12 October 2012

Jembatan Cinta Pulau Tidung

Salah satu landmark Pulau Tidung yang rasanya wajib untuk dikunjungi dan diabadikan sebanyak mungkin dalam catatan perjalanan kesana adalah Jembatan Cinta. Jembatan yang dibangun sekitar tahun 70 ini seolah menjadi magnet para wisatawan yang datang kesana. Karena namanya Jembatan Cinta, sejumlah mitos menyertai keberadaan jembatan yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil ini. Salah satu mitos yang saya dengar adalah, bila melompat dari atas jembatan cinta yang melengkung seperti foto diatas, maka akan segera dipertemukan dengan jodohnya. Benar atau tidak ? Ada yang bilang benar karena mengalaminya sendiri dan tentu saja ada yang bilang tidak benar karena ternyata setelah melompat tidak juga bertemu jodohnya. Dalam kunjungan kedua saya ke Pulau Tidung saya mencoba menelaah filosofi Jembatan Cinta yang pastinya lebih masuk akal kedalam pola berpikir saya.

Jembatan Cinta adalah jembatan yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Demikian pula dalam hubungan percintaan dua insan manusia. Kita perlu terhubung dengan sebuah jembatan yang bernama cinta dalam menjalani hubungan tersebut. 

Pada saat akan melintasi jembatan cinta dari pulau tidung besar, kita akan disambut dengan jembatan melengkung. Dari atas jembatan melengkung inilah banyak orang melompat dari atasnya dengan harapan bisa bertemu jodohnya. Saya justru malah berpikir hal yang lain kenapa jembatan melengkung ini diletakkan diawal pada saat kita akan melintasi jembatan. Pada saat kita memulai hubungan dengan seseorang yang kita sayangi, semua hal menjadi indah karenanya. Hidup kita terasa melambung tinggi keatas awan karena cinta. Karena itulah jembatan melengkung ini dibangun diawal mungkin sebagai perlambang awal dari hubungan percintaan. 

Setelah menuruni jembatan melengkung kita akan melewati jembatan yang panjang yang kadang lurus, kadang berbelok, tak jarang naik turun. Begitupula dengan hubungan percintaan, kita harus melewati jalan panjang yang pastinya belum tentu lurus-lurus saja. 

Jangan membuang puntung rokok sembarangan karena bisa membuat jembatan terbakar yang dapat menganggu langkah kita. Dan jangan pula bermain api dalam sebuah hubungan percintaan karena api kecemburuan bisa saja membakar jembatan yang kalian bangun bersama. 

Kadang kala kita melewati jalan yang mulus tanpa hambatan tapi ada kalanya kita harus berhati-hati melangkah karena jalan yang harus kita lalui berlubang. Dalam hubungan percintaan pun demikian. Tidak selamanya jalan yang kita lalui itu selalu mulus. Ada kalanya kita harus memperhatikan langkah kita dengan baik supaya tidak terperosok kedalam sebuah lubang yang mana rasa sakit yang ditimbulkan oleh cinta itu biasanya pasti perih sekali. 

Walaupun jalan yang harus kita lalui untuk melewati jembatan kadangkala harus tersendat karena ada bagian jembatan yang keropos atau terbakar, tapi saya tetap merasa aman melalui jembatan ini karena saya lihat pondasinya yang terbuat dari beton. Yup, pondasi yang kuat dalam membangun sebuah hubungan percintaan niscaya akan membuat kita nyaman melewati sebuah hubungan meskipun hubungan tersebut seringkali harus menemui sejumlah masalah.

Mendekati Pulau Tidung Kecil, jalan yang harus kita lalui menjadi lebih cepat dan lebih mantap karena jembatan kayu yang berlubang atau beberapa bagian yang terbakar sudah berganti dengan jembatan beton. Hal ini saya ibaratkan dengan sebuah kepercayaan dan pemahaman yang telah tumbuh setelah melewati banyak proses yang berliku dalam sebuah hubungan. Ngga mungkin kan selamanya kita akan melewati jalan yang berliku terus dalam menjalani sebuah hubungan ? Karena akan tiba saatnya kita mengatakan "kupersembahkan sebuah jembatan cinta yang kita bangun bersama walaupun tak sempurna sebagai tanda hatiku berlabuh didermaga cintamu"