06 February 2014

Surat Untuk Kedua Orang Tuaku


Assalamualaikum Wr.Wb

Papa dan Mama tercinta, tahun baru 2014 sudah terlewati satu bulan. Tahun berganti tahun seolah berlari dengan kencangnya. Rasanya seperti baru kemarin kalian memarahi aku karena masih suka ngompol walaupun sudah kelas 5 SD. Diantara keempat anak kalian, mungkin akulah yang paling sering membuat kalian khawatir. Anak kalian yang satu ini sudahlah keras kepala, pembangkang, pemarah, tapi juga cengeng dan sensitif. Mungkin pernah terpikir dibenak kalian, akan jadi apa anak yang satu ini dimasa depannya ? 

Sifat pemarah dan keras kepalaku sudah jelas rasanya menurun darimu Pah. Aku masih ingat betapa seringnya kita berdebat dan beradu argumen untuk banyak hal. Dan biasanya perdebatan itu akan berakhir setelah salah satu dari kita mengalah. Kadang aku yang mengalah, tak jarang Papa yang mengalah. Aku masih ingat ketika sedang liburan keluarga dan kita akan pergi kesuatu tempat, Papa ngotot bahwa kita harus belok kiri disini sementara aku ngotot bahwa belok kirinya masih didepan lagi. Kita berdebat sangat seru, Papa ngotot bahwa sudah hapal daerah ini sementara aku lebih-lebih ngototnya karena baru kemarin aku melewati jalan ini. Papa akhirnya mengalah dan memilih mengikuti kata-kataku yang terbukti benar adanya. Dilain waktu, kami juga berdebat saat Papa akan membelikanku sepeda motor. Disatu sisi kami sudah sepakat dengan merk dan type motor yang akan dibeli, tapi dilain sisi kami sama sekali tidak sepakat soal warna. Aku ngotot ingin membeli motor warna merah sementara Papa ngotot lebih suka warna ungu. Adu mulut dan perdebatan sengitpun kembali terjadi sampai dilihat orang-orang di showroom. Akhirnya aku memutuskan untuk mengalah dan menerima keputusan Papa untuk memilih motor warna ungu. Pertimbangan saat itu daripada Papa memutuskan membatalkan niatnya membelikanku motor, lebih baik aku yang mengalah. Hahahahaha... Tapi itulah kami, duo ayah dan anak yang pemarah dan keras kepala. 

Nah kalau urusan cengeng dan sensitif ini sudah jelas sifat turunan darimu Mah. Kadang aku berpikir kalau Mama itu cengengnya kebangetan. Nonton sinetron saja bisa bersimbah air mata. Dulu aku suka sekali meledek Mama kalau sudah asyik nonton sinteron. Entah karena kualat sering meledek Mama cengeng atau memang pada dasarnya aku memiliki gen cengeng yang begitu kuat didalam darahku, belakangan aku menyadari kalau aku juga gampang terenyuh. Pernah aku melihat anak pengemis tidur diatas jembatan seorang diri, dan air mataku menetes tanpa bisa ku kontrol. Atau aku pernah melihat sepasang kakek dan nenek renta dan lusuh  duduk di trotoar jalan, dan tiba-tiba air mataku jatuh bercucuran. Aku seolah tidak terima dengan kondisi mereka. Kenapa mereka bisa ada di jalan ? Mana orang tua anak itu ? Mana anak-anak kakek dan nenek itu. Mereka seharusnya ada dirumah, menikmati kehangan rumah bersama keluarga. Dan beberapa tahun terakhir ini air mataku juga suka menetes sendiri kalau nonton film bioskop yang mengharu biru. Dan aku langsung ingat pada Mama yang dulu sering aku ledek kalau lagi banjir air mata saat nonton sinetron. Aku kualat kayanya yah Ma. Hahahaha...

Mah, Pah.. mungkin diantara semua anak-anakmu, aku adalah anak yang susah kalian mengerti. Aku jarang memberi kabar sampai akhirnya kalian kuatir dan menelpon untuk menanyakan kabarku. Dan setiap kalian menelponku untuk menayakan kabar, aku selalu sedih karena merasa berhasil membuat kalian kuatir. Sungguh bukan maksudku untuk membuat kalian sedih. Aku tidak berkirim kabar karena aku merasa belum ada kabar dariku yang bisa membuat kalian bangga. Aku tahu kalian hanya ingin sekedar disapa dan tahu kalau aku baik-baik saja. Tapi selalu ada beban berat didalam diriku untuk menelpon kalian. Aku anak yang mungkin belum sesuai dengan harapan kalian, aku juga belum bisa membuat kalian bangga. Boro-boro mengirimi kalian uang setiap bulan atau membelikan barang-barang yang mahal. Percayalah Ma, Pa.. Kalau aku ditanya apa penyesalan terbesarku selama hidup ? Itu adalah belum bisa membuat kalian bahagia sampai saat ini. Jauh didalam lubuk hatiku aku menyesali waktu yang kubuang percuma dengan tidak membuat kalian bahagia.

Dan memasuki tahun 2014 ini aku kembali harus membuat kalian bersedih lagi karena aku memutuskan untuk berhenti kerja. Status pengangguran pasti bukanlah sesuatu yang orang tua manapun harapkan dari seorang anak. Tapi dukungan serta doa kalian supaya aku selalu sukses selalu mencambukku untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan aku sudah memutuskan untuk mendedikasikan tahun ini untuk kebahagiaan kalian. Entah bagaimana caranya, aku akan memotivasi diriku untuk membuat kalian bangga pada anakmu yang satu ini. Aku akan mencambuk diriku lebih keras untuk itu. Kesedihanku yang terbesar saat ini adalah melihat kalian menua dan tidak bahagia memikirkan aku saat ini. Aku akan hapus kesedihan itu dari wajah kalian. Aku janji...

Akhir kata, aku minta maaf pada kalian kedua orang tuaku tercinta untuk semua ketidakbahagiaan kalian yang aku sebabkan. Semoga Allah SWT memaafkan dosa besarku ini.. 

Wassalam


Arie anakmu


berpartisipasi dalam B Blog