22 September 2016

Melangkah Bersama Mendaki Gunung Anak Krakatau

Halo teman-teman. Apa kabarnya ? Kangen dengan cerita jalan-jalan di blog saya ini ? Mungkin beberapa teman-teman ada yang sempat menanyakan langsung di akun media sosial yang saya punya. Kapan nih menulis cerita perjalanan lagi ? Sebenarnya sih stok tulisan jalan-jalannya menumpuk, tapi sayang waktu untuk menulisnya itu lho yang kurang banyak. Karena pekerjaan kantor saya sedang menyita waktu saya belakangan ini. Nah mumpung sekarang lagi agak luang, maka saya akan menuliskan catatan perjalanan seru saya bersama teman-teman blogger lainnya mendaki Gunung Anak Krakatau dalam rangka Lampung Krakatau Festival 2016. Yuk disimak.

Foto : Travelerien
Dalam perjalanan kali ini, saya berkumpul bersama para blogger heits tanah air yang tulisan mereka benar-benar asyik untuk dibaca. Jujur agak minder bisa jalan bareng mereka, mengingat tulisan saya yang apalah apalah ini. Tapi ketika kumpul bareng mereka, sudah tidak ada rasa minder. yang ada hanya gelak canda tawa bersama. Dan inilah blogger yang menjadi partner perjalanan saya kali ini. Ada Katerina yang akrab saya panggil Yuk Rien,ada mbak Rossana sang mak endorse dari Balikpapan, lalu ada Dunia Indra dan Om Yopi dari @kelilinglampung yang sekaligus jadi pemandunya kita-kita, Rian dari Jogja, Maman dan Yayan alias @OmNdutt dari Palembang, Hari JT sang juragan travel dari Pangkalpinang, lalu ada Mbak Dian dan Mbak Lina dari Batam. Belakangan orang-orang gila yang saya sebut saudara ini menamakan kelompok ini sebagai TBC atau Team Blogger Chebox. Kocak yah...

Sedikit cerita nih teman-teman, Lampung Krakatau Festival adalah sebuah event tahunan yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Lampung. Untuk tahun ini ada beberapa event yang diadakan di Lampung Krakatau Festival 2016, yaitu Jelajah Pasar Seni, Jelajah Rasa, Jelajah Layang-layang, Jelajah Semarak Budaya dan Jelajah Krakatau. Nah salah satu rangkaian yang saya ikuti kali ini adalah Jelajah Krakatau dimana kami akan berlayar dari Lampung menuju Gunung Anak Krakatau. Sebelum pk.06.00 pagi, rombongan kami sudah tiba di depan Kantor Gubernur Lampung sekaligus menjadi rombongan yang pertama datang. Setelah beberapa bus yang tersedia terisi, kami langsung diberangkatkan menuju Pantai Sari Ringgung tempat kapal yang akan membawa kami berlayar menuju Gunung Anak KIrakatau berada. 

Setelah sampai di Pantai Sari Ringgung, kami dibariskan menurut nomor bus saat berangkat tadi. Setelah mendengarkan beberapa kata sambutan dari beberapa pejabat Pemerintah Provinsi Lampung kami diminta untuk naik ke kapal kecil untuk menuju Musholla terapung. Dari sana kemudian diberangkatkan lagi menuju kapal yang akan membawa kami berlayar menuju Gunung Anak Krakatau. Ada catatan penting dari saya yang mungkin harus dibenahi oleh panitia untuk pelaksanaan event di masa yang akan datang. Panitia seharusnya menyiapkan kapal dengan kecepatan yang sama yang akan mengangkut peserta berlayar. Karena yang terjadi, rombongan kami tidak mendapat tempat di kapal cepat dan harus naik kapal kayu yang berkecepatan rendah. Bila naik kapal cepat, jarak yang harus ditempuh sekitar 2 jam. Sedangkan dengan kapal kayu, jarak yang harus ditempuh menjadi 4 jam. 

Foto : Om Nduut
Jujur saya sempat kesal mengetahui perbedaan jarak tempuh ini. Bukan soal bagus atau tidaknya kapal yang kami naiki. Tapi lebih kepada perbedaan jarak. Mau kapalnya kayu kalau jarak tempuhnya sama sih saya mungkin tidak terlalu perduli. Untungnya saya bersama teman-teman blogger yang saling menguatkan dan membuat perjalanan ini menjadi santai. Maka beberapa dari kami memutuskan untuk tidur sembari membunuh waktu, sementara lainnya memilih menikmati perjalanan dari atas kapal. Ahhh.. ternyata dalam kekesalan tetap terselip bahagia.


Setetelah menikmati pelayaran selama 4 jam di atas kapal kayu, rombongan kami akhirnya tiba juga di Gunung Anak Krakatau. Rombongan lain yang sudah lebih dahulu sampai sudah terlihat berada di puncak.Rombongan kami memutuskan untuk sholat terlebih dahulu sebelum memulai pendakian ke puncak Gunung Anak Krakatau. Sedikit informasi, kita bisa numpang sholat dan buang air di depan posko Badan Konservasi Sumber Daya Alam.

Sebelum memulai pendakian, saya mau ceritain sedikit mengenai Gunung Anak Krakatau ini. Gunung Anak Krakatau yang statusnya masih aktif ini berada dalam perlindungan Badan Konservasi Sumber Daya Alam Lampung dengan status Cagar Alam Krakatau. Jadi untuk masuk ke area Gunung Anak Krakatau ini tidak bisa sembarangan. Kita harus mendapat izin terlebih dahulu. Dulunya Gunung Krakatau ini terdiri dari 3 pulau yaitu Rakata, Danan dan Perbuatan. Pada tahun 1883 terjadi letusan besar yang menghancurkan 60% tubuh Krakatau di bagian tengah dan menyisakan pulau Rakata, Pulau Sertung dan Pulau Panjang. Setelah tahun 1927 muncul Gunung Anak Krakatau yang terbentuk dari kegiatan vulkanik bawah laut. Gunung ini terus bertambah tinggi setiap tahunnya.


Perjalanan mendaki sebenarnya tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu sekitar 20 - 30 menit untuk menuju puncak pertama Gunung Anak Krakatau. Tapi tetap saja memerlukan fisik yang prima untuk berjalan melalui jalan yang menanjak ini. Sepanjang jalur yang kami lalui terbentang hamparan pasir berwarna hitam. Kami disarankan untuk memakai sepatu atau sandal gunung saat menanjak. Saya dan Indra mengisi perjalanan dengan bercanda dan bernyanyi. Dengan demikian kami menemukan bahagia kecil ditengah jalan menanjak dan panas yang cukup terik.

Sekali waktu bila lelah benar-benar datang melanda, saya mencoba mencari alasan untuk menutupi rasa malu pada teman-teman karena harus berhenti berjalan. Dan alasan paling masuk akal adalah berfoto selfie. Hahahahaha... Tapi untungnya alasan ini cukup masuk akal dan bisa diterima. Buktinya beberapa teman-teman lain ikutan menghentikan langkah untuk foto-foto selfie juga. Jadi aman lah yah. Hahahaha.. Dari kejauhan saya melihat rombongan yang sudah lebih dahulu sampai dengan menggunakan kapal cepat. Keriaan mereka berfoto dari puncak membuat semangat saya bangkit lagi untuk segera tiba di sana. Ahhh.. tunggu saya..


Ada beberapa pemberhentian yang bisa dimanfaatkan untuk melepas lelah bagi para pendaki. Setiap pemberhentian rasanya sayang untuk dilewatkan tanpa diabadikan. saya memilih untuk membuat video di setiap pemberhentian. Saat pemberhentian kedua menjelang puncak pertama, saya suka dengan pemandangan menghadap laut yang sudah terlihat. Rasanya ingin lebih lama berhenti bila tidak ingat bahwa hari sudah semakin sore.

Ada satu spot menjelang puncak yang saya sempatkan untuk naik sedikit dan membuat beberapa foto di sana. Ini adalah gundukan lava yang sudah mengeras dan entah kenapa saya suka sekali berdiri di atas nya dengan latar belakang Pulau Rakata dan laut di sekitarnya.


Dan akhirnya sampai juga di puncak pertama Gunung Anak Krakatau atau biasa disebut Sadel Anak Krakatau. Para pendaki memang hanya diperbolehkan naik sampai dititik ini mengingat status Gunung Anak Krakatau yang masih aktif. Pemadangan dari atas puncak pertama ini kece banget. Hilang semua lelah dan penat karena perjalanan mendaki yang baru saja dilalui.

Dan setelah mengucap syukur karena berhasil sampai di puncak, maka yang harus dilakukan berikutnya adalah mengabadikan banyak foto dan foto diri sebanyak mungkin. Ya kali sudah jauh-jauh dan capek mendaki trus langsung turun. Sementara itu, rombongan yang sudah sampai lebih dahulu diminta untuk segera turun. Yang bikin kesal adalah peringatan itu termasuk untuk kami yang baru saja sampai. Masa kami yang baru sampai sudah langsung di suruh turun. jauh-jauh lho datang dan mendakinya. Dan ini jadi catatan saya berikutnya untuk panitia penyelenggara acara. Tapi untungnya pemandangan yang indah ini bisa meredam rasa kesal saya. Yah setidaknya saya sampai di atas dan bisa menikmati pemandangan indah ini. 

Foto : Travelerien
Perjalanan turun memang selalu lebih cepat dari perjalanan naik. Ya iyalaaah... Ngga pakai istirahat mah juga sanggup kalo turun mah. Hahahahaha... Hanya perlu menjaga keseimbangan supaya tidak turun dalam posisi berguling-guling. Dan begitu sampai di bawah, sempat jeprat-jepret sebentar mengabadikan pendakian yang baru saja kami lakukan. Hari semakin sore, dan kami harus segera kembali melakukan pelayaran menuju Lampung. Bayang-bayang pelayaran naik kapal kayu selama 4 jam kembali menghantui benak saya. Dan sebuah kejadian dalam perjalanan pulang tersebut menjadi sebuah memori tak terlupakan dalam hidup saya. Semoga kritik dan saran yang sudah disampaikan teman-teman blogger yang jalan bersama saya kepada panitia menjadi sebuah catatan penting yang tidak boleh terulang lagi dalam penyelenggaraan berikutnya. Biarlah saya hanya mengenang dan menuliskan kisah pendakian yang indah-indah saja dalam blog ini...