31 July 2012

Ciliwung Bersih Untuk Jakarta Yang Lebih Baik

Semua orang pasti mengenal Sungai Ciliwung atau biasa disebut warga Jakarta dengan sebutan Kali Ciliwung. Saya sempat bertanya pada teman-teman saya, satu kata yang terpikirkan dibenak mereka kalau saya menyebut kata Ciliwung. Dan jawaban yang terbanyak adalah sampah, banjir, kotor, kumuh, dan jorok. Saya sampai bertanya-tanya dalam hati sendiri, tidak adakah hal positif yang bisa dibanggakan dari Ciliwung ?Karena itulah pada postingan kali ini saya akan mengajak teman-teman melihat sisi lain dari Ciliwung yang mungkin belum banyak diketahui orang.

Hari Sabtu tanggal 14 Juli 2012 yang lalu saya menghadiri undangan Gathering Media dan Komunitas yang diadakan oleh Blue Bird Group. Acara ini diadakan di wilayah Condet-Balekambang, tepatnya di pinggiran Sungai Ciliwung. Beberapa perlengkapan sudah saya persiapkan sebelumnya, salah satunya adalah masker. Saya sempat membayangkan akan mengunjungi daerah bantaran Ciliwung yang dipenuhi oleh tumpukan sampah yang mengeluarkan bau tidak sedap. Pukul 09.00 pagi saya sudah tiba di pool Blue Bird Mampang dan langsung membaur dengan rekan-rekan blogger lainnya. Selanjutnya kami menuju lokasi acara diantar dengan menggunakan mobil Big Bird. Akhirnya merasakan juga naik salah satu produk Blue Bird Group selain taksi nya yang sudah sangat terkenal dan menjadi pilihan transportasi umum banyak orang. 

Kami sampai ditempat acara sebelum jam 10 pagi dan langsung melakukan registrasi. Tempat registrasi acara dipenuhi pohon-pohon rindang dan berjejer pohon salak yang beberapa diantaranya sudah berbuah. Ini adalah kali pertama saya melihat buah salah yang masih berada dipohonnya. Sedikit informasi, salak Condet adalah salah satu buah khas kota Jakarta. Bahkan salak condet yang bernama latin sallaca edulis cognito ini dijadikan maskot Jakarta bersama burung elang bondol. 

Dari tempat registrasi, kami menuruni anak tangga menuju pinggiran kali Ciliwung. Banyak dibangun pondok-pondok bambu disini dan suasananya asri sekali yang membuat saya nyaris lupa kalau saat itu masih berada dikota Jakarta. Kami disuguhi kesenian berbalas pantun dan pencak silat khas Betawi. Lalu dilanjutkan dengan kata sambutan dari Bang Kodir selaku Ketua Komunitas Ciliwung Condet. Menurut Bang Kodir, warga kota Jakarta banyak menggantungkan kebutuhan airnya dari Ciliwung. Dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta, Sungai Ciliwung bisa dikatakan memiliki dampak yang paling luas ketka musim penghujan, karena Ciliwung mengalir ditengah kota Jakarta dan melintasi banyak perkampungan, perumahan padat dan pemukiman kumuh. Kebiasaan buruk banyak oknum masyarakat yang  bermukim dibantaran Ciliwung adalah menjadikan kali sebagai tempat pembuangan sampah yang paling murah. Tidak heran kalau Sungai Ciliwung yang seharusnya merupakan tempat air mengalir berubah fungsi menjadi tempat pembuangan sampah. Karena itulah bang Kodir dan rekan-rekannya yang tergabung dalam Komunitas Ciliwung Condet tergerak untuk mengubah kebiasaan buruk masyarakat sekaligus merubah stigma masyarakat terhadap Ciliwung yang selama ini kadung menganggap Ciliwung tidak ubahnya sebgai sebuah comberan yang kotor dan jorok.

Niatan bang Kodir dan rekan-rekan Komunitas Ciliwung Condet ini mendapat sambutan dari Blue Bird Group yang ingin menjadikan Sungai Ciliwung sebagai salah satu kawasan ekowisata Jakarta. Menurut Pak Teguh Wijayanto selaku Head of Public Relation Blue Bird Group, Sungai Ciliwung sangat cocok untuk dijadikan ikon karena memiliki peranan yang besar untuk lingkungan Jakarta. Karena itulah Blue Bird grup merangkul Komunitas Ciliwung Condet untuk memberikan edukasi kepada masyarakat untuk meletastarikan lingkungan sekitar Ciliwung dengan melakukan berbagai kegiatan berunsur pendidikan. Langkah nyata yang telah dilakukan adalah melakukan pembersihan sungai dari sampah-sampah dan melakukan penghijauan disepanjang bantaran kali Ciliwung. Menurut Ibu Noni Purnomo selaku Vice President Business Development Blue Bird Group, selain menjadikan Ciliwung sebagai ekowisata, Blue Bird Group juga memperlihatkan kerusakan-kerusakan yang terjadi  disekitar sungai dan mengupayakan solusi yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya. Oh ya, untuk menunjang Sungai Ciliwung sebagai ekowisata, kawasan ini telah memiliki fasilitas wifi yang telah saya jajal sendiri kecepatannya di smartphone saya. 

Salah satu bentuk edukasi yang bisa kita jumpai disini adalah mengenali jenis-jenis ular dan bahayanya. Edukasi ini diberikan oleh Lembaga Studi Ular Indonesia SIOUX. Dari edukasi oleh SIOUX ini saya jadi tahu jenis-jenis ular dan bahayanya yang terbagi menjadi 3 golongan yaitu gigitan, semburan dan lilitan. SIOUX juga mengajarkan kita supaya tidak selalu menganggap ular sebagai hewan berbahaya yang harus dimusnahkan, karena keberadaan binatang melata ini yang mempunyai peranan dalam siklus rantai makanan. Beberapa ular dengan bisa rendah bahkan diperbolehkan untuk kita pegang supaya bisa mengikis rasa takut kita terhadap binatang melata ini.

Dalam acara ini kita juga diperkenalkan dengan Karang Taruna CIKIBER yang kreatif sekali membuat kerajinan dari lintingan kertas koran. Bahan utamanya adalah kertas koran yang diliinting, kemudian dianyam menjadi berbagai bentuk. Ada yang menjadi keranjang sampah, tempat baju kotor, tas, kotak tissue, pajangan rumah dan lain-lain. Hasil yang sudah jadi dan telah dicat menyerupai anyaman dari rotan loh. Bahkan teman-teman dari CIKIBER berani menjamin kalau kualitas produk mereka tahan lama dan kuat dengan air. Hebat bukan ?

Kegiatan yang paling saya tunggu dalam acara ini adalah susur sungai dengan menggunakan perahu karet. Sepanjang perahu karet yang saya dan teman-teman blogger lain tumpangi, saya benar-benar melihat kerja keras membuat Sungai Ciliwung ini terlihat bersih. Saya memang masih melihat sisa-sisa sampah dikiri dan kanan bantaran sungai, tapi bukan sampah yang menggunung seperti yang pernah saya lihat di TV atau  foto-foto yang pernah rilis di media cetak dan digital. Bahkan air sungai tidak berbau seperti yang saya bayangkan sehingga saya tidak perlu menggunakan masker. Dipinggiran sungai juga masih sangat hijau oleh pepohonan. Bocah-bocah Ciliwung berenang dengan asyiknya yang menandakan bahwa air sungai ini tidak membuat kulit mereka gatal-gatal. Bahkan kami para blogger dan teman-teman media lainnya ikut serta dalam proses penghijauan di bantaran Sungai Ciliwung yang baru saja dibebaskan dari sampah yang menggunung. Sejumlah pohon salak Condet, duku dan sejumlah tanaman lainnya kami tanam disini sebagai bentuk kepedulian kami membuat bantaran Sungai Ciliwung menjadi hijau. Karena kami sadar, jika Kali Ciliwung bersih dan hijau, maka sudah pasti akan membuat Jakarta menjadi lebih baik. 

Kunjungan saya hari itu ke Sungai Ciliwung membuka mata saya bahwa masih banyak orang dan instansi dimuka bumi ini yang perduli terhadap kelestarian lingkungannya. Kitapun sebenarnya dapat melakukan banyak hal untuk kelestarian lingkungan kita. Kalau kita merasa sulit untuk melakukan hal-hal besar seperti yang telah mereka lakukan, kenapa kita tidak mulai dengan hal-hal kecil yang bernilai besar seperti tidak membuang sampah di sungai atau membuang sampah disembarang tempat. Bukankah sesuatu yang besar selalu bermula dari hal-hal kecil yang kita lakukan ? Ayo jaga kelestarian lingkungan kita mulai dari sekarang...