18 February 2016

Jadi Saksi Fenomena Gerhana Matahari Tahun 1988

Ilustrasi : detik.com
Tahun 2016 ini, sebagian wilayah Indonesia kembali disajikan fenomena alam Gerhana Matahari Total yang merupakan sebuah fenomena dimana posisi bulan berada di tengah-tengah matahari dan bumi. Akibatnya daerah yang dilintasi gerhana matahari akan menjadi gelap selama beberapa saat. Saya sendiri punya sebuah moment yang akan selalu saya kenang seumur hidup saya saat menyaksikan Gerhana Matahari Total di Palembang pada tahun 1988 silam. Simak yuk tulisan di blog saya kali ini.

Ilustrasi : detik.com
Indonesia sendiri saat ini sudah sembilan kali dilintasi oleh fenomena alam Gerhana Matahari Total. Tapi kehebohan terjadi saat Gerhana Matahari Total melintasi pulau Jawa pada tahun 1983. Pemerintah melarang masyarakat untuk melihat gerhana karena kuatir akan mengakibatkan kebutaan. Ditambah lagi sejumlah mitos masyarakat Jawa yang saat itu masih cukup kental terkait fenomena gerhana sendiri. Akibatnya suasana pada saat Gerhana Matahari pada tahun 1983 bisa dikatakan sepi, masyarakat banyak yang berdiam diri di dalam rumah karena takut mengalami kebutaan. Sedangkan banyak pengamat dan wisatawan datang ke Indonesia justru untuk menyaksikan gerhana. Keheningan itu membuat pemerintah saat itu banyak dikritik karena dianggap memberikan informasi yang keliru pada masyarakat. Padahal seharusnya fenomena langka tersebut harus bisa disaksikan masyarakat asalkan dilakukan dengan cara yang benar.

Foto diambil dari sini 
Foto diambil dari sini 
Untungnya saat Gerhana Matahari Total pada tahun 1988 kembali melintasi sebagian wilayah Kalimantan dan Sumatera termasuk kota Palembang tempat saya menghabiskan masa kecil, pemerintah sepertinya mulai belajar banyak. Saya masih ingat, di seluruh penjuru kota Palembang saat itu banyak terpasang poster-poster himbauan untuk menyaksikan gerhana secara aman. Bahkan saya juga masih ingat sekali bagaimana di sekolah, saya dan teman-teman diajarkan membuat kacamata untuk menyaksikan Gerhana Matahari Total. Kebetulan saya masih ingat betul cara membuatnya. Jadi kami diminta untuk membawa negatif film yang tidak terpakai di rumah dan karet gelang. Tahun itu mudah sekali menemukan negatif film di rumah, karena semua kamera foto masih menggunakan negatif film yang harus dicuci dan dicetak terlebih dahulu. Negatif film memiliki lubang-lubang pada pinggirannya. Lalu negatif film ini digunting hingga bagian mata tertutup keduanya. Kemudian pinggiran negatif film yang berlubang ini diikat dengan karet pada bagian atas dan bawahnya. Karet ini akan diletakkan ditelinga sehingga kita seperti memakai kacamata. Saya juga masih ingat pesan guru saya saat itu, walaupun sudah memakai pelindung yang kita buat ini, bukan berarti kita bisa terus-menerus melihat gerhana. Kalau mata lelah sebaiknya jangan memaksakan diri untuk terus melihat ke arah matahari.

Foto :detik.com
Sekolah saya meliburkan semua siswanya hari itu di tahun 1988 bukan karena takut para siswa menjadi buta karena efek gerhana matahari. Tapi karena pihak sekolah ingin semua siswanya bisa menyaksikan fenomena alam Gerhana Matahari Total. Saya yang saat itu masih berstatus pelajar SD, terkagum-kagum melihat bagaimana gerhana matahari membuat langit yang terang benderang menjadi gelap kembali. Saya bisa menyaksikannya dengan tenang bersama keluarga besar di beranda rumah nenek karena saya tahu mata saya sudah terlindungi dan sesuai dengan instruksi guru saya. Benar-benar peristiwa alam yang sangat luar biasa bagi saya saat itu. Dan ketika posisi matahari sudah tertutup sepenuhnya oleh bulan, saya bisa membuka kacamata buatan saya untuk melihat gerhana matahari dengan mata telanjang. Dan sebelum gerhana berakhir, kami sudah kembali memasang kacamata tersebut supaya mata tetap aman. 

Sumber : detik.com

Kerinduan untuk mengulang moment langka menyaksikan fenomena alam Gerhana Matahari Total sangat kuat saya rasakan. Apalagi pada tanggal 9 Maret 2016 nanti ada banyak tempat yang bisa didatangi untuk menyaksikan gerhana matahari total, diantaranya Ternate yang indah dan Belitung yang eksotik. Pilihannya kembali pada saya, apakah akan mengulang menyaksikan gerhana matahari dari teras rumah bersama keluarga seperti yang saya rasakan pada tahun 1988 lalu atau mungkin di salah satu tempat yang saya tuliskan tadi bersama teman-teman saya. Yang pasti karena pada tahun 1988 saya hanya sebatas melihat saja, kali ini saya ingin mengabadikan banyak foto Gerhana Matahari Total yang saya ambil sendiri. Jangan sampai terlewatkan fenomena alam yang langka ini. Karena kalau sampai terlewat, mungkin kita baru berkesempatan untuk melihatnya lagi pada tahun 2023 yang akan datang. Dan pastikan kalian melindungi mata dengan filter seperti kacamata khusus atau media lainnya yah teman-teman. Ayo jadi saksi fenomena alam Gerhana Matahari Total !

Laskar Gerhana detikcom