Tanpa ada penutupan jalan seperti inipun arus lalu lintas diseputar Kemang memang senantiasa padat, apalagi jika ada penutupan ruas jalan seperti ini. Saya yang menggunakan sepeda motor saja sempat beberapa kali terjebak padatnya kemacetan. Apalagi bila yang datang menggunakan mobil. Bisa dibayangkan berapa lama harus terjebak kemacetan dan repotnya untuk memarkirkan mobilnya. Harapan saya mudah-mudahan penyelenggaraan tahun depan akan jauh lebih baik dan pastinya lebih meriah daripada penyelenggaraan tahun ini.  

Nah demikianlah cerita saya ketika datang di Festival Palang Pintu akhir pekan kemarin. Buat yang belum tahu atau tahun ini berhalangan untuk hadir, mungkin tahun depan bisa datang dan mengunjungi festival tahunan ini. Kalau bukan kita yang perduli melestarikan budaya sendiri, siapa lagi ? Sampai berjumpa di Festival Palang Pintu tahun depan.