04 February 2018

Film Dilan 1990 : Di Balik Sebuah Kesuksesan


Jujur saja, sampai film Dilan 1990 tembus 3 juta penonton, saya masih belum membaca satupun novel karya Pidi Baiq yang sukses di pasaran ini. Yang saya tahu, banyak sekali orang yang sudah membaca novel ini dan punya imajinasi tentang sosok Dilan dan Milea yang terpatri dalam benak mereka. Tidak heran begitu banyak orang yang bersuka cita saat mendengar kabar novel Dilan 1990 akan segera dibuatkan versi layar lebarnya. Imajinasi yang tergambar dalam benak para pembaca pun menyebutkan beberapa nama yang menurut mereka paling pantas untuk memerankan tokoh Dilan dan Milea. Nah, hari ini saya mau mengulas sedikit mengenai fenomena Dilan 1990 yang sepertinya sedang trend saat ini. 

Ketika akhirnya Max Pictures merilis nama-nama pemeran film Dilan 1990, suka cita berganti rasa kecewa. Bahkan tidak sedikit yang meragukan kalau film Dilan 1990 akan sukses meraih penonton. Kekecewaan para pembaca novel sedikit banyak tertuju pada Iqbaal Ramadhan sang pemeran Dilan. Saya sempat merangkum beberapa kekecewaan orang-orang di lingkungan terdekat saya mengenai pemeran karakter Dilan ini. Menurut mereka, Iqbaal terlalu manis untuk menjadi sosok Dilan sang Panglima Tempur. Iqbaal juga dinilai kurang macho dan beberapa pendapat lainnya. Akan tetapi keputusan sudah dibuat, dan proses syuting tentu saja harus berjalan. Mereka tetap semangat maju walaupun tak sedikit yang mengatakan tidak akan menonton film Dilan bila tayang nanti. 

Sewaktu trailer film Dilan keluar pun, cukup banyak yang semakin meragukan kualitas akting para pemeran film Dilan. Tapi poin plus yang saya lihat adalah, tidak ada yang menggubris suara-suara sumbang para kritikus. Film belum tayang dan terlalu dini untuk menilai keseluruhan film dari sebuah cuplikan trailer yang hanya berdurasi beberapa menit. Saya sendiri yang biasanya sudah bisa memutuskan untuk menonton sebuah film dari trailer yang saya lihat, kali ini belum bisa membuat keputusan apakah akan menonton atau tidak. 

Dan ketika akhirnya film Dilan tayang di bioskop mulai tanggal 25 Januari 2018 yang lalu, saya hampir tidak mendengar suara-suara sumbang yang sebelumnya cukup terdengar. Beberapa teman-teman saya yang lumayan kritis terhadap film-film Indonesia pun mengatakan kalau film Dilan 1990 ini adalah salah satu film Indonesia yang wajib tonton tahun ini. Bahkan beberapa teman penggemar novel Dilan mengatakan kalau film Dilan ini adalah film adaptasi novel terbaik yang pernah dia tonton. Semakin menarik karena saya sempat membaca beberapa permintaan maaf dari para penonton yang sempat meragukan akting Iqbaal sang pemeran Dilan. Oke, komentar-komentar berbalik arah inilah yang membuat saya mantap melangkahkan kaki ke bioskop meskipun sendirian. 

Kisah cinta Dilan dan Milea ini bisa dibilang adalah kisah cinta klasik era tahun 90an yang lumayan dekat dengan keseharian saya saat zaman SMA dulu. Belum kenal gadget, pacaran lewat telpon umum, melihat teman-teman SMA yang datang ke sekolah hanya membawa satu atau dua buku yang diselipkan di kantong belakang (kebetulan saya tipikal Nandan yang selalu bawa buku komplit dalam tas), atau memanggil beberapa guru killer dengan julukan atau langsung sebut nama. Belum lagi kelakuan bolos upacara hari Senin yang juga pernah saya lakukan. Benar-benar membangkitkan memori masa SMA dulu. Walaupun klasik, tapi saya yakin kisah cinta Dilan dan Milea ini tetap dapat diikuti oleh kids jaman now. Hampir 2 jam durasi film, saya tetap bertahan menikmati semua alur yang disajikan. Apalagi banyak sekali kutipan-kutipan yang mengundang gelak tawa dan ternyata sukses jadi viral di media sosial. 

Intinya saya puas menghabiskan waktu selama hampir 2 jam di dalam bioskop. Rasanya lumayan rugi kalau sampai kebelet buang air saat film berlangsung. Salut buat kerja keras semua pendukung film yang bisa menghadirkan sebuah karya berkualitas yang benar-benar memberi hiburan segar. Salut juga untuk Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla dan semua pemeran yang menjawab keraguan banyak orang dengan kualitas akting yang memukau. Seperti itulah seharusnya aktor dan aktris yang hebat ! Semoga Film Dilan 1991 dan Milea segera hadir di layar bioskop, karena saya pasti akan langsung booking seat untuk menonton di hari pertama. Buat yang ternyata masih juga belum puas dengan film ini, tidak mencintai bukan berarti harus membenci, bukan ? Sukses terus film Indonesia.

12 comments:

  1. baca review orang2 pada bagus2, bikin kepengen nonton ajaa rie...hahaha..

    ReplyDelete
  2. Aku udah nonton. Dan....sukaaak. Keren sih menurut gue ya meski ada beberapa kekurangannya juga. Tapi Iqbal so good kok jadi Dilan. Memang Dilan seperti itu. Yang lain biarkan sirik. Tidak mencintai bukan berarti membenci, bukan? :D

    ReplyDelete
  3. Tolle Infos! Ich bin kürzlich auf Ihren Blog gestoßen und habe mitgelesen. Ich dachte, ich würde meinen ersten Kommentar hinterlassen. Ich weiß nicht, was ich sagen soll, außer dass ich es getan habe

    OBAT PENGHANCUR MIOM

    OBAT JANTUNG BOCOR

    OBAT VITILIGO

    OBAT UNTUK PROMIL

    OBAT MENOPAUSE DINI

    OBAT PELANCAR HAID

    ReplyDelete
  4. Nikmati aja film yang dilihat, itu akan membuat kita fokus tentang apa yang ingin disampaikan di dalam film itu... saya blm lihat nih mas qoiq

    ReplyDelete
  5. Penontonnya ada dari kalangan tante karena mereka pengin bernoslatgia ke tahun 90-an. :))))

    ReplyDelete
  6. belum nonton euy hahahaa..

    ReplyDelete
  7. Belum nonton
    Soalnya anti mainstream

    Nontonnya nanti pas filmnya udah nggak happening aja hahahha
    Tapi terlalu banyak spoiler juga sih, jadi gak nafsu lagi nontonnya

    ReplyDelete
  8. Aku blm nonton sampe skr, tp e booknya udh punya sih, cm blm sempet baca :p. Kyknya menilai dari bukunya aja lah, sambil ngebayangin muka iqbaal yg menjadi dilan :p

    ReplyDelete
  9. Aku nonton dilan malah di FB
    Ada yang share wkwk

    ReplyDelete
  10. Ikutan nongkrong yuk , bisa nonbar bareng kawan n seru seruan bareng F4n588371n9 :)

    ReplyDelete

Terima kasih....