28 July 2012

Kisah Seorang Wanita Paruh Baya

Wanita paruh baya itu duduk diteras belakang rumahnya. Nampaknya ia tengah memikirkan apa yang akan ia kerjakan hari ini. Tahun ini ia telah memasuki usia 55 tahun, sebuah usia yang tentu saja sudah tidak muda lagi. Sebagai seorang istri, ibu dan oma dalam keluarganya, wanita paruh baya itu telah melewatkan banyak hal dalam perjalanan hidupnya. 

Bu Mis, demikian ia biasa dipanggil oleh orang-orang yang mengenal namanya. Sementara dalam lingkungan pekerjaan sang suami dia lebih sering dipanggil Bu Merdeka. Tidak ada yang menyangka bahwa wanita paruh baya ini bahkan tidak pernah menamatkan bangku Sekolah Dasar. Kondisi masa kecilnya yang telah menjadi yaitim piatu saat usia belia membuatnya harus menggantungkan hidupnya pada sang kakak. Karena itulah wanita paruh baya ini lebih memilih untuk mendalami pendidikan agama ketimbang harus merepotkan kakak-kakaknya yang hidupnya sudah susah untuk menyekolahkannya. Pada usia 17 tahun, dia dipersunting seorang lelaki yang usianya lebih tua 14 tahun darinya. Dengan menikah berarti dia telah melepaskan diri dari tanggungan kakak-kakaknya dan memulai hidupnya sendiri sebagai seorang wanita dewasa. Meskipun mereka memulai rumah tangga dari tidak punya apapun, wanita ini selalu sabar dan selalu menguatkan sang suami untuk tetap tawakal. Perlahan tapi pasti, atas doa dan motivasi tiada henti dari sang istri, usaha sang suami mulai berkembang dan mereka mulai dapat hidup berkecukupan. Memang benar adanya, dibelakang sosok lelaki sukses, ada wanita hebat yang mendampinginya. 

Meskipun tidak pernah menamatkan bangku Sekolah Dasar, wanita paruh baya ini selalu berusaha untuk belajar supaya dia dapat mengajari anak-anaknya pekerjaan rumah sekolah mereka. Dia belajar bersama keempat anak-anaknya untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Belajar tanpa pernah malu akan usia adalah sebuah kunci dalam hidup wanita ini untuk melihat dunia. Semakin anak-anaknya beranjak dewasa dan mempelajari banyak hal, wanita ini juga mempelajari banyak hal. Bahkan dia tidak sungkan belajar dari anak-anaknya. Baginya asal dia bisa lebih tahu akan banyak hal, rasa malu tidak akan dipikirkannya. Wanita ini sadar sepenuhnya, tingkat pendidikannya yang rendah tidak akan membuatnya bisa bekerja dikantor manapun. Karena itulah dia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga yang terbaik dan selalu ada untuk anggota keluarganya kapanpun mereka membutuhkan. Ketika anak-anaknya mulai belajar mengemudikan kendaraan, wanita paruh baya ini bahkan tidak sungkan ikut belajar bersama sang anak. Dia berpikir alangkah bahagianya bila tidak harus selalu merepotkan sang suami. Keinginannya yang kuatpun membuahkan hasil yang manis. Begitu banyak hal yang bisa ia lakukan sendiri tanpa harus membebani sang suami yang sibuk bekerja. Dia bisa pergi belanja sendiri, mengantarkan cucu sekolah sekaligus menjemputnya, mengantarkan menantu yang akan melahirkan ke rumah sakit bahkan mengantarkan sang suami yang tengah malam tiba-tiba jatuh sakit ke UGD. Semua bisa dlakukannya sendiri dan menjadikannya sosok wanita yang mandiri.


Demikian pula saat era digital seperti sekarang ini. Wanita paruh baya ini dengan semangat membara belajar dari anaknya cara menggunakan smartphone. Dari beberapa social media yang akhirnya bisa dipelajarinya, wanita ini dapat berkomunikasi lancar dengan anak-anaknya yang tinggal diluar kota sekaligus dapat memantau perkembangan cucunya. Wanita ini juga tidak sungkan menuliskan pesan supaya jangan lupa sholat dan jangan telat makan siang di wall facebook anak-anaknya. Pesan-pesan singkat yang terlihat sepele tapi justru sangat disukai oleh anak-anaknya karena hal tersebut menunjukkan besarnya cinta sang ibu pada mereka. Selain itu dia juga bisa berhubungan dan bertukar kabar dengan saudara-saudara dan keponakan dikampung halaman yang sudah ditinggalkannya sejak lama. Bahkan dari smartphone nya, wanita ini dapat memantau trend baju muslimah terkini, termasuk apa saja yang sedang trend dikalangan anak-anaknya maupun didunia cucu-cucunya saat ini. Tidak heran penampilan dan pengetahuannya selalu update dan wanita ini mendapat julukan ibu dan oma gaul. 

Era digital seperti sekarang dilalui wanita paruh baya ini tanpa ketakutan sedikitpun. Walaupun pendidikannya tidak tamat SD, dia tidak ragu bersahabat dengan dunia digital. Hobi memasak, berkebun, menjahit dan mendekor rumah yang disukainya sejak dulu semakin berkembang sejak ia mengenal internet dari smartphone nya. Wanita ini dapat memanjakan lidah anak-anak dan cucunya dengan resep-resep baru yang dilihatnya dari website. Dia juga dapat mengatur pola makan sehat yang bervariasi dan tidak membosankan untuk suaminya yang menderita gejala diabetes. Koleksi tanaman di halaman rumahnya pun semakin beragam dan wanita ini bahkan tahu semua jenis koleksinya yang justru tidak diketahui anak-anaknya. Wanita ini dapat menyulap seragam panita pernikahan miliknya menjadi sedikit berbeda dari saudara-saudaranya yang lain. Dan dengan bangga dia akan mendekor sendiri kamar pengantin anak gadis satu-satunya yang akan menikah bulan Januari tahun depan. Semua didapatnya dengan rajin browsing di smartphone nya. Yang mengagumkan, wanita ini tidak pernah terlalu asyik dengan smartphone nya hingga menelantarkan kegiatannya yang lain. Dia masih punya waktu mengikuti kegiatan pengajian ibu-ibu di mesjid dekat rumah, masih sempat membaca Al-Quran sehabis sholat, mengenalkan cucu-cucunya pada huruf dan angka, pergi kepasar sendiri, dan kegiatan rumah tangga lainnya.

Didunia ini ada banyak tokoh wanita hebat seperti Margareth Thatcher, Evita Peron, Benazir Bhuto, Cut Nyak Dien, RA Kartini dan lain-lain yang telah melakukan banyak hal bagi sekitarnya. Meskipun wanita paruh baya ini mungkin tidak pernah terdengar namanya dan tidak pernah melakukan hal-hal yang besar terhadap lingkungan sekitarnya, tapi dia adalah wanita terbaik didunia bagi keempat anak-anaknya. Wanita paruh baya yang tidak tamat SD itu adalah Bu Mis atau Bu Merdeka, Mamanya Novri, Arie, Indah dan Erwin yang juga Omanya Sultan, Chika, Khayla dan Sarah. Dialah ibu saya yang tercinta...

Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes Fastron Blogging Challenge