26 April 2015

[ Review Hotel ] Santa Monica Hotel & Convention - Bogor

Masih ingat perjalanan saya bersama Blue Bird Limo bulan Maret yang lalu ? Dalam acara tersebut kami diinapkan di Santa Monica Hotel & Convention yang berlokasi di daerah Caringin - Bogor. Jalan menuju ke hotel ini cukup menanjak tapi pemandangannya asyik. Mau tahu ada apa saja yang bisa kita jumpai di dalam hotel ? Yuk lihat review lengkapnya :)

Begitu memasuki gerbang hotel, kesan pertama yang saya tangkap adalah lega. Bagaimana tidak lega, halaman untuk parkir hotel ini terlihat cukup lapang. Bangunan hotel yang tampak pertama adalah restaurant dan lobby. Lobby hotelnya sendiri sekilas lalu terlihat tidak besar, tapi ternyata di dalamnya cukup lapang juga. Beberapa sofa yang empuk dan nyaman tersedia untuk diduduki. Bukan untuk ditiduri loh yah. Hahahaha..

Kesan lega benar-benar terasa setelah memasuki area kamar tidur. Hotel ini memiliki kamar dengan beberapa bagian. Sepertinya hotel ini dibangun secara bertahap. Dan keyakinan saya semakin kuat setelah melihat beberapa bangunan baru di bagian belakang hotel. Saya sendiri mendapat kamar di lantai bawah tepat di depan kolam renang. Jadi tidak repot naik turun tangga untuk mencapai kolam renang. Bahkan sambil tiduran di dalam kamar pun bisa melihat ( baca : ngintip ) orang-orang yang lagi berenang. 

Beberapa kamar di hotel ini memiliki koridor yang harus dilewati seperti layaknya koridor di kamar hotel pada umumnya. Sedangkan kamar saya yang berada di bawah dan beberapa kamar yang menghadap kolam renang memiliki koridor yang lebih luas dengan kursi teras di bagian depan. Kalau kebetulan penghuni satu deret kamar ini adalah satu rombongan, bayangkan keseruan ngobrol dan ketawa hahahihi di depan teras kamar ini. 

Nah ini dia nih kamar tidur di Santa Monica Hotel & Convention Bogor. Kamar yang saya tempati terdiri dari 3 single bed. Tapi karena foto yang 3 single bed ngga ada yang keceh, jadinya saya masukin foto dengan 2 single bed saja. Mestinya sih masih ada satu bedroom lagi di sebelahnya. Hotel-hotel yang sering digunakan untuk event gateway atau acara perusahaan biasanya memang menyediakan kamar tidur dengan lebih dari 2 single bed. Untuk fasilitas dalam kamar sendiri saya pikir tidak berbeda dengan hotel-hotel lain yang pernah saya inapi, TV flat dengan ukuran lumayan besar tersedia, tapi channel TV nya kurang beragam. Lalu ada air mineral dalam botol. Dan kalau air minumnya habis ngga perlu kuatir, karena ada banyak dispenser tersedia di area koridor. Sandal hotel yang unik karena terbuat dari anyaman juga tersedia. Sayang sungguh sayang saya lupa membawanya pulang untuk menambah koleksi. 

Diluar dugaan, kamar mandinya berukuran cukup besar loh. Hanya sayang, ukuran yang besar jadi terlihat kosong karena hanya di isi shower, kloset duduk dan wastafel. Coba kalau ada bathtub, pasti agak sedikit rame *ngarep* . Tapi kebayang juga sih kalo ada bathtub, yang ada mandinya pada lama-lamaan. Oh ya, air di sini dingin banget loh. Untungnya tersedia fasilitas air panas sehingga mandi jadi menyenangkan. Kalau ngga ada fasilitas air panasnya, mungkin saya ngga bakalan mandi selama menginap di sini. Hahahaha..

Karena kami menginap satu hari penuh. Tentunya saya menikmati komplit menu makan siang, makan malam, makan pagi dan makan siang kembali keeseokan harinya. Tempat makannya bernama Cemara Resto. Tempatnya berada di bagian depan dengan bangunan tersendiri di samping lobby. Tempatnya cukup luas dan yang paling menyenangkan adalah pemandangan ke area taman dan persawahan dengan semilir angin sepoi-sepoi. Rasanya makanan apapun yang saya santap di sini jadi terasa nikmat loh.

Menu-menu yang disajikan saat makan pagi, makan siang dan makan malam selalu berbeda. Sehingga saya cukup penasaran dengan menu-menu yang akan disajikan saat sesi makan berikutnya. Tidak heran saya selalu datang duluan di Cemara Resto saat jam makan tiba. Menu-menu yang terhidang sih mayoritas adalah  hidangan Indonesia. Mulai dari pesmol, ikan goreng, bakwan jagung, dendeng, dan menu-menu yang lain. Seperti yang sudah saya bilang, entah kenapa semua menu disini menurut saya enak. Ngga bakalan ingat diet deh kalau sudah makan di sini. 

Pemandangan paling oke di Santa Monica Hotel & Convention Bogor ini adalah pemandangan pagi hari tepat di depan kamar saya. Bgitu saya membuka gorden kamar di pagi hari langsung terlihat kolam renang, hamparan sawah dan gunung di kejauhan. Benar-benar membuat pikiran jadi tenang dan damai. Oh ya di hotel sendiri juga tersedia beberapa fasilitas meja pingpong dan meja bilyard. Kalau rombongan yang mau membuat acara permainan seperti paintball atau rafting, dengan bantuan pihak ketiga kita bisa menggelar acara tersebut seperti yang kami lakukan. Cerita bermain paintball dan rafting bisa dibaca di sini.  Rekomen banget deh buat yang cari suasana berbeda tapi ngga jauh-jauh banget dari Jakarta.  

Nah kalau teman-teman tertarik menginap atau membuat acara bersama rombongan di Santa Monica Hotel & Convention, sila datang langsung atau hubungi :

Kampung Cipare Desa Pancawati Caringin 
Bogor - Jawa Barat

21 April 2015

Jalan-Jalan Ke Tebing Keraton

Postingan kali ini masih merupakan kelanjutan dari postingan saya sebelumnya tentang kisah perjalanan saya dan teman-teman mengisi liburan long weekend beberapa waktu yang lalu ke Bandung. Setelah melewati destinasi pertama yaitu Kawah Putih Ciwidey, kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi kedua yaitu Tebing Keraton. Tempat ini memang baru setahun terakhir ini mulai populer. Karena itulah kami bertekad untuk jalan-jalan ke sana. Untuk menuju Tebing Keraton kami harus turun dari Ciwidey memasuki kota Bandung lalu masuk jalan Ir.H.Djuanda yang akan menuju arah Lembang. Kemudian tinggal mengikuti petunjuk Taman Hutan Raya ( Tahura ). Lalu kita akan menemukan persimpangan dan pilihlah arah ke kanan. 

Jalan menuju Tebing Keraton memang masih dalam proses perbaikan. Beberapa jalur dari arah bawah terlihat sudah bagus karena sudah di cor beton, sedangkan beberapa ruas jalan lainnya masih dalam kondisi berbatu-batu. Mobil matic yang kami gunakan sempat tersendat sekali karena terjebak jalan bebatuan. Tapi dengan sedikit bantuan dorongan manusia, mobil bisa berjalan kembali sampai di tujuan. Sampai ? Jangan sedih.. Kita baru sampai di tempat pemberhentian mobil saja. Untuk menuju gerbang Tebing Keraton ada 2 pilihan jalan yang dapat ditempuh. Pertama berjalan kaki sekitar 3 kilo dengan jalan yang menanjak. Dan kedua naik ojek Rp.50.000,- pulang pergi. Karena saat kami sampai sudah menjelang sore dan dalam kondisi langit berawan, maka kami memutuskan untuk naik ojek saja.

Harga tiket masuk menuju Tebing Keraton seharga Rp.11.000,- untuk wisatawan domestik dan Rp.76.000,- untuk wisatawan mancanegara. Setelah membayar tiket masuk, kita akan berjalan melalui jalan setapak untuk menuju Tebing Keraton. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan yang indah serta udara yang sangat sejuk.

Tebing Keraton sendiri merupakan sebuah tebing yang menonjol sehingga kita bisa melihat pemandangan tanpa terhalang apapun dari sana. Untuk mendapatkan foto yang bagus, menurut orang-orang sebaiknya dari ujung bebatuan tebing. Tapi sebaiknya tidak dilakukan dalam kondisi sehabis hujan karena cukup licin dan berbahaya. Karena saya dan teman-teman datang dalam kondisi sehabis hujan, maka saya menahan diri untuk tidak berfoto di ujung tebing. 

Sebagai gantinya kami berempat foto-foto heboh dari balik pagar saja. Yang penting sudah datang dan masih bisa melihat pemandangan yang indah walaupun tidak bisa berfoto dari ujung tebing. Mungkin lain kali saya akan datang lagi untuk berfoto di ujung tebing bila cuaca sudah mulai masuk musim kemarau. Kami tidak lama berada di Tebing Keraton karena gerimis mulai turun kembali. Langsung ngacir menuju tempat ojek kami berada dan segera kembali ke mobil untuk membeli oleh-oleh khas Bandung sebelum kembali Jakarta malam harinya. Ahh senang sekali bisa jalan-jalan bersama teman-teman kantor, Mari explore Indonesia :)

12 April 2015

Berakhir Pekan Ke Kawah Putih Ciwidey

Dua hari menjelang long weekend minggu lalu, teman-teman di kantor mulai kasak kusuk mencari tempat untuk menghabiskan liburan. Beberapa diataranya melibatkan saya dengan membuat rencana dadakan untuk berangkat ke Bandung sepulang kerja di hari Kamis malam. Mbak Dini bahkan menawarkan untuk menggunakan mobilnya dalam perjalanan. Sejumlah persiapan super singkatpun kami lakukan, diantaranya mencari tempat menginap satu malam dan kemana tujuan kami berlibur ke Bandung. Setelah disepakati, kami berencana akan berwisata ke Kawah Putih Ciwidey dan Tebing Keraton. Sempat nyaris batal berangkat karena dua orang yang rencananya ikut serta tiba-tiba berhalangan. Mas Jun yang tiba-tiba harus mengisi acara di televisi dan Hanum yang tiba-tiba kondisi tubuhnya drop. Tapi angin apa yang membuat Hanum akhirnya tetap masuk kantor dan mengajak saya serta mbak Dini untuk tetap meneruskan rencana semula. Dan akhinya kamipun nekat berangkat berempat dengan personil saya, Mbak Dini, Hanum dan Juned. Sedangkan Mas Jun berjanji akan menyusul kami hari Jumat pagi. 

Kamis sore sekitar pk.18.00 kami langsung ngacir dari kantor dan berencana masuk tol dari Tebet. Apa daya, lalulintas Jakarta malam itu sangat tidak bersahabat. Sampai mendekati pk.21.00 kami baru sampai di kawasan Pancoran dan memutuskan untuk makan malam dulu di Tebet Green. Mendekati pk.22.00 kami melanjutkan perjalanan dan ternyata macet panjang belum berakhir. Meskipun tersendat kami memutuskan untuk jalan terus. Karena kemacetan panjang tersebut kami baru keluar dari tol Kopo sudah hampir pk.02.00. Selanjutnya tinggal mengikuti penunjuk arah yang cukup banyak dan jelas untuk menuju Ciwidey. Dalam kondisi demikian sepertinya akan sangat mubazir bila tetap meneruskan rencana menginap di hotel. Akhirnya kami memilih tidur di area warung-warung sebelum gerbang masuk Kawah Putih Ciwidey. Untungnya kami bukan satu-satunya yang memutuskan tidur di sana. Ada beberapa mobil lain yang sepertinya juga menunggu pagi untuk naik ke atas kawah. Kami sempat ngemil dan minum bandrek susu di salah satu warung. Dan bandrek susunya enak sekali menurut saya. Harganya juga tidak mahal. Selesai ngemil, satu persatu kami masuk ke mobil untuk tidur karena udara di luar yang sangat dingin.

Pk.06.00 pagi kami sudah bangun dan langsung sarapan tahu sumedang panas beserta bandrek susu di warung yang semalam. Mbak Dini dan Hanum awalnya ingin menumpang mandi, tapi ternyata airnya sangat dingin sehingga akhirnya hanya cuci muka saja. Dari tempat kami menginap ini ada dua cara untuk menuju Kawah Putih, yaitu naik Ontang Anting atau sejenis kendaraan umum seharga Rp.15.000,-/orang dan kedua tentu saja dengan mobil yang kami bawa dengan membayar uang masuk untuk mobil sebesar Rp,150.000,-. Lebih mahal memang ketimbang naik ontang anting, tapi demi alasan kepraktisan suaya tidak perlu tunggu menunggu penumpang lain pada saat akan naik dan turun akhirnya kami pilih cara kedua. Kami sempatkan terlebih dahulu untuk foto-foto riang gembira. Mulai dari foto sendiri-sendiri sampai foto berempat termasuk foto alas kaki yang kami pakai. Kapanlagi lah. Hahahaha..

Setelah membayar retribusi masuk, kami mulai memasuki jalan menanjak yang hanya cukup untuk dua mobil saja. Itupun kalau ada mobil yang berukuran besar, salah satunya harus menepi sedikit supaya bisa muat untuk dilalui. Karena udara sangat segar dan dingin, kami memutuskan untuk membuka jendela lebar-lebar dan mematikan AC. Maksud lainnya adalah supaya mobil lebih kuat menanjak. Menurut Hanum dan Juned yang sudah pernah ke sini sebelumnya, jalanan yang kami lalui sudah mengalami pelebaran dibandingkan kunjungan mereka sebelumnya. Syukurlah kalau begitu.. Suasana yang hening dengan kicau burung dan kabut tipis yang turun membuat perjalanan jadi begitu romantis kalau bersama pasangan. Sayangnya yang duduk di sebelah saya adalah Juned dan yang duduk di belakang adalah Hanum dan Mbak Dini yang merupakan teman kantor. Rusak sudah khayalan akan suasana romantis.

Sekitar 20 menit melewati jalan mendaki, sampailah kami pada sebuah tempat datar yang cukup luas. Ini adalah tempat pemberhentian mobil maupun ontang anting sebelum menuju ke Kawah Putih.  Ada sebuah rumah kayu bertuliskan Perhutani. Kalau mau ke toilet juga tersedia di sini. Tempat parkiran sangat luas sehingga tidak perlu kuatir tidak mendapat tempat. Jangan lupa untuk berfoto di depan tulisan Kawah Putih seperti yang saya lakukan. Kalau bisa sih naik ke atas kawah sepagi mungkin, sebab kalau semakin sore akan lebih banyak orang yang datang dan pastinya harus mengantri untuk berfoto di tempat yang diinginkan.

Untuk menuju kawah kita harus melewati gerbang yang kalau menurut saya sih mirip dengan gebang-gerbang kuil di Jepang. Mumpung bagus dan ngga ada orang lewat, langsunglah pasang gaya di depan gerabang. Puas foto-foto langsung deh menuruni tangga untuk menuju kawah. Tangganya sudah dibagi menjadi 2 bagian, satu bagian untuk turun dan satu bagian untuk yang akan naik. Jadi lebih teratur lah. 

Dan inilah Kawah Putih Ciwidey dengan warna air yang berwarna putih kehijauan. Warna kawah terkadang berubah menjadi lebih hijau dan terkadang lebih putih seperti saat saya datang tempo hari. Untungnya belum ramai orang yang berada di kawah sehingga kita leluasa untuk memilih tempat berfoto. Kabarnya Kawah Putih ini terbentuk dari letusan Gunung Patuha. Kawah ini terletak pada ketinggian 2090 mdpl di bawah puncak Gunung Patuha. Untuk alasan keselamatan sebaiknya kita membawa dan menutupi hidung dengan masker, apalagi bila angin sedang berhembus kencang. 

Menyenangkan sekali tamasya ke Kawah Putih Ciwidey. Apalagi perginya bersama teman-teman. Ada teman ngobrol dan pastinya ada teman yang bisa diminta untuk memotret kita dalam berbagai pose. Oh ya, kalau mau ke Kawah Putih Ciwidey, siapkan baju hangat seperti jaket dan pakai celana panjang yah supaya tidak masuk angin karena cuaca di sana yang cukup dingin. Catatan perjalanan ke Tebing Keraton akan saya tulis dalam postingan berikutnya. Nantikan yah...

08 April 2015

[Review Hotel] Hotel Santika Makassar

Dua hari perjalanan di Makassar saya isi dengan menginap di dua hotel yang berbeda. Padahal jarak hotel yang pertama dan hotel yang kedua hanya tinggal ngesot saja alias dekat sekali. Tapi berhubung tawaran menginap dengan special rate di hotel kedua datang setelah saya booking kamar di hotel pertama, jadilah saya memutuskan untuk menginap di dua hotel yang berbeda. Dan inilah hotel kedua yang saya inapi dalam perjalanan ke Makassar untuk kegiatan pelarian saya tempo hari. Hotel ini bernama Hotel Santika.


Hotel Santika Makassar adalah hotel berbintang tiga di bawah bendera Santika Indonesia Hotels & Resort yang mengoperasikan lebih dari 50 hotel dengan brand Hotel Santika, Hotel Santika Premiere dan Amaris Hotel. Hotel Santika Makassar sendiri merupakan hotel berbintang tiga yang beroperasi sejak tahun 2007. 

Lobby Hotel Santika Makassar terasa besar dan lega. Sofa-sofa diletakkan di pinggir sedangkan meja resepsionis berada di bagian tengah. Lihat sofa besar yang empuk langsung pengen selonjoran deh. Untungnya petugas resepsionis yang cantik dan ramah cukup cekatan memproses kamar saya. Hanya dalam hitungan menit, kunci kamar saya sudah tersedia untuk di tempati. Jempol ! Batal deh selonjoran di sofa. Hahahahaha...

Koridor menuju kamar hotel dilapisi karpet bermotif dan hiasan dengan motif kain tradisional Makassar. Di atas pintu kamar juga terdapat lampu berwarna putih yang menghasilkan lighting yang oke terlihat di malam hari. Yang jelas sih ngga horor kalau mau lewat koridor di malam hari. Pintu kamar hotel berwarna putih dengan bandul untuk mengetuk pintu di atas nomor kamar. 

Untuk kamar yang saya tempati seorang diri, ruangan ini terasa cukup besar. Coba kalau ada pendamping hidup, pasti terasa lebih hangat *menghayal level dewa dewi*. Kasurnya empuk, hanya susunan bantalnya kok kurang rapi yah ? Saya coba rapikan supaya lebih oke di foto ternyata malah tambah berantakan. Untung sebelum dirapikan sudah foto terlebih dahulu. Tapi sudahlah. Yang penting kasur dan bantalnya empuk.

Hotel Santika Makassar ini baik banget loh. Kalau di hotel lain biasanya kita hanya mendapat 2 botol air mineral per hari, di Hotel Santika Makassar saya mendapat 4 botol air mineral. Dua botol di atas meja yang tersusun bersama teh, kopi, gula dan teman-temannya. Dua botol lagi berada di kamar mandi. Tidak hanya itu, saat mendapat kunci kamar saya juga mendapat bisikan dari mbak resepsionis cantik kalau minuman di minibar juga free. Begitu saya buka kulkas memang hanya ada 3 minuman kotak. Tapi gratis dong ini.. Maka wajib hukumnya untuk di minum. Dasar muka gratisan :))

Fasilitas lain yang berada dala kamar adalah safe deposit box yang kali ini cukup berguna untuk menyimpan beberapa barang berharga saat saya keluar hotel. Sendal hotel juga tersedia dua pasang di mana salah satunya saya bawa pulang untuk koleksi. Duuh koleksi saya yang satu ini kok tambah banyak yah sepertinya numpuk di kamar. Hehehehe.. Meja kerja dalam kamar juga cukup luas walaupun saya lebih suka mengerjakan pekerjaan dengan menggunakan laptop dari kasur sambil tiduran. 

Karena hotel sudah beroperasi sejak tahun 2007 lalu, trend kamar mandi yang dibatasi dengan kaca sepertinya belum diadopsi di sini. Tapi kamar mandinya cukup luas dan bersih. Seperti yang saya bilang, ada dua botol air mineral di kamar mandi, lalu toiletries pun tersedia cukup lengkap. Yang kurang sepertinya hanya hair dryer. Sejak mulai nge-gym tahun lalu saya memang cukup suka memakai hair dryer. Tapi bukan untuk mengeringkan rambut melainkan untuk mengeringkan dan menghangatkan badan setelah mandi. 


Sore hari saya sempatkan nongkrong di Spermonde Lounge yang terletak di lantai 11 Hotel Santika Makassar. Tempatnya sangat nyaman dengan sofa-sofa yang empuk dan cukup tega menahan saya berlama-lama duduk hingga akhirnya mengeluarkan isi dompet untuk membeli sandwich tuna dan juice semangka. Tapi ngga rugi juga sih, sandwichnya banyak dan enak. Juice semangkanya juga segar karena saya minta tidak dicampur gula dan susu. Cukup lama saya nongkrong di situ sembari hahahihi dengan orang-orang di social media. Duuh sedihnya... Coba ada pasangan, pasti lebih seru berhahahihi berdua di sini.

Sarapan pagi berlangsung di Kafe Kalosi yang berada di lantai 3 Hotel Santika Makassar. Saya turun sarapan sebelum jam 6 pagi karena harus mengejar pesawat saya kembali ke Jakarta. Untungnya semua menu sudah siap, ditambah lagi belum ada yang sarapan sehingga suasana jadi sepi dan enak buat foto-foto suasana resto, makanan dan tentu saja foto selfie.

Pilihan menu sarapan di Hotel Santika Makassar cukup bervariasi. Sampai bingung juga mau sarapan apa saking banyaknya pilihan. Tidak hanya makanan, minuman yang disediakan juga cukup beragam, mulai dari pilihan teh atau kopi panas hingga juice dan susu. Bagi yang suka salad, tersedia salad bar dengan beberapa pilihan sayuran. Dan yang paling saya suka dari Hotel Santika adalah menu tradisional yang terhidang dalam tungku tanah liat. Untuk hari itu ada pilihan menu tradisional Nasi Pecel dan Coto. 

Bagi yang suka roti juga tersedia aneka roti manis maupun roti tawar lengkap dengan selainya. Karena agak terburu-buru ditambah bingung pula mau makan apa, saya memilih menyantap banyak menu dalam porsi kecil. Yang penting semua tercicip. Biar ngga kepo dan nyesel kalau sudah check out. Hahahahaha... 

Tidak ada kolam renang di Hotel Santika Makassar. Tapi fasilitas kebugaran di sini lumayan lengkap loh. Ada tempat gym yang cukup banyak alatnya, ada sauna dan tempat massage, lalu ada pula jacuzzi . Sayangnya saya tidak mencoba satupun fasilitas kebugaran karena dalam kondisi lelah habis berlari, Tadinya sih mau coba massage, tapi lebih tertarik tidur saja untuk recovery. Yah sudahlah...

Bagaimana ? Asyik kan fasilitas yang ada di Hotel Santika Makassar ? Yang jelas hotel ini cukup dekat dengan pantai Losari dan tempat-tempat kuliner hits di Makassar. Ke airport saja bisa ditempuh sekitar 45 menit. Kalau teman-teman tertarik mau menginap di sini silahkan datang langsung atau hubungi :

Jalan Sultan Hasanuddin No. 40
Makassar 90111- INDONESIA
Phone : (62-411) 3632233, 3635599
Fax : (62-411) 3632277
Email : makassar@santika.com