24 October 2012

Brengkes Tempoyak Durian Khas Palembang


Palembang adalah kota tempat saya dibesarkan. Kota ini dikenal sebagai penghasil beraneka ragam buah-buahan musiman seperti duku dan durian. Ayah saya bahkan memiliki kebun duku dan durian sendiri yang mana bila musim panen tiba, maka rumah kami akan dibanjiri beraneka macam buah-buahan untuk kami santap dan dibagi-bagikan kepada kerabat dan tetangga. Saking banyaknya, tetangga satu komplek bisa kebagian oleh-oleh panen kebun ini loh. 

Salah satu buah hasil panen yang ukurannya cukup besar dan pastinya memakan tempat adalah durian. Walaupun buah berduri ini memang cukup memakan tempat, tapi semua orang dirumah saya sangat menyukainya. Buah ini adalah salah satu favorit keluarga. Saya masih ingat waktu masih kecil dulu saya bisa menghabiskan 3 buah durian utuh sendirian. Kalau sekarang paling banyak 4 sampai 5 biji daging buah durian saja. Walaupun buah durian ini memiliki aroma yang khas dan rasa yang lezat, faktanya tidak semua orang menyukainya. Bahkan karena aromanya yang cukup tajam, buah ini dilarang masuk kedalam kabin pesawat dan dilarang dibawa kedalam kamar hotel. 

Buah durian sendiri sebenarnya mengandung banyak zat gizi yang bermanfaat.  Dalam setiap 100 gram buah durian terakndung 67 gram air, 2,5 gram lemak, 28,3 gram karbohidrat, 1,4 gram serat, 2,5 gram protein dan menghasilkan energi kurang lebih 520 kJ. Selain kandungan gizi tersebut, durian juga memiliki beberapa manfaat antara lain :
1. Dapat mengatasi anemia karena kaya akan zat folat dan zat besi
2. Menghambat penuaan dini karena memiliki kandungan vitamin C sebagai antioksidan
3. Sebagai pembersih darah
4. Dapat mengatasi sembelit karena mengandung serat
5. Baik untuk tulang dan persendian karena mengandung kalsium, potasium dan berbagai vitamin B, dll

Karena jumlah buah durian yang dihasilkan setiap panen sangat banyak, dan tidak semua buah durian akan terjual sementara untuk kebutuhan konsumsi pun masih berlebih. Maka masyarakat diwilayah Sumatera dan Kalimantan membuat alternatif supaya durian yang masih tersisa ini tidak terbuang sia-sia. Salah satu jalan dengan mengolah durian menjadi tempoyak. Tempoyak sendiri adalah daging buah durian yang di fermentasi.  Menurut ayah saya, cara membuat tempoyak ini tidak sulit. Cukup memisahkah daging buah durian yang sudah masak dari bijinya, kemudian diberi garam dan cabe rawit lalu disimpan dalam botol atau toples yang ditutup rapat selama beberapa hari dengan suhu ruangan. 

Tempoyak yang sudah jadi kemudian siap diolah menjadi berbagai masakan. Ibu saya paling sering membuat brengkes tempoyak karena merupakan salah satu makanan kegemaran keluarga. Ibu saya biasanya menggunakan ikan patin, tapi bisa juga menggunakan ikan yang lainnya. Cara membuatnya tempoyak ditumis bersama bumbu-bumbu yang dihaluaskan seperti bawang merah, bawang putih cabe merah, jahe, kunyit, serai, gula pasir dan garam. Kemudian ikan patin dilumuri dengan tumisan tempoyak dan dibungkus dengan daun pisang. Tempoyak ini bisa dimasak dengan cara dikukus atau dibakar. Brengkes tempoyak ini sangat lezat bila  disajikan dengan lalapan dan sambal mangga. Rasanya sangat komplit, asam pedas dari tempoyak dan bumbu-bumbunya serta rasa gurih dari ikan patinnya. Dan hidangan ini akan bertambah lezat pastinya bila disantap bersama seluruh anggota keluarga.